
...***...
Gayatri Sadubi menyambut kedatangan Raden Abinaya Agra dengan tatapan penuh kebencian yang sangat mendalam. Hatinya sangat panas, dan seakan-akan ia hendak menerkam Raden Abinaya Agra.
"Kau sudah kembali? Apakah kau tidak membawakan belanjanya?."
"Maafkan hamba Gusti putri, hamba tidak bisa-."
Plak!.
Sebuah tamparan keras mendarat begitu saja di pipinya. Sakit?. Memang sakit yang ia rasakan saat itu. Bukan hanya sakit fisik saja, akan tetapi pada saat itu sakit hatinya yang mendesak dadanya. Dadanya yang terlihat kembang kempis menahan perasaan amarah yang ada di dalam hatinya saat itu.
"Budak kurang ajar! Seperti itu saja kau tidak becus sama sekali!." Bentaknya dengan suara yang sangat keras. "Kalau begitu kau tidak usah makan hari ini!."
"Oh? Jangan seperti itu Gusti putri." Bibi Arsih sangat cemas dengan keadaan Raden Abinaya Agra yang diperlakukan seperti itu. "Aden tidak sengaja melakukan itu."
"Diam kau orang tua!." Bentaknya sambil mendorong bibi Arsih, hingga wanita setengah baya itu terjerembab.
"Bibi!." Dengan cepat Raden Abinaya Agra mendekati bibi Arsih, ia tampak sangat gemas dengan keadaan pengasuhnya.
"Heh! Kalian ini sama saja! Hanya bisa membuat orang lain murka saja!." Ia lepaskan amarah yang ada di dalam hatinya saat itu, hatinya yang sangat membenci mereka. "Kalian akan mendapatkan hukuman dariku setelah ini." Setelah berkata seperti itu ia segera pergi dari sana. Ia sangat muak dengan mereka yang selalu saja membuat ia merasa sangat kesal, keluar emosinya begitu saja ketika melihat wajah mereka.
"Bibi. Apakah bibi baik-baik saja?."
"Hamba baik-baik saja aden."
"Mari berdiri bi."
"Terima kasih Aden."
Setelah itu mereka juga pergi dari sana, karena mereka masih memiliki pekerjaan yang harus segera dikerjakan?.
"Sampai kapan aku harus melalui ini semua dengan perasaan yang tabah?." Dalam hati Raden Abinaya Agra sangat tidak kuat untuk menerima kenyataan itu. "Apakah aku terlahir sebagai orang yang akan menanggung penderitaan?." Dalam hatinya sangat gelisah dengan nasib malang yang menimpa dirinya.
...***...
Di istana.
Rasa belum puas masih menyelimuti hati Prabu Sigra Sadubi. Sebenarnya ia masih sangat keberatan ketika ia melepaskan Raden Abinaya Agra. Suasana hatinya sangat terbakar begitu saja, harusnya ia masih melampiaskan semua kemarahan yang ia rasakan saat itu pada Raden Abinaya Agra.
"Apakah Gusti Putri yakin? Jika membebaskannya begitu saja?."
"Aku tidak punya pilihan lain, aku takut rakyat akan beranggapan buruk tentang aku."
"Kalau begitu kita harus merencanakan hal yang lain yang bisa kita gunakan untuk memancing mereka agar membenci si budak itu Gusti prabu."
"Ya, tentu saja itu harus."
"Kalau begitu kita harus membuat nimas gayatri semakin membencinya."
"Ya, kita siksa dia habis-habisan."
Apakah hanya itu saja tujuan mereka saat itu?. Apakah mereka tidak mau memikirkan perubahan yang akan mereka lakukan pada kehidupan rakyat?. Apakah dendam saja yang mereka pikirkan saat itu?. Tidak ada yang mengetahuinya.
...***...
