RADEN ABINAYA AGRA

RADEN ABINAYA AGRA
KEBAIKAN



...***...


Raden Abinaya Agra dan Pusara kala itu berhadapan dengan Lana Serapi yang memiliki ilmu kanuragan di atas mereka?. Namun keduanya tidak menyerah begitu saja, dengan kekuatan tenaga dalam yang mereka miliki, keduanya terus bertarung hingga Lana Serapi benar-benar kewalahan.


Duak!.


Sebuah pukulan keras didapatkan Lana Serapi di punggung kanannya, sehingga ia meringis kesakitan. Di sini lain ia sedang mencoba menghindari serangan sepakan kuat dari Raden Abinaya Agra. Saat itu ia tidak menyadari jika punggungnya terkena hantaman yang sangat kuat dari Pusara.


Duakh!.


"Eagkh!."


Teriakan kesakitan terdengar dari rintihan Lana Serapi, ia sedikit memuntahkan darah karena pukulan itu mengandung hawa tenaga dalam yang dapat merusak atau mengganggu aliran darah seseorang.


"Kegh!. " Ia segera melompat menghindari serangan berikutnya dari Raden Abinaya Agra dan Pusara.


"Kau boleh saja sombong karena memiliki ilmu kanuragan yang cukup tinggi, tapi apa kau yakin mampu mengalahkan kami berdua? Hah?!."


"Itu karena kalian bermain curang."


"Bedebah tengik! Kau yang menantang kami tadi! Kau yang bersikap jumawa! Kau yang telah membuat kami murka atas apa yang telah kau lakukan pada adikku sulasih!."


Pusara sangat terbawa amarah mendengarkan ucapan itu, ia tidak akan pernah membiarkan siapapun mencelakai adiknya.


"Heh! Lain kali aku akan datang, aku pastikan kalau aku akan membawa sulasih, dan aku pastikan dia akan menjadi istri ku."


"Kurang ajar kau! Jangan lari kau bangsat!."


"Sudahlah tuan, jangan kejar lagi, tidak ada gunanya kita mengejarnya."


"Terima kasih karena kau membantu aku, bu-."


"Kakang."


Saat itu Pusara semakin kesal karena Lana Serapi pergi meninggalkan tempat itu dengan mengatakan akan kembali untuk membawa Sulasih adiknya, namun ketika ia hendak mengejar lelaki jahat itu?. Tangannya ditahan oleh Raden Abinaya Agra.


"Apakah kau baik-baik saja adikku? Apakah kau diperlukan dengan tidak pantas oleh lelaki sinting itu?."


"Untuk saat ini aku baik-baik saja kakang, aku sangat takut sekali, dia menyerat aku seperti orang kesurupan kakang."


"Dia itu memang sinting! Akan aku bunuh dia kalau masih berani mendekatimu."


"Tapi bagaimana kakang bisa ada di sini? Bukankah kakang sedang berada di perbatasan untuk berjaga-jaga?."


"Bu-bu-, maaf Raden abinaya agra yang mengabari aku, jika kau sedang dalam masalah."


"Kakang abinaya agra mencari kakang pusara sampai ke perbatasan?."


"Itu karena saya takut nini akan selalu mengalami masalah jika saya tidak mengabari tuan pusara."


"Terima kasih karena kakang sangat peduli dengan keselamatan saya."


Sulasih sangat senang ketika kakaknya mengatakan jika Raden Abinaya Agra yang memberi kabar tentangnya. Namun saat itu Pusara dapat menangkap gelagat adiknya memiliki rasa pada Raden Abinaya Agra.


...***...


Prabu Sigra Sadubi saat itu sedang berada di sebuah tempat yang cukup sepi. Ia berhenti karena prajurit yang ia bawa terlihat kelelahan.


"Bagaimana pendapat Gusti mengenai desa-desa yang kabarnya mengirimkan keluhan ke istana? Apakah Gusti akan membantu mereka?."


"Kekayaan istana belum cukup untuk dibagi-bagikan ke desa-desa, bahkan saat ini kita hampir kekurangan bahan pangan."


