
...***...
Raden Abinaya Agra saat itu sedang memperhatikan bagaimana mereka semua. Bekerja dengan sungguh-sungguh, saling menyapa satu sama lain.
"Keramahan yang sangat luar biasa sekali, aku tidak pernah melihat hal yang seperti ini sebelumnya." Dalam hatinya sangat senang melihat itu.
"Hei budak! Cepat kerjakan tugasmu dengan baik! Apakah kau tidak ingin mendapatkan hukuman yang lebih berat lagi?!." Seorang laki-laki berwajah gahar menegurnya.
"Maafkan saya." Raden Abinaya Agra segera pergi mengerjakan tugasnya.
Saat ini ia sedang berada di desa Tiga Daun, karena ia mendapatkan hukuman?. Hukuman apa yang diterima Raden Abinaya Agra?. Kesalahan apa yang telah ia perbuat sehingga ia mendapatkan hukuman?. Simak dengan baik kisahnya.
Pagi itu, ada dua orang prajurit yang datang ke kediaman Putri Gayatri Sadubi.
"Hormat kami Gusti Putri." Keduanya memberi hormat.
"Ada apa prajurit? Apakah ada hal yang penting yang ingin kalian sampaikan kepadaku? Sehingga kalian datang ke sini?." Ia meneliti dengan baik bagaimana prajurit itu datang.
"Mohon ampun Gusti, kami diperintahkan Gusti Prabu untuk membawa budak ke istana."
"Membawa budak ke istana? Untuk apa?."
"Kami juga tidak mengetahuinya Gusti, tapi Gusti Prabu menyuruh kamu untuk membawanya sekarang."
Gayatri Sadubi terlihat sedang berpikir. "Apa yang direncanakan raka Prabu? Untuk apa dia memanggil budak?." Dalam hatinya merasa bingung dengan sikap kakaknya. Ia menghela nafasnya dengan pelan. "Sekarang dia ada di belakang, bawa saja dia." Hanya itu saja tanggapannya.
"Terima kasih Gusti Putri." Kedua prajurit itu langsung menuju ke belakang, tentu saja mereka ingin membawa Raden Abinaya Agra ke istana.
Sementara itu di istana itu sendiri?.
"Apa yang Gusti pikirkan sebenarnya? Kenapa Gusti Prabu memanggil budak untuk datang ke istana?."
"Benar Gusti Prabu, tidak biasanya Gusti memanggilnya, apakah ada sesuatu yang sedang Gusti Prabu pikirkan?."
"Kita harus waspada, bisa jadi ada beberapa orang yang merasa simpati padanya, kemudian dia membantunya untuk melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan kita Gusti Prabu."
Mereka semua tampak sangat cemas dengan masalah itu, ada ketakutan-ketakutan yang menghantui pikiran serta hati mereka.
"Kalian tenang saja, itu tidak akan mungkin terjadi, karena aku akan memberikan hukuman pada siapa saja yang berani membantunya." Sang Prabu terlihat sangat tidak peduli. "Beri hukuman yang sangat berat kepada siapa saja yang berani membantunya, aku sangat yakin tidak ada yang berani membantunya."
"Ya, hamba rasa itu dapat mengurangi kemungkinan terburuknya Gusti Prabu."
"Hamba rasa mengancam lebih baik dari pada meminta mereka mengawasinya Gusti Prabu."
Mereka terlihat sangat lega, karena mereka tidak ingin ada yang membantu Raden Abinaya Agra dalam bentuk apapun. Mereka benar-benar ingin menyiksa Raden Abinaya Agra sampai mati?.
"Hamba menghadap Gusti Prabu, junjungan yang hamba hormati." Raden Abinaya Agra memberi hormat, begitu ia sampai di istana.
"Aku terima salam hormatmu wahai orang terhina." Balasnya menatap muak pada Raden Abinaya Agra, ia yang memerintahkan salam seperti itu. "Aku hanya memanggil budak, kenapa kau datang ke sini adikku gayatri, apa yang kau inginkan dengan ikut dengannya?."
"Maafkan saya raka Prabu, saya hanya penasaran saja, kenapa raka Prabu malah memanggil budak? Apakah raka Prabu memiliki kepentingan yang khusus padanya?." Terlihat sangat jelas bagaimana perasaan penasaran yang menghantui pikirannya.
