
Di sebuah ruangan bertema gelap terdapat laki-laki yang sedang memandangi layar komputer dan menampilkan sosok yang yang sedari beberapa tahun ia pantau.
Ia menyeringai melihat anak kecil yang sedang berlatih beladiri sendirian tampaknya dibelakang rumahnya. Gerakan beladiri yang dikuasi anak kecil itu cukup mahir membuat laki-laki itu tersenyum puas.
"tunggu waktu yang tepat bocah, paman akan segera menemui mu." ujar Mr. D
......................
Arsy yang sedang duduk melamun ditaman belakang tersentak kaget mendengar teriakan sang ibu yang memanggil dirinya.
"ARSY." teriaknya dari arah dapur.
"Yes Mom?." jawab arsy sedikit berteriak.
Ia melihat ibu nya sedang berkemas memasukan cookies-cookies itu di mika yang berukuran kecil dan di tempatkan di ranjang untuk berdang nanti.
"Mom?."
"Sini sayang."
"ini, nanti kamu jualannya seperti biasa ya sayang jangan jauh-jauh kalo gk habis gpp oke. Di bawa pulang aja, terus nanti kalo capek istrirahat dulu sebentar, jangan di paksain nanti kamu sakit." ucap delia mengelus kepala arsy.
"iya Mommy." jawabnya dengan sekali mengangguk.
"Sekali lagi Mommy minta maaf sayang, ngerepotin arsy terus." ucapnya lirih dan memeluk arsy erat.
"No Mommy, arsy seneng bisa bantu Mommy lagian kan juga mommy masih sakit tapi mommy selalu maksain badannya mommy. Ini juga kemauan arsy sendiri buat bantuin mommy kok. Mommy jangan sedih terus ya arsy ikut sedih. Arsy anak kuat mommy gk perlu khawatir ya." gumam arsy pelan yang masih di dengar delia dengan serasa mengendurkan pelukannya dan menghapus air mata sang ibu.
Delia sangat terharu mendengar perkataan putri sulung nya.
Ia mengangguk. "iya sayang, makasih ya buat arsy, mommy gk bakal sedih lagi karena arsy dan ean kekuatannya mommy. Mommy sayang sama kalian, tolong jangan tinggalin Mommy ya nak!."
"Yes Mommy, mommy istirahat ya arsy yang jualan, mommy fokus badan mommy biar sehat." balas arsy.
Delia mengangguk lalu tersenyum.
"Yasudah gih sana, hati-hati ya sayang." pesannya pada sang anak.
"siap mommy. Arsy berangkat mom." ucapnya serasa menyalimi tangan sang ibu.
"Assalamualaikum mom."
"Wa'alaikummusalam." jawab delia dengan melambaikan tangan membalas lambaian anak gadis kecilnya.
Setelah melihat punggung anaknya yang sudah tak terlihat segera ia pergi ke kamar dan beristirahat.
Sedangkan seseorang yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka mengepalkan tangan erat, bahu nya bergetar menahan antara nangis dan amarah.
"Aku janji bakal lindungi mommy dan kakak dari orang-orang jahat, dan janji untuk membalas dendam pada orang yang sudah membuat keluarga kita terus bersedih." gumamnya pelan dengan kilatan benci, dendam terlihat di kedua matanya.
Setelah melihat sang mommy yang sudah benar-benar masuk ke kamar segera ia menyusul ke kamar nya sendiri.
Di sisi lain.
Arsy terus berjalan dengan sesekali berteriak 'kue' agar orang mendengar dan mau membelinya.
"kue, kue, kue. Buu kue nya di jamin enak loh dan higenis tentunya, ayo bu di beli." ucapnya menawar ke pada dua orang ibu-ibu.
"eh iya dek, boleh deh." ucap ibu-ibu 1.
"ini satunya berapaan dek?." tanya ibu-ibu 2.
"satu mika harga 1.500 aja bu." jawab arsy sambil tersenyum tipis.
"yasudah saya ambil 3 ya." kata ibu ibu 2.
"saya juga ambil 3 aja." ucap ibu ibu 1.
Arsy mengangguk antusias. "iya ibu-ibu tunggu bentar ya." balasnya dan diangguki oleh mereka.
"oh ya ngomong-ngomong kamu masih kecil sudah jualan, orang tua kamu kemana nak?." tanya ibu ibu 2.
Arsy yang sedang membungkus cookies nya ke plastik pun dengan santai menjawab.
"Ayah saya udah meninggal, dan ibu saya di rumah lagi sakit."
