
At 20.27
Arsy baru saja sampai di rumah dan benar saja dugaannya, ketika ia membuka pintu rumah terlihat ibu dan sean yang sedang duduk khawatir menunggu kedatangannya.
"Arsy."
"Kakak."
Panggil keduannya pada arsy, sedangkan yang di panggil hanya menganggukkan kepalanya sekilas.
"aku pulang."
"Arsy, kenapa baru pulang sayang?." tanya sang ibu khawatir.
"Maafin Arsy Mom, tadi hujan dan arsy neduh dulu mommy." jelasnya pada sang ibu.
"Hufft.. capek banget ya?, duduk dulu yuk." tuntunya untuk duduk juga bertanya dengan wajah yang terlihat sendu.
"enggk kok mommy, arsy malah seneng bisa bantu mommy jualan." jawab arsy tersenyum berusaha menyakinkan sang mommy.
"terimakasih ya sayang." ucap delia mencium pipi arsy yang sedikit cubby.
"Cookies nya masih sisa dikit mom, terus tadi ada pelanggan yang kasih lebih. Tadi arsy hitung jumlahnya 60.000, di tambah tipe nya 200.000 jdi 260.000, coba mommy hitung ulang ya. " ujar arsy sembari memberikan hasil dagangan hari ini.
"udah bilang makasih belum ke orang yang ngasi uangnya?."
"udah mommy."
"kalo gitu tipe arsy mommy kasih lebih juga ya. Ini buat arsy." katanya memberikan uang sebanyak 45.000 pada arsy. Arsy yang melihat itu berbinar karena biasanya ia akan mendapat 25.000-30.000 itu juga dirinya sudah sangat bersyukur.
Padahal ia tak minta uang hasil dagangannya tapi sang ibu yang memaksanya untuk menerima uang tersebut, jadi mau tak mau ia menerimanya. Lumayan bisa di tabung, pikirnya.
Kata sang ibu hasilnya dibagi menjadi dua.
Dagangan arsy jika semua habis terjual bisa mencapai 80.000 rbu. Arsy akan akan mendapat uang hasil kerjanya sebanyak 25.000-30.000 rbu, semua tergantung seberapa banyak cookies yang terjual. Tapi kadang juga ia mendapat lebih dari itu karena mendapat bonus dari pembeli yang sering memberi uang lebih.
"Thankyou Mommy." ucapnya berbinar menatap sekilas uang itu lalu menoleh ke sang ibu yang terkekeh melihat raut wajah anaknya.
"sama-sama sayang."
Eerrgh
Suara sendawa itu membuyarkan pembicaraan antara ibu dan anak. Sontak mereka menoleh kearah laki-laki kecil yang memegangi perutnya serta beberapa sisa cookies menempel di sudut bibirnya.
"Ean!." tegurnya pada sang anak.
"hehehe sorry Mom?." cengirnya dengan mengangkat dua jari berbentuk V tanda maaf.
Delia dan Arsy hanya menggelengkan kepala melihat tingkat sean.
"abisnya cookiesnya enak mommy, kakak emang the best pokoknya mwhehe."
"iya dong siapa dulu yang punya resep. Arsy gitu loh." jawabnya tersenyum sombong dan menghempaskan rambutnya panjangnya kebelakang.
"iya dong kakak siapa dulu ini, sean gitu loh." balasnya menirukan gaya bicara arsy.
"Ahahahaha." tawa delia dan arsy pecah mendengar itu. Sean yang melihat mereka tertawa menjadi sangat senang. Dan ia ikut tertawa merasa sangat bahagia.
Ean akan lindungi kalian terus!!. Batinnya
"Sudah-sudah, arsy kamu mandi ya pakai air hangat biar mommy siapin dan Ean lanjut belajar gih."
"Siap mommy." jawab mereka serempak.
Setelah itu delia segera menyiapakn air hangat untuk arsy sedangkan arsy sendiri menuju kamar.
Sean? Iya melanjutkan belajarnya menuruti perkataan sang ibu.
......................
At 05.28
Arsy terbangun ketika seperti ada orang yang membangunkannya tapi di kamar nya tidak ada satu orangpun. Itu sudah biasa terjadi dan arsy tidak ambil pusing.
Ketika ia sudah selesai dengan mengumpulkan nyawanya ia melirik jam waker yang di atas meja sontak mata nya melebar.
"AKU KESIANGAN HUWAAA!." teriaknya lalu segera bergegas mandi.
Tak butuh waktu lama arsy keluar dari kamar mandi sudah lengkap dengan seragam sekolahnya. Ia membereskan kasurnya yang berantakan lalu menata buku yang berceceran tidak rapi. Setelah selesai beberes. Ia segera menghampiri ibunya di dapur tapi dugaannya salah karena ibunya ternyata tidak ada disana.