"Raden abinaya agra, apa yang Raden lakukan saat ini? Apakah Raden baik-baik saja? Apakah adikku menyiksamu setiap harinya?." Dalam hatinya sangat gelisah memikirkan itu semua. "Kenapa kau harus mengalami nasib yang sangat buruk seperti itu?." Dalam hatinya sangat kasihan dengan apa yang telah dialami oleh Raden Abinaya Agra. Hatinya menjerit pilu, rasa iba telah membalur rasa perasaanya yang sangat sensitif.
Pada saat itu ia ingat bagaimana perpisahan yang ia rasakan ketika berpisah dengan Raden Abinaya Agra. Perasaan sedih telah membasahi hatinya yang sakit, perih, terluka karena keterpaksaan.
Kembali ke masa itu.
"Raden."
Deg!.
Raden Abinaya Agra sempat terpaku sejenak di tempatnya karena ia saat itu berharap seseorang yang memanggilnya adalah orang yang ingin ia lihat selama ini.
"Raden." Ia peluk dengan sangat erat Raden Abinaya Agra dari belakang. "Kenapa Raden melakukan pekerjaan itu? Ini bukanlah pekerjaan yang harus Raden lakukan." Suaranya terdengar sesegukan.
Raden Abinaya Agra tersenyum kecil, meskipun hatinya terasa sangat sakit, sesak, dan sangat sedih. Ia berusaha untuk menahan perasaan itu agar tidak terlihat lemah.
"Kenapa nimas malah berada di sini? Nanti apa yang akan orang-orang itu lakukan kepada nimas jika melihat nimas bersama saya? Mereka pasti akan mengadu ke istana." Ada perasaan sesaknya ia rasakan pada saat itu.
"Akan saya bunuh dia, sebelum dia sampai ke istana."
"Nimas jangan melakukan hal-hal yang berbahaya, saya tidak ingin nimas mengalami kesulitan nantinya."
Pada saat itu mereka tidak dapat lagi menahan perasaan cemas yang ada di dalam diri mereka, serta air mata yang menetes begitu saja.
"Saya harus melakukan itu, saya tidak tega melihat Raden diperlakukan seperti itu oleh mereka, mereka berhati binatang, hanya karena Raden keluarga raja yang kejam, tapi bukan berarti Raden juga merupakan orang yang kejam." Air matanya mengalir begitu saja ketika ia mengatakan kalimat itu. Hatinya benar-benar sangat, sehingga ia tidak dapat lagi menahan dirinya. Mereka saling melepaskan pelukan, saling bertatapan. Melihat air mata yang membasahi pipi mereka, tanda kesedihan telah melanda diri mereka.
"Terima kasih karena nimas selalu baik kepada saya." Raden Abinaya Agra sangat tersentuh dengan kalimat itu.
"Untuk sementara waktu Raden bersabarlah di sini." Ia usap air mata Raden Abinaya Agra dengan pelan. "Saya akan pergi belajar meningkatkan ilmu kanuragan yang lebih tinggi lagi, supaya saya bisa melindungi Raden."
"Nimas jangan terlalu memaksakan diri, saya masih bisa melindungi diri."
"Tidak, itu masih belum cukup, saya bersumpah akan menjaga Raden dengan sepenuh hati." Dengan senyuman yang sangat perih ia berkata seperti itu. Baginya Raden Abinaya Agra adalah segalanya, sehingga ia rela akan melakukan apapun untuk melindungi Raden Abinaya Agra.
Kembali ke masa ini.
"Tidak baik seroang wanita melamun terlalu jauh."
"Guru?." Ia sedikit terkejut dengan kehadiran gurunya.
"Cinta memang sangat menyakitkan, tapi kau harus bisa mengimbangi perasaan itu dengan sangat baik."
Tidak ada tanggapan darinya, ia hanya diam saja.
"Kau boleh berjuang demi orang yang kau cintai, tapi kau harus ingat, cinta itu akan selalu melahirkan kebencian, jadi ketika kau mencintai seseorang, maka kau harus siap dibenci oleh orang lain, atau kau sendiri yang akan benci pada orang lain." Setelah berkata seperti itu ia pergi begitu saja dari tempat itu.
Next halaman.
...***...