
...***...
Raden Abinaya Agra sama sekali tidak mengerti dengan apa yang telah dikatakan oleh Hasra.
"Apakah begitu berat masalah yang dihadapi oleh kerajaan ini sehingga tidak ada satupun orang yang berani menentang ayahanda Prabu?." Setidaknya itulah yang ada di dalam pikirannya.
BRAK!.
Terdengar suara gebrakan pintu yang sangat keras yang dibuka oleh seseorang dengan amukan kemarahan yang membara.
Deg!.
"Yunda?." Raden Abinaya Agra tidak menyangka jika kakak perempuannya yang masuk dengan cara yang tidak biasa. "Apakah karena itu dia pergi meninggalkan ruangan ini, dan tidak mau melanjutkan ceritanya?." Dalam hatinya tiba-tiba saja teringat alasan kenapa Hasra pergi meninggalkan ruangan itu.
"Kenapa kau terlihat sangat terkejut seperti itu rayi? Apakah aku terlihat menyeramkan di matamu?!." Putri Gantari Wardani terlihat sangat jengkel dengan tatapan adiknya yang seperti itu.
"Maafkan aku yunda, aku hanya terkejut saja." Raden Abinaya Agra terlihat sangat gugup. "Bukankah ini adalah wisma kediaman putra mahkota? Tapi kenapa yunda dengan sangat mudah hanya masuk ke dalam kamar laki-laki?!." Raden Abinaya Agra berusaha untuk menutupi perasaan yang ia rasakan. "Bagaimana jika aku sedang berganti pakaian? Atau sedang memeriksa anggota tubuh yang terluka? Apa yang akan terjadi jika yunda melihat hal yang belum pantas?!." Raden Abinaya Agra berusaha mencari cara untuk mengusir kakaknya.
Akan tetapi sepertinya ucapan Raden Abinaya Agra sama sekali tidak terpengaruh pada kakaknya itu. "Kau jangan berkata yang tidak-tidak, aku tidak akan melihat hal-hal yang aneh yang kau katakan itu." Putri gantari Wardani menyeret tangan Raden Abinaya Agra untuk keluar.
"Memangnya yunda mau mengajak aku ke mana? Kenapa aku harus diseret seperti ini?! Aku bisa berjalan sendiri tanpa harus diseret!." Ia sangat kesal dengan sikap kakak perempuannya itu.
BLETAK!.
"Sakit!." Raden Abinaya Agra merintih sakit karena mendapatkan jitakan keras di kepalanya. "Sekarang yunda malah melakukan kekerasan kepadaku! Kejam!." Raden Abinaya Agra semakin kesal dengan kakaknya itu.
"Diam kau abinaya agra! Apakah kau lupa? Bahwa hari ini harusnya kau latihan memanah, dan juga latihan menggunakan pedang yang baik!." Sorot matanya terlihat sangat tajam dan seakan-akan hendak memangsa Raden Abinaya agra. "Tapi kenapa kau sama sekali tidak datang? Apakah kau sengaja membuat aku marah?." Dengan perasaan yang sangat kesal ia mencengkram kuat kepala adiknya.
"Sakit! Sakit! Lepaskan! Maafkan aku! Maafkan aku! Aku yang salah!." Raden Abinaya Agra mencoba untuk melepaskan cengkraman tangan kakaknya yang begitu kuat. "Kepalaku sangat sakit sekali! Lepaskan aku yunda!." Raden Abinaya Agra mencoba untuk memberontak.
"Ini adalah hukuman untukmu. Karena kau telah berani melupakan hal yang wajib seperti itu." Putri Gantari Wardani sepertinya tidak memberi ampun kepada adiknya itu.
...***...
Di sebuah tempat makan yang lumayan besar di kota Raja. Sigra Sadubi dan adiknya Gayatri Sadubi telah berhasil menyamar dan mendapatkan sebuah kedai yang sangat bagus untuk berjualan.
"Sepertinya kebaikan memang berpihak kepada kita semua kakang, sehingga kita mendapatkan tempat yang bagus." Terlihat senyuman manis yang menghiasi wajah cantiknya.
"Orang baik akan mendapatkan tempat yang baik." Ia menatap semua ruangan yang lumayan bagus itu.
"Tapi untuk saat ini tempat yang kita diami ini tidak bisa kita anggap sebagai tempat yang baik, karena tempat ini masih dipimpin oleh Raja yang sangat kejam." Suasana hatinya pada saat itu benar-benar sangat panas.