"Aku hendak memberikan hukuman padanya, dia akan aku kirim ke desa tiga daun, aku masih belum memaafkan atas apa yang telah dia lakukan di pasar kota raja." Itulah jawab sang Prabu.
"Memberikan hukuman?." Gayatri Sadubi terlihat sangat keberatan. "Jika raka Prabu memberikan hukuman padanya, lantas siapa yang akan menyelesaikan pekerjaan di rumah? Apakah raka Prabu lupa? Jika yang mengerjakan itu semua adalah budak ini." Seakan-akan ia tidak terima dengan hukuman itu.
"Aku tahu kau sangat bergantung padanya, tapi kali ini aku memang ingin mengutusnya." Balas Prabu Sigra Sadubi. "Jika masalah rumah mu kau tidak usah cemas, karena aku akan memerintahkan orang suruhanku untuk mengerjakan itu semua, bahkan lebih cekatan dari pada budakmu itu."
"Tapi raka Prabu?."
"Atau jangan-jangan kau memang tidak ingin berpisah dengan si budak? Atau jangan-jangan kau memang telah jatuh hati padanya?."
"Mana mungkin itu terjadi! Bahkan selama pernikahan kami, aku sama sekali tidak pernah sudi untuk disentuhnya!." Tiba-tiba saja ia mengeluarkan amarah yang ia rasakan, sehingga ia hampir saja tidak bisa mengendalikan kata-katanya agar tetap bersikap sopan.
"Bagus kalau begitu, tidak ada masalah lagi, jadi biarkan saja budak itu pergi ke sana." Prabu Sigra Sadubi tersenyum kecil. "Lagi pula dia tidak akan berguna untukmu, dia hanyalah pajangan saja untukmu, tidak berguna juga sebagai suamimu." Lanjutnya.
Deg!.
Raden Abinaya Agra hanya menelan pahit ucapan yang sangat menyakitkan itu. "Ya, aku memang tidak berguna." Dalam hatinya hanya mencoba menahan perasaan sakit yang membuat ia sesak.
Gayatri Sadubi tidak lagi mempermasalahkan itu. "Bagus kalau dia pergi, si cacat buntung itu juga hanya mempermalukan aku saja." Dalam hatinya merasa terhina karena menikah dengan Raden Abinaya Agra.
"Kalau begitu berangkatlah malam ini, aku telah menyiapkan prajurit yang akan mengantarmu ke sana budak."
"Sandika Gusti Prabu, terima kasih atas perlakuan baik Gusti Prabu kepada hamba." Raden Abinaya Agra kembali memberi hormat.
"Kalau begitu pergi lah kau dari sini, karena kau tidak dibutuhkan lagi di sini."
"Sandika Gusti Prabu." Raden Abinaya Agra meninggalkan tempat, ia juga tidak sanggup berlama-lama di sana. Mereka semua menatapnya dengan tatapan hina, ia adalah orang yang paling menyedihkan di negeri ini.
Kakinya melangkah meninggalkan istana yang memiliki banyak kenangan bersama keluarganya, termasuk kejadian pembantaian itu. "Yunda gantari wardani, yunda." Dalam hatinya sangat tidak kuat menahan perasaan sakit ketika mengingat bagaimana dengan sangat sadisnya mereka membunuh kakak perempuannya. "Kenapa yunda pergi meninggalkan aku dengan cara yang sangat menyakitkan? Apakah ini semua salahku karena telah membantu mereka?." Dalam hatinya merasakan perasaan yang sangat sesak luar biasa. "Rasanya aku sulit bernafas mengingat bagaimana kejadian itu." Dalam hatinya mencoba untuk menenangkan dirinya.
"Apakah dia menangis?." Dalam hati Gayatri Sadubi memperhatikan tubuh Raden Abinaya Agra yang bergetar karena menahan tangis. "Untuk apa dia menangis, apakah karena mendapatkan hukuman?." Itulah yang ia pikirkan.
"Yunda, maafkan aku, maafkan aku yunda."
Deg!.
Gayatri Sadubi terkejut ketika mendengarkan apa yang dikatakan Raden Abinaya Agra. "Jadi dia ingat pada kakaknya?." Dalam hatinya bertanya-tanya apa yang menyebabkan Raden Abinaya Agra menangis seperti itu?.
Simak terus ceritanya.
...***...