
Kini mereka sedang menonton tv, keheningan diantara mereka membuat suasana sedikit canggung hanya suara tv yang menampilkan tayangan Bus biru yang sering dipanggil 'tayo'.
Dika yang mendapat senggolan kecil pun menoleh ke sang istri, ia menaikan sebelah alisnya pertanda ia bertanya.
Airin dengan lirikan mata yang mengarah ke anak-anak, lebih tepatnya ke arah arsy dan sean pertanda jika ia menyuruh sang suami segera menyampaikan sesuatu pada anak kembar beda gender itu.
Dan dika yang tak paham dengan kode sang istri mengernyit bingung. Airin yang sudah geram karena Dika yang tak kunjung paham pun mencubit lengan kekar sang suami dengan gemas.
"Aww shh." ringisnya sedikit berteriak dan mengundang tatapan heran dari ketiga anak-anak kecil itu.
"Ayah kenapa?." tanya el.
"Eh enggak kok sayang, ini Ayah kamu mau ngomong sesuatu sama arsy dan sean." jawabnya dengan memberikan kode pada Dika untuk mulai menjelaskan.
"iy-iya. Em gini nak." jawab dika gugup karena mendapat tatapan tajam dari airin.
"Apa?." tanya mereka (arsy dkk) kompak.
Dika menghelas nafas sebentar lalu menatap arsy juga sean secara bergantian.
"Arsy, sean." panggilnya.
"iya Yah?." tanya sean dan arsy hanya diam mendengarkan apa yang akan di katakan oleh Dika.
"Ayah sama Mamah sudah sepakat akan mengadopsi kalian jadi anak kami, menjadi saudara el." ucapnya langsung ke inti. Airin mendelik mendengar suaminya berbicara tanoa adanya basa-basi.
Dan arsy, sean yang terdiam dengan penuturan dari ayah el.
Begitupun dengan el yang matanya membulat sempurna karena sean dan arsy akan menjadi saudara tirinya, ia tersenyum sangat senang.
"YEEYY ARSY SAMA EAN JADI SAUDARA EL." teriaknya terdengar sangat bahagia.
Dika dan Airin tertawa kecil melihat el yang berteriak senang karena mendengar berita itu.
"Tidak!." satu kata jawaban dari arsy membuat suasana kembali hening yang barusan teriakan el bahagia sontak mematung mendengar penolakan dari arsy. Begitupun juga dengan sean,airin dan dika yang sama terkejutnya.
"A-arsy? K-kenapa gk mau nak?." tanya airin dengan hati-hati juga kecewa. Sedangkan dika yang masih terdiam menerima penolakan itu.
"Arsy dan sean sudah besar Mah, kami bisa melewati pahitnya kehidupan kedepannya nanti. Dan juga kami gk mau merepotkan kalian. Ayah sama Mamah sudah banyak membantu keluarga kecil kita." jawabnya dengan mengandeng tangan sean penuh percaya diri.
Begitu dewasanya pikiran Arsy yang masih 6thn.
"kita gk ngerasa di repotkan arsy, ayah sama mamah mengadopsi kalian dengan ikhlas dan juga Mamah sudah berjanji akan menjaga kalian selalau." balasnya sendu. Dan el yang matanya sudah berkaca-kaca siap menangis.
"kenapa arsy gk nerima aja? ean rasa kita masih terlalu kecil buat sendirian. Yakin mereka orang baik." batinnya kecewa karena arsy menolak pengadopsian yang dilakukan oleh orangtuanya el.
"Arsy... Nak dengerin Mamah. kamu dan ean masih kecil nak, nanti jika kalian sudah menginjak usia remaja kami janji tidak akan melarang apapun yang akan kalian lakukan. Untuk sekarang, mau ya Ayah sama Mamah adopsi itu juga buat kebaikan kamu dan ean." jelasnya panjang lebar agar gadis kecil di hadapannya ini mau untuk di adopsi.
"Makasih Yah, mah. Tapi kalian gk perlu repot-repot seperti itu walaupun itu permintaan dari Mommy sekalipun tapi keputusan arsy tetap gk bisa. Arsy ke kamar dulu. Good night" jawab arsy dengan memegang tangan airin. Lalu ia segera pergi dari sana dan berlalu menuju ke kamarnya.
Bukan, arsy bukan ke kamar nya tapi ke kamar milik sang ibu yang sekarang sudah tiada.