"Kita harus melakukan pembalasan terhadap Raja busuk itu, karena dia telah membunuh orang-orang yang kita cintai." Hatinya menyimpan bara api dendam yang sangat membara dan ia hampir saja tidak dapat mengendalikan dirinya untuk tidak melakukan balas dendam itu.
"Aku akan membantu kakang membunuh raja itu jika diperlukan, aku tidak akan ragu lagi untuk membalaskan dendam kita terhadapnya."
"Kau tidak perlu mengotori tanganmu untuk itu, kau hanya perlu menjaga keledai ini saja, aku yang akan menggunakan tanganku ini untuk menghentikan Raja busuk itu." Itulah janjinya saat itu. Janjinya untuk membuat keadaan lebih baik. "Kau akan menjadi mata-mata yang baik, menentukan di mana saja lokasi yang bagus untuk keluar masuk ke dalam istana, ya?."
Untuk sesaat ia terdiam karena tidak menduga tugasnya lebih berat dari yang lain. "Baiklah, jika memang seperti itu, aku akan menuruti apapun yang kakang katakan."
"Baguslah kalau begitu." Ia hanya tidak ingin adik perempuannya terluka.
...***...
Sementara itu di alun-alun istana.
Pada saat itu mereka semua menyaksikan bagaimana keadaan alun-alun istana yang menjadi tempat penyiksaan yang paling kejam. Sekitar 20 orang pemuda yang diikat di pasak tiang dalam keadaan setengah telanjang. Namun yang lebih mengerikan adalah mereka dicambuk dengan sangat kuat, sehingga terdengar suara teriakan yang sangat memilukan. Mereka semua rasanya tidak sanggup untuk melihat dan mendengarkan suara teriakan-teriakan yang menyayat hati.
"Dengar kalian semuanya! Mereka adalah kelompok pemberontak yang tidak menginginkan aturan yang telah ditetapkan Gusti Prabu Maharaja abinaya bagaskara!." Dengan suara yang sangat keras ia berkata seperti itu. "Maka inilah yang akan kalian dapatkan!.
"Mengerikan sekali, mereka akan mendapatkan hukuman mati."
"Mereka tidak akan selamat dari hukuman mati, hanya kematian yang akan menunggu mereka."
"Hanya kematian yang akan membebaskan mereka."
Itulah bisikan-bisikan mereka saat melihat keadaan yang seperti itu. Meskipun ada perasaan iba, simpati, dan rasa prihatin?. Akan tetapi mereka sama sekali tidak bisa membantu 20 orang pemberontak itu. Malahan Mereka akan ikut terbunuh jika berani melakukan itu jika mereka berani membebaskan para pemuda itu.
"Sebaiknya kalian jangan pernah berniat untuk melakukan pemberontakan! Karena kalian akan berakhir seperti ini!." Ia terlihat tersenyum lembut. Namun, senyuman itu terlihat mengerikan bagi mereka yang menyaksikan itu.
"Terkutuklah kalian! Kenapa Dewa tak Agung malah berpihak kepada orang-orang yang jahat seperti ini?! Kenapa Dewa tak Agung memilih orang-orang seperti ini untuk memimpin negeri kita ini?!."
"Dewata yang agung kami cukup lama menderita dengan apa yang telah mereka lakukan kepada kami! Cabut saja nyawa mereka yang jahat ini!. Jangan berikan kekuasaan negeri ini kepada orang-orang yang jahat!."
Setidaknya itulah yang ada di dalam hati mereka, setiap hari mereka mengutuk raja dan bawahannya yang bersikap kejam. Baik itu secara fisik dan batin?. Mereka semua benar-benar menderita dengan pemimpin yang seperti itu. Dalam hati mereka sangat sedih merintih dengan perilaku para orang-orang Agung. Menangis darah ketika salah satu dari keluarga mereka dijadikan budak untuk bekerja di sawah, ladang yang dikuasai oleh pemerintah. Negeri ini memang sangat kejam kepada orang-orang yang hidup di bawah.
"Lindungilah kami dari orang-orang yang kejam ini! Ambil saja nyawa mereka yang memiliki sikap kejam!." Setiap hari mereka berdoa seperti itu. Akan tetapi pada saat itu doa mereka belum terkabulkan juga, mereka sangat lelah hidup di bawah tekanan penderitaan yang tiada hentinya.
...***...