"Ya tuhan, kasian banget kamu nak, yang sabar ya." ibu ibu 1. Sedangkan ibu-ibu 2 mengelus punggung rapuh nya arsy.
"iya bu terimakasih. Ini kue nya." jawab arsy serta mengasih katong plastik berisi pesanan tadi.
"jadi nya berada nak semuanya?." tanya ibu ibu 2.
"jadinya 9.000 bu." jawab arsy sambil tersenyum.
"ini dari kami, selebihnya buat kamu beli obat buat ibu kamu ya nak." ucap ibu ibu 1 memberikan uang berwarna biru sebanyak 4 lembar.
"Emm ini gpp bu?." tanyanya ragu.
"iya gpp buat beli obat ibu kamu."
"udah diambil aja gpp kok, kami ikhlas."
Jawab mereka serempak membuat arsy tersenyum senang karena mendapat tipe lebih dari pembeli.
"Terimakasih atas doa nya ya bu." ucap arsy tak lupa mengatakan terimakasih pada mereka.
"iya sama-sama."
"kalo gitu aku lanjut jualan dulu ya bu, permisi." pamitnya pada mereka dan mendapat anggukan dari mereka, lalu arsy segera pergi lanjut berjualan.
"kasian ya jeng, masih kecil harus jadi tulang punggung keluarga mana udah gk punya bapak lagi." kata ibu ibu 2.
"iya loh kasian banget, mana anaknya cantik gemesin gitu." ibu ibu 1.
Arsy yang masih belum jauh dari mereka mendengarnya hanya tersenyum menyeringai?
Entah lah hanya arsy yang tahu.
Setelah itu ia mulai fokus lagi untuk berjualan agar bisa segera pulang karena awan yang berwarna abu-abu menandakan akan hujan dan sekarang pun sore sangat sore. Ia mulai kembali berteriak lagi.
"kue, kue."
"kue kak, bu, dijamin enak dan nagih loh." ia coba menawar pada segerombol yang mungkin keluarga?. Tetapi ia malah mendengar cacian dan makian yang mereka lontarkan.
"kue jelek di jual."
" paling juga gk enak."
"gk usah di beli."
"iuh."
Kira-kira seperti itulah cemohan yang ia dapat. Ia hanya diam bukan berarti takut tapi karena ia takut jika emosinya tidak ke kontrol.
Arsy hanya mendelik mendengar cemohan mereka dan memberi tatapan tajam ke arah mereka yang menghina kue yang yang ia dan ibunya buat.
Mereka sedikit terkejut dan bergidik ngeri karena tatapan tajam yang diberi arsy.
kecil-kecil matanya tajem banget buset. Batinnya.
Karena hujan yang sepertinya mulai turun membuat arsy meneduh di sebuah warung makan pecel lele yang masih terbuka dan duduk disana sambil melihat air hujan yang mulai membasahi bumi.
......................
"Bu, Maaf ya, saya izin neduh gk apa-apa kan?." tanya arsy seraya meminta izin pada pemilik warung tersebut.
"iya gpp atuh cantik, mau ibu buatin teh hangat?." jawab nya dengan lembut dan menawari teh hangat.
"eh gk usah bu, gpp kok." sahut arsy tak enak.
"udah gpp, saya buatin ya biar badan kamu hangat. Tenang aja gratis kok buat adeknya yang cantik imut ini." balasnya sambil mencubit pipi cubby arsy gemas.
"terimakasih ibu em?." ucapnya tersenyum dan menatap bingung.
"sama-sama, panggilnya ibu inah aja nak." katanya yang melihat gelagat arsy bingung. Arsy hanya mengangguk seraya tersenyum tipis.
"sebentar ya." ucapnya lalu bergegas untuk membuatkan teh hangat untuk arsy.
Hingga beberapa menit bu inah kembali dengan membawa satu nampan yang berisi satu gelas teh hangat nya.
"ini, di minum dulu ya nak, ibu mau kebelakang masih mau beres-beres sekalian nunggu hujan reda."
"iya bu." jawabnya mengangguk pelan tak lupa dengan sedikit senyum.
Hingga 1 jam. 2 jam. 3 jam. Akhirnya hujan yang sedari tadi turun mereda juga. Keadaan warung itu untung saja masih buka dan ibu inah pemilik Warung sangat baik hati.
Suasana pun sudah gelap memang karena sekarang jam menunjukkan pukul 07.48 yang artinya sebentar lagi pukul 8 malam. Ia harus cepat bergegas pulang, dan tak lupa ia berpamitan dengan bu inah. Dirinya takut membuat mommy nya khawatir dengannya sehingga ia sedikit mempercepat langkahnya.
•
•
•
.
.
.