
...***...
Pagi itu, Raden Abinaya Agra tidak menduga jika ia akan dipanggil oleh kepala desa, Tuan Darso yang bertanggung jawab atas desa itu. Tuan Darso merasa sangat penasaran, karena penduduk desa selalu membicarakan tentang Raden Abinaya Agra. Ia juga penasaran dengan pembicaraan mereka, sehingga ia memutuskan untuk bertanya langsung pada Raden Abinaya Agra.
"Hei budak! Apa yang telah kau lakukan sebenarnya pada desa ini? Kenapa mereka mendadak baik terhadap mu?."
"Saya hanya mengobati seorang anak yang sudah lama tidak bisa berjalan tuan, setelah itu saya dipanggil dukun oleh mereka."
"Kau mengobati seorang anak yang sudah lama tidak bisa berjalan?."
"Benar tuan."
Tuan Darso tampak berpikir sejenak, ia mencoba untuk membayangkan bagaimana Raden Abinaya Agra bisa mengobati seorang anak kecil yang sudah lama tidak berjalan?.
"Memangnya apa yang telah membuat anak kecil itu tidak bisa berjalan menurut pandanganmu saat itu?."
"Sebenarnya itu adalah jin sesembahan yang bersekutu dengan bapaknya tuan, karena bapaknya telah meninggal? Jadi jin itu menempel pada anaknya, sehingga anak itu tidak bisa berjalan."
"Jadi kau bisa melihat hal yang gaib?."
"Hanya sedikit tuan."
"Kau harus berhati-hati kalau begitu."
Kali ini Raden Abinaya Agra yang dibuat penasaran, ia tidak mengerti sama sekali dengan apa yang telah dikatakan oleh Tuan Darso.
"Memangnya kenapa tuan?."
"Kau ini sangat aneh sekali, apakah kau tidak diberi tahu oleh orang tuamu? Saudaramu? Atau bahkan orang-orang terdekatmu mengenai kekuatan terlarang yang dimiliki oleh keturunan abinaya?."
"Saya tidak diberitahu sama sekali tuan."
Untuk sejenak Tuan Darso menghela nafasnya. "Sedikit banyak aku mengetahui tentang garis keturunan dari Prabu abinaya, tapi aku tidak menduga akan melihat dan mendengarkan secara langsung."
"Apa maksud tuan? Saya tidak mengerti."
"Hufh!. Kalau begitu kau meminta bantuan pada desa ini, jangan sampai berita ini sampai bocor pada siapapun, jika kau sebenarnya memiliki garis keturunan raja yang akan menyelematkan kerajaan ini." Ia juga tidak menduga itu jika ia lihat dari ciri-ciri yang ia ketahui selama ini. "Jika mereka sampai mengetahui ini? Aku yakin kau benar-benar akan dihukum mati."
"Saya mohon kepada tuan, jangan sampai rahasia ini-."
"Aku hanya bisa menjaga rahasia saja, tapi aku tidak janji."
"Terima kasih tuan."
"Aku hanya tidak suka saja jika raja sigra sadubi itu memperlakukan kami sangat buruk seperti ini."
Setidaknya Raden Abinaya Agra sangat lega, ternyata Tuan Darso mau menjaga rahasia itu, meskipun ia tidak mengetahui apa permasalahan kepala desa itu dengan Prabu Sigra Sadubi.
...***...
Sementara itu di padepokan.
Saat itu Purwati Sadubi sedang bersama Senopati Taksa Wursita yang telah bertanggung atas keselamatannya selama berada di padepokan.
"Nimas."
"Paman Senopati."
"Sepertinya nimas benar-benar berlatih dengan sangat baik." Ia sangat kagum dengan itu. "Hamba selalu memperhatikan nimas dengan sangat luar biasa berlatih setiap hari."
"Itulah tujuanku datang ke sini paman, aku benar-benar ingin latihan dengan sungguh-sungguh."
"Baguslah kalau begitu, kau sangat tekun sekali."
"Memangnya paman tidak merindukan keluarga paman? Jika paman berlama-lama di sini?."
"Ini adalah perintah langsung dari Gusti Prabu sigra sadubi, jadi hamba tidak bisa membantahnya, apalagi berani meninggalkan tempat ini jika nimas tidak kembali ke istana."
"Hufh! Apakah karena raka Prabu takut? Aku akan menemui Raden abinaya agra secara diam-diam?."
Itulah yang menjadi kendalanya selama ini, jika memang ia sangat merindukan Raden Abinaya Agra, ia tidak bisa pergi sembarangan dari padepokan. Karena ada seseorang yang menjaganya, supaya tidak menemui Raden Abinaya Agra.
"Termasuk itu nimas."
"Hn, baiklah, aku akan melatih diriku dalam satu purnama lagi, aku akan kembali ke istana."
"Apakah nimas mengasihani hamba?."
"Rasanya aku tidak enak saja pada paman, karena aku paman harus pergi sejauh ini."