Tapi ia melihat cookies di nampan dan juga sudah dibungkus di mika dan dua kotak bekal berwarna pink dan hijau. Pink berisi cookies dan hijau berisi bekal arsy.
Mommy kemana ya? apa dikamar? .Batinnya
"Mom?, Mommy di dalam?."
Uhuk uhuk
Arsy yang mendengar suara batuk dari dalam sontak panik dan berteriak memanggil sang ibu.
"Mommy, buka pintu nya Mom?."
"mas-uk uhuk saja arsy." samar-samar arsy mendengar suara sang ibu dari dalam, langsung saja ia bergegas membuka pintu.
CEKLEK
"Mom, Mommy gpp?, arsy beliin obat ya Mom ke warung sebentar." ucapnya panik.
"enggk usah nak, Mommy gpp kok. Mommy udah minum obat juga."ucapnya parau.
"Mommy jangan sakit, arsy sedih mom!." gumam arsy sedih seraya menubrukkan badan mungilnya di badan sang ibu dan menangis pelan.
"Arsy sayang, Mommy cuma sakit biasa kok. Arsy jangan khawatir ya?." jawab delia menghapus air mata sang anak.
"Mommy harus sehat terus, arsy gk mau liat mommy kesakitan!!." ucapnya terkesan tegas tapi juga terdengar pilu.
"iya sayang, Mommy besuk pasti juga udah sembuh kok." balas delia menenangkan arsy.
Arsy hanya mengangguk.
Entah kapan aku akan tiada tapi aku mohon padamu tuhan berikan aku umur panjang, aku ingin melihat anak-anakku tumbuh dewasa. Mereka masih terlalu kecil untuk menghadapi dunia yang kejam dan aku akan sekuat tenaga menahan sakitnya penyakitku ini, tapi memohon padamu jangan ambil nyawaku dalam waktu dekat tuhan. Aku belum siap. Batinnya menangis.
Delia sekuat tenaga untuk tidak menangis dihadapan putrinya. Ia tidak mau terlihat lemah dihadapan anaknya.
"Aku ambilin Mommy sarapan sama buatin teh hangat buat Mommy sebentar." delia hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
Beberapa menit setelah mengantarkan air hangat untuk mommy nya.
"Mommy, minum dulu mom." ucap arsy sembari mendekat dan duduk di pinggir kasur dekat dengan delia.
Delia hanya menurut ia sangat merasa terharu bisa memiliki anak seperti arsy yang memiliki IQ tinggi mewarisi mendiang ayahnya, begitupun juga sean yang tak kalah pintar dari arsy.
"terimakasih sayang, kamu berangkat gih sana, nanti telat loh." titahnya pada sang anak.
"arsy mau izin dulu aja boleh ya mom? aku mau nemenin mommy di rumah, arsy takut terjadi sesuatu sama mommy." cicitnya masih terdengar delia.
"Mommy udah gpp anak mommy hm... mommy udah sembuh kok."
"kalo arsy gk sekolah kasihan sean sama el dong mereka gk ada yang jagain, kan biasanya arsy yang jaga mereka sebagai seorang kakak, yakan?." lanjutnya menyakinkan arsy dengan mimik tersenyum.
"tapi mom~ "
"Arsy nurut sama mommy ya sayang." ucap delia memotong perkataan arsy.
"Huufftt... iya mommy. Tapi mommy janji sama arsy kalo mommy harus baik-baik aja oke?!." kata arsy dengan menggenggam tangan delia erat seakan takut kehilangan.
"iya anak mommy." balas delia terkekeh.
"Yaudah, arsy berangkat ya mommy." pamitnya.
"Hati-hati sayang." pesannya dan di angguki arsy.
"Assalamualaikum Mom."
"Wa'alaikumusallam."
setelah berpamitan dengan sang mommy arsy bergegas keluar rumah mencari letak di mana sepedanya lalu mulai menaiki sepeda ontel dan menggayuhnya.
sepanjang perjalanan menuju sekolah perasaan arsy tidak bisa ia tahan, ia takut dengan keadaan sang mommy yang terlihat sudah sangat parah terlebih lagi dengan penyakit yang di derita nya bukan sekedar penyakit. Penyakit itu terkenal sangat ganas bahkan sedikit dari mereka yang selamat. Arsy mengetahuinya karena ia mencari penyakit tersebut melalui Google di ponsel milik mommy nya beberapa hari setelah sang ayah meninggal dunia. Lalu darimana arsy mengetahui penyakit apa yang di derita delia? yaitu dari surat berlogo Rumah sakit yang ia temukan di tas milik mommynya.
•
•
•
.
.
.