"Memang laporan dari penjaga bahan pangan seperti itu, kita sedang mengalami masalah tentang itu."


"Aku sedang menjaga hubungan baik dengan beberapa pedangan yang selama ini masih setia pada kerajaan ini, semoga saja mereka mau membeli harta kotor dari peninggalan raja terkutuk itu."


"Ahahaha! Jangan berkata seperti itu Gusti, kita harus bertahan walaupun dari harta kotor, ini semua demi menjaga wibawa Gusti sebagai Raja yang telah menaklukkan raja besar."


"Kau berkata seakan-akan aku sedang mengemis pada orang yang telah mati."


...***...


Sementara itu di sebuah tempat.


Seorang pemuda yang sedang memperhatikan bagaimana orang-orang desa mengerjakan pekerjaan mereka.


"Meskipun negeri ini telah bebas dari raja kejam, namun masih saja bekerja keras demi mencari hidup."


"Memang seperti itulah hidup anak muda."


"Kakek tua? Kau mengejutkan aku."


"Kau ini berasal dari mana? Aku rasa kau bukan anak muda di desa ini."


"Meskipun kau sudah tua, tapi kau kenal anak-anak muda di sini?."


Kakek tua itu hanya tersenyum kecil saja ketika ia mendengarkan ucapan dari pemuda itu.


"Siapapun Raja yang memimpin negeri ini, beginilah kenyataan hidup ini, jadi jangan berharap hidup enak jika kau tidak berusaha dengan baik."


"Ucapanmu seperti mengandung kekecewaan orang tua."


"Dari aku muda dulu, kami terbiasa menderita, diperas membayar pajak, menjadi budak sawah, dan sekarang menjadi pengangguran tua walaupun tidak dibutuhkan lagi tenaga kerjanya karena aku sudah tua."


Pemuda itu menghela nafasnya ketika itu. "Hidup memang tidak ada yang bagus orang tau, bahkan anak muda seperti kami saja bimbang mau ke mana."


"Masa muda mu masih panjang, kenapa kau tidak mengajukan dirimu sebagai penggawa istana?."


"Aku tidak akan melakukan hal bodoh itu orang tua, tujuanku adalah menjadi raja."


"Jika kau ingin bermimpi? Maka bermimpi lah yang sewajarnya saja anak muda, jangan buat lambung tuaku ini tergelitik mendengarkan ucapanmu, ahaha!."


"Kau boleh saja tertawa orang tua, dengar saja kabar jika aku telah menjadi seorang Raja."


"Ya, ya, ya, terima kasih karena kau telah menghibur aku anak muda."


Entah kenapa pemuda itu tidak merasa tersinggung dengan ucapan kakek tua itu, ia hanya menghela nafasnya saja.


...***...


Di rumah Gayatri Sadubi.


"Ada apa Gusti Putri? Apakah Gusti Putri memanggil hamba?."


"Aku hanya ingin bertanya beberapa hal mengenai si budak."


"Mengenai budak? Memangnya apa yang ingin Gusti Putri ketahui tentang budak?."


Bibi Asih sangat terkejut mendengarnya, tidak biasanya Gayatri Sadubi menanyakan tentang Raden Abinaya Agra.


"Bukankah kau adalah orang yang telah mengasuhnya dari kecil? Apakah kau melihat dia melakukan kejahatan seperti Raja kejam itu?."


"Mohon ampun Gusti Putri, hamba senang jika Gusti bertanya seperti itu, akan hamba jawab dengan sepenuh hati."


Gayatri Sadubi terlihat sedikit bingung ketika senyuman sumringah itu terpampang jelas di wajah perempuan setengah baya itu.


"Aden sangat berbeda dari ayahandanya, bahkan Aden memiliki sifat yang sangat pengasuh kepada siapa saja, sehingga ia disayangi oleh semua orang yanga kenal dengan beliau."


"Katakan saja, aku tidak menyuruhmu untuk memujinya."


"Maafkan hamba, akan hamba ceritakan Gusti."


Bagaimana ceritanya?. Apakah akan menarik?. Temukan jawabannya.


...****...