Tepat di meja rias terdapat bingkai foto seorang wanita dan juga laki-laki terlihat masih muda yang mengenakan pakaian seperti orang akan menikah. Di foto itu mereka terlihat sangat bahagia dan full senyum.
Bisa di pastikan bahwa itu Orang tuanya ketika masih hidup. pikirnya
Ia mengambil foto itu dipandanginya dalam diam dan tanpa disadari air mata nya meluruh membasahi pipi tirusnya yang entah sejak kapan pipi cubby nya hilang.
"Mom Dadd, Arsy rindu kalian." gumamnya pelan serasa mengelus bingkai foto itu lalu memeluknya erat. Sekuat tenaga ia menahan suara isak tangisnya, ia tak mau ada seorang pun yang mendengar juga melihat sisi rapuhnya.
Arsy menghapus air mata yang terus mengalir itu. Lalu meletakan bingkai yang ia pegang tersebut kembali ketempatnya. Ia duduk di depan cermin yang memperlihatkan tubuhnya yang sedikit kurus dan wajah yang di penuhi air mata yang masih basah.
Tak sengaja ujung matanya melihat buku berwarna pink dengan corak bunga-bunga di pinggirnya yang tertutup buku yang lain yang sedikit terbuka. Buku diary milik Mommy?. Pikirnya.
Rasa penasarannya mengebu lalu segera ia mengambilnya dan mulai membuka diary itu. Tapi ia membutuhkan kunci diary ini. Secepat kilat arsy mencari kunci diary nya yang pasti ada di sekitar buku itu, tapi 10 menit kemudian ia juga belum menemukannya.
Ia mulai menyerah mencari kunci tersebut, karena sudah mencarinya di lemari, meja, laci, bahkan bawah bantal, pun ia cari.
Ketika ia akan keluar dari kamar mommy nya ia melihat kunci pintu yang menggantung di tempatnya, dan juga terdapat 3 kunci yang salah satunya yakin itu kunci berukuran kecil untuk membuka buku diary ini. Tak sabar lalu ia mengambil dan berencana akan membacanya nanti di kamar nya. Segera ia menutup pintu dan bergegas masuk ke dalam kamar nya.
"Aku berharap semoga ada petunjuk disini. Batinnya
Lalu ia membuka halaman pertama yang bertulisan Nama ibu dan ayahnya.
ALVINO ARLAMSYAH PUTRA ROBITSON dan CARDELIA ANANDA PUTRI ROBITSON.
Yang membuatnya bingung adalah, mengapa nama belakang mereka Bernama ROBITSON?
Karena setahu mereka selama Alvin dan delia hidup mereka tidak menggunakan marga hanya inisial huruf R saja, lalu marga siapa yang mommy dan daddy pakai sekarang? apa ada seauatu yang di sembunyikan?. pikirnya berkecamuk.
apa jangan-jangan nama belakangku serta sean yang berinisial R itu berkepanjangan Robitson?, kalo memang iya, mengapa Mommy dan Daddy menyembunyikan nama mereka padahal itu hanya sebuah nama? Apa ada sesuatu dibalik marga Robitson? Dan sepertinya aku pernah mendengar marga itu.
Aku mencari tahunya. Batinnya
Setelah bertanya-tanya dengan pemikirannya ia lanjut membaca buku diary milik Mommynya. Dan itu semua membuat arsy terkejut karena sebagian dari isi diary membuat nya marah Dan di buku itu di halaman paling belakang tertera tulisan,
'Arsy, Mommy tidak tahu sampai kapan Mommy akan menemani kamu dan Ean. Setelah kamu baca ini pasti mommy sudah pergi jauh dari kalian. Maafkan Mommy dan Daddy menyembunyikan ini semua dari kalian. Mommy dan Daddy sangat bangga pada kalian yang menjadi anak yang pintar dan sangat pandai dalam akademi maupun non akademi. Tumbulah dengan menjadi wanita yang kuat, lindungi ean adik kamu ya sayang. I LOVE YOU anak-anak Mommy and Daddy.'
Tangan arsy terkepal erat mata yang menajam setajam pisau dapur setelah membaca semua diary milik Mommy nya. Ia berjanji kepada Mommy juga Daddy nya untuk melindungi sean dan tentunya membalas semua penderitaan yang dialami orang tuannya.
•
•
•
.
.
.