Queen Devil'S

Queen Devil'S
10. QD's



Sekarang arsy berada di kamarnya, ia terburu-buru ingin sekali bertanya banyak hal tentang lucifer tetapi ia tidak tahu harus memanggil nya bagaimana apa.


"Lucifer." gumamnya pelan.


Tak lama ia melihat dipantaulan kaca di meja riasnya. Matanya kini berganti warna menjadi merah darah, yang artinya tubuhnya dikuasai oleh alterego nya, lucifer.


"Ya adek manis?."


Mendengar suara berat laki-laki yang berada di dalam dirinya membuat ia mengangguk pelan.


"Aku ingin bertanya sesuatu."


"Tanyakan apa yang ingin kamu tanyakan sayang."


"apakah tidak bisa jika kau menampakkan wujud mu?."


"Bisa saja, apa kamu mau aku menampakkan diriku?."


"iya"


"Hem, baiklah. Apapun untuk mu adek manis."


Hampir 5 menit menunggu lucifer yang tak kunjung menampakan dirinya membuat arsy betanya-tanya.


"Lucifer? Apa kau tidak jadi menampakkan dirimu?."


"Aku disini adek manis."


Mendengar itu sontak membuat arsy menoleh dan benar saja ia mendapati sosok laki-laki berparas tampan tanpa mengenakan baju, hanya memakai celana kolor dan juga mulutnya yang sedang mengunyah buah apel terlihat dari buah yang di pegangnya entah ia mendapatkan nya dari mana.


Melihat sosok lucifer tanpa sadar arsy menahan nafas karena ia merasakan hawa dingin disekitar nya.


Lucifer terkekeh melihat ekspresi wajah kelinci kecilnya.


"Bernafas lah sayang."


Dengan refleks ia menghembuskan nafas nya.


Kemudian ia sedikit mendekat kearah roh lucifer yang kini menjadi alter ego nya.


"kau sudah sangat lansia tuan lucifer, tapi kenapa wajahmu masih terlihat sangat tampan? Bahkan tidak ada kerutan di dahimu, aku menjadi takut jika aku menyukai mu." ucapnya polos dan mendapat kekehan kecil dari roh tersebut.


"Hahaha... Aku tidak bisa menua my little bunny. Karena pada saat aku mati usiaku masih terbilang muda. Dan kau cukup memanggilku lucifer atau apapun itu, terserahmu."


Arsy hanya mengangguk sekilas lalu memposisikan duduk nya untuk menghadap sepenuhnya kearah lucifer.


"bisakah kita mulai sesi tanya jawabnya?."


"Apa yang ingin kau tanyakan?."


"apa kau akan membalaskan dendam mu pada seseorang itu?."


"Hm, jika kau tidak keberatan untuk aku meminjam tubuhmu guna balas dendam."


"humm."


"apa kau bisa membantuku untuk membalaskan dendam ku ke seseorang?."


"Tidak, aku hanya roh yang tinggal di tubuhmu dan kini menjadi alter ego mu. Tapi jika kau meminta aku membunuh seseorang maka dengan senang hati akan ku lakukan dengan cara menguasai tubuhmu."


"lalu... Sampai kapan kau akan tinggal di tubuh ku?."


"Hingga kau mati."


"maksud mu, jika aku mati maka kau juga akan ikut mati lagi begitu?!." ucapnya mengeryitkan dahinya.


"Iya seperti itu."


"apa kau akan terus mengambil alih tubuhku."


"Tidak, itu merepotkan. Aku akan menguasai tubuh mu jika itu sudah membuatmu sangat marah dan rasa frustasi yang berlebihan, dan disaat itu pula ketika aku menempati raga mu aku akan membunuh siapa saja yang menghalangi jalanku. Tidak akan ku biarkan mereka menahan jalanku."


"termasuk orang yang ku sayang?."


"Mungkin iya..."


"Baiklah aku mengerti.. Dan sekarang aku harus bagaimana uncle?."


"Heii, jangan panggil aku uncle." protesnya karena tidak terima dinpanggil uncle.


"lalu aku harus manggil mu apa?." ucapnya mendengus.


"mungkin dengan sebutan nama ku saja itu lebih baik." arsy mengangguk paham.