"Baiklah, kalau begitu sempurnakan ilmu kanuragan nimas, hamba akan dengan sabar menunggu nimas di sini juga sambil latihan."
Mungkin hanya seperti itu saja bentuk komunikasi antara keduanya, karena sebenarnya keduanya merasa bersalah atas apa keputusan yang mereka ambil.
...****...
Di istana.
Prabu Sigra Sadubi masih belum bisa tenang, jika ia masih belum menyelesaikan masalah itu. Namun di sisi lain?. Sebagai seorang raja muda? Seharusnya ia memiliki seorang pendamping.
"Sudah sepantasnya Gusti Prabu memilih satu atau dua orang putri raja, untuk menjadi permaisuri."
"Menikah ya? Rasanya aku masih belum ingin menikah sebelum dendamku ini benar-benar terbalaskan."
"Gusti Prabu telah menuntaskan dendam, tentunya dengan mengirim si budak ke desa tiga daun? Sama saja Gusti Prabu membunuhnya."
"Tapi aku ingin dia mati di tanganku, apalagi kabar yang aku dapatkan mengenai dia." Sang Prabu masih ingat dengan ucapan prajurit itu. "Dia yang bisa membuat seorang anak kecil bisa berjalan kembali, itu sangat mengganggu pikiranku." Itulah yang dirasakan sang Prabu ketika kabar itu sampai ke telinganya, ia tidak percaya itu. "Rasanya itu sangat mustahil."
"Jangan terlalu dipikirkan, semuanya hanyalah kebetulan saja." Ia mencoba untuk menenangkan hati Prabu Sigra Sadubi. "Atau dia memang seorang dukun yang selama ini bersembunyi dibalik sikap pasrah yang ia tunjukkan kepada kita semua." Entah kenapa ia malah berpikiran ke arah sana.
"Aku juga berpikir ke sana, dan bahkan masih menjadi tanda tanya bagiku, kenapa adikku purwati sadubi bisa mencintai musuhku, orang yang paling aku benci, orang yang paling ingin aku singkirkan dari dunia ini." Hatinya saat itu sedang dipenuhi oleh kebencian yang sangat dalam pada Raden Abinaya Agra.
...****...
Beda lagi dengan Gayatri Sadubi yang juga memiliki permasalah hati, ia sangat kesal karena ia masih saja belum bisa mengendalikan dirinya.
"Ada apa Gusti Putri? Kenapa Gusti Putri terlihat sangat gelisah?."
"Aku sangat kesal sekali, kenapa rumah ini mendadak sepi setelah kepergian si budak itu?."
"Mohon ampun Gusti Putri, apakah sebenarnya Gusti Putri merindukan si budak?."
"Lancang! Siapa yang merindukan orang buntung itu?! Apakah kau ingin aku hajar wanita tua?!."
"Ampuni hamba Gusti Putri, hamba tidak bermaksud lancang, hamba hanya menyimak apa yang Gusti Putri katakan saja."
"Hah! Sudahlah! Kerjakan pekerjaanmu sekarang! Aku tidak ingin kau berpikiran aneh padaku!."
"Baik Gusti."
Ya, karena perasaanya yang bercampur aduk itu? Ia mendadak lingling dengan dirinya sendiri.
"Kurang ajar! Mana mungkin aku merindukan dia! Mana mungkin itu bisa terjadi!." Hatinya sangat ingin berontak dengan perasaan aneh itu. "Dia itu bukan suamiku! Aku sama sekali tidak menganggap dia apa-apa bagiku!." Tapi rasanya itu sangat berat untuk ia rasakan. "Rasanya ini tidak adil, aku tidak mencintainya sama sekali, tapi kenapa dia malah membuat aku seperti ini setelah dia pergi?!." Berkali-kali ia meyakinkan dirinya, bahwa ia memang tidak mencintai Raden Abinaya Agra. "Apakah cinta itu sebenarnya? Kenapa aku hampir gila karena tidak melihat wajahnya? Mendengarkan suaranya yang tidak enak aku dengar?." Ia mengisi sedih, ia mengisi terisak karena hasrat rindu itu telah merasuki dirinya. Mulutnya memang mengatakan ia sangat benci pada Raden Abinaya Agra, tapi bagaimana dengan hatinya?. "Oh? Abinaya agra sialan! Kau gunakan ilmu santet apa padaku sebelum kau pergi? Kau telah membuat aku gila karena selalu membayangkan wajahmu! Membayangkan bagaimana aku selalu marah-marah padamu!." Dengan menangis meraung-raung ia mengumpat kesal, mengeluarkan semua emosi jiwanya karena perasaan hatinya yang bergejolak. "Tidak mungkin aku meminta kepada raka Prabu untuk mengembalikan budak bajing tengik itu pulang ke rumahku! Di mana harga diriku yang telah aku bangun selama ini?!." Teriaknya dengan penuh emosi yang bercampur aduk. "Hei! Hati yang malang! Bisakah kau berhenti memintanya untuk kembali?!." Teriaknya dalam tangisan penuh kesedihan.
...***...