"boleh kah aku meminta pendapatmu cifer?." tanya nya ragu.


"tentu saja sayang."


"sekarang aku sudah tidak memiliki orang tua. Apa yang harus aku lakukan, aku masih terlalu kecil."


"ikut saja dengan orangtua sahabatmu, disana setidaknya sean akan lebih baik." mendengar itu arsy termenung sejenak.


"orangtua el maksut mu?."


"iya."


"Baiklah, aku dan ean akan ikut dengan mereka." ucapnya dengan tegas.


 


                                   


......................


At 19.35


Tok


Tok


Tok


"arsy ayo makan malam, di tunggu Mamah sama yang lain arsy." kata sean sesekali mengetuk pintu.


Ya memang, airin, dika serta el memutuskan untuk menginap beberapa hari, mengingat jika mereka masih terlalu kecil tanpa ada orang dewasa.


Cklek


"iya, ayo turun." ajak arsy dan menggandeng tangan sean dengan senang hati sean menyambut tangan arsy yang menggandengnya.


Ketika sudah diruang tamu, melihat Mamah dan ayah serta el yang sudah duduk manis di kursi masing-masing.


"malam all." ucap arsy dan sean serempak.


"malam asry ean." jawab mereka kompak.


"ayo kita mulai makan malamnya ya." ucap airin.


Dan diangguki oleh mereka semua.


Hingga beberapa saat mereka telah selesai makan malam bersama dan sekarang mereka sedang menonton tv dengan ketiga anak-anak yang tak lain arsy, sean juga el tengah belajar.


Walaupun tidak bisa dibilang belajar karena mereka yang tidak fokus dan lebih seru menonton televisi yang menayangkan kartun.


"ehkm." dehem arsy membuat mereka yang fokus mengalihkan pandangan mereka ke arah arsy dengan tatapan seolah bertanya.


"arsy, kenapa nak?." tanya airin bingung.


"arsy mau ngomong sesuatu sama kalian." mereka sontak membenarkan posisi duduk masing-masing.


"buat permintaan mamah sama ayah kemarin yang berniat mengadopsi arsy dan sean." mengangguk sebentar.


"arsy setuju untuk hal itu." lanjutnya.


Mereka membulatkan matanya sempurna mendengar arsy yang setuju. El yang memang sudah menyayangi arsy juga sean berteriak histeris dengan meloncat-loncat seperti kodok kepanasan.


Airin dan dika tersenyum senang.


"kamu serius arsy?." dan arsy mengangguk mantap.


"arsy gk mau ean kesepian." ujarnya dengan dalih agar sean mempunyai teman.


Grep


"makasih arsy." bisik sean dengan memeluk arsy erat.


"apapun untuk adek kecil kakak."


"umur kita sama arsy itu artinya kau juga masih kecil." ucap mendengus kesal.


"el juga mau ikut meluk arsy." ucap el merengek.


"sini el sini kita berpelukan, ayo." balas sean antusias. El pun langsung mendekat dan masuk kedalam pelukan arsy juga sean.


Airin dan dika merasa terharu dengan anak-anak mereka. Ya mulai sekarang arsy dan sean sudah menjadi bagian dari keluarga adiwijaya.


"Ayah sama Mamah gk diajak juga nih?." ujar dika seolah ia sedang merajuk.


"Hahaha." tawa ketiga anak itu juga airin pecah lalu mereka mendekati airin dan dika untuk berpelukan.


"el seneng banget tuhan, tolong selalu lindungi arsy, ean dan Ayah juga Mamah. El sayang mereka." Batinnya


"terimakasih tuhan sudah menemukan ean pada orang-orang baik. Ean sangat menyanyangi mereka."


"aku akan selalu terus melindungi kalian. Terimakasih."


"delia, alvin. Sesuai janjiku aku akan selalu menjaga arsy dan sean, aku akan selalu menyangi mereka dan tidak akan membeda-beda mereka."


"Bahagia itu sederhana, mempunyai keluarga kecil seperti ini sangat membuatku merasa paling bahagia. Ayah menyayangi kalian, ayah juga akan selalu melindungi kalian ber empat dengan nyawa ayah sendiri."





.


.


.