Queen Devil'S

Queen Devil'S
6. QD's



At 11.15


Kringg kringg


Bell tanda jika sekolah telah selesai membuat guru yang mengajar menutup pembelajaraan pada hari ini.


Bahkan juga sampai sekarang pulang sekolah sean masih tidak mau berbicara dengannya. Ia bingung lantaran harus apa.


Arsy yang melihat sean didepan gerbang sendirian yang mungkin menunggu Mommy mereka menjeput. Segera ia mengambil sepeda dan menghampiri sean.


"ean?, ayo pulang sama kakak. Mommy gk bisa jemput."


Sean menoleh penasaran melihat arsy membawa sepeda ontelnya.


Apa tadi pagi Arsy hampir terlambat karena berangkat pakai sepeda ontel? tapi kan jauh banget, apa Arsy gk capek?. Batinnya


Ingin sekali ia bertanya tetapi ia teringat jika dirinya masih marah pada arsy jadi ia hanya diam tidak menjawab pertanyaan arsy.


"Ean? Ayo naik arsy yang goes." pintanya.


Melihat sean yang diam, ia menghembuskan nafas lelah.


"ean, ayo cepet, sekolah udah sepi loh, ean gk takut? Kasian Mommy ean, mommy lagi sakit dirumah, mommy sendirian ean ayok!!." titahnya yang masih tidak di gubris oleh sean.


Melihat sean yang masih diam seperti patung membuat arsy geram.


"Arsean!." panggil nya tegas dengan nama depan lengkapnya sean. Serta tatapan tajam yang membuat sean menciut. Sean sangat takut dengan kemarahan sang kembaran, dengan cepat kilat ia mendudukkan bokong nya di boncengan belakang.


Tanpa basa-basi arsy mengoes sepeda ontelnya dengan sedikit tergesa karena kegelisahannya semakin membuat ia takut terjadi sesuatu pada ibunya.


Melihat keringat arsy yang menetes di dahi membuat sean tak tega melihatnya. Kakak kembarnya itu terlihat seperti sedang cemas dan lelah sekaligus.


Ia ingin menggantikan posisi arsy tapi ia takut membuat arsy bertambah marah.


Setelah beberapa menit arsy mengoes sepeda ontelnya dan sean yang ia bonceng membuat arsy sedikit lelah. Dan sekarang mereka sudah didepan rumah.


Kedua anak kembar berbeda gender itu mengeryitkan dahinya bingung mengapa banyak ramai orang di rumah nya.


"Arsy, rumah kita kenapa banyak orang?." tanya nya pelan.


Arsy hanya diam, jantungnya benar-benar berdetak sangat cepat. Ia takut firasat nya benar. Ia takut.


Segera ia menarik tangan sean dan membawanya kerumah. Ketika mereka ingin masuk kedalam tiba-tiba tubuh mereka di dekap oleh seorang wanita sedang terlihat menahan nangis.


"arsy,sean kalian yang sabar ya sayang. Masih ada Mamah disini, ikhlas in Mommy kalian ya twins?." ucap sendu.


"Mamah airin kenapa nangis? Terus ini kenapa banyak orang Ma? Terus Mommy kenapa?." tanya sean berturut-turut.


Arsy ia membeku mendengar perkataan Mamah el itu. Ia tidak bodoh untuk tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Itu terlihat jelas karena bendera merah yang terpajang di depan rumah mereka.


Segera arsy berlari masuk dan menemukan banyak orang yang tengah membaca lantunan ayat kursi dan di tengah-tengah terdapat seorang yang di tutup kain putih. Yang bisa dipastikan jika itu mommynya.


"MOMMY hiks." teriaknya lalu mendekap tubuh sang Mommy yang sudah di pakaikan kain kafan.


"Mom hiks bangun mom, jangan tinggalin hiks arsy sama ean mom!!." tangis arsy pecah.


Ibu-ibu yang sedang membaca ayat kursi berhenti dan menatap iba pada gadis kecil yang rapuh itu.


Sean yang masih mematung mencerna keadaan seakan tersadar dengan teriakan sang kakak. Ia pun dengan perlahan mendekat dan melihat wajah cantik Mommy nya yang pucat tidak mengurangi kadar kecantikan Mommynya.


Perlahan air mata sean luruh, Sekarang ia sadar mengapa banyak tamu yang ada dirumahnya.


"hiks MOMMY, NGGAK MOM NGGAK JANGAN TINGGALIN EAN MOM hiks MOMMY BANGUN,  BANGUN MOM HUWAAAA hiks hiks hiks Mommy."


"hiks udah dek, hiks hiks Mommy udah gk ada."tangisnya el pun ikut pecah.


El yang melihat sahabatnya yang terpuruk ikut merasa sedih ia menangis sesengukan didekapan sang ayah.


"shutt udah ya son, tenang. Kalo el nangis siapa yang hibur ean dan arsy hm?." ucapnya pada sang anak.


El pun menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan ayahnya. Ia mendekat kearah el yang didekap oleh arsy, el pun ikut bergabung berpelukan bersama. Ia ikut menangis melihat sahabatnya yang kacau.


"ean tenang hiks ya, shutt hiks." ucapnya.


"MOMMY BANGUN, BANGUN MOM, KALO MOMMY GK BANGUN EAN BAKAL BENCI SAMA MOMMY."


Sean terus berteriak mencoba membangunkan sang ibu hingga ia pingsan karena terlalu lama menangis, begitupun dengan el yang ikut menemani sean ke kamarnya.


"arsy?." panggil airin pelan dengan memegang bahunya.


Arsy diam ia memandangi wajah cantik jenazah Mommynya untuk terakhir kalinya. Ia pasti akan merindukan senyum lembut, tutur kata yang lembut, dan masih banyak lagi dari sang ibu.


"arsy bersih-bersih ya, sebentar lagi Mommy kamu mau di kuburin." ucapnya parau dengan hati-hati.


Arsy diam sejenak tak lama ia mengangguk lalu bergegas ke kamarnya dan mulai membersihkan badannya.


                                    🥀🥀


Di sore hari, seakan tahu kesedihan arsy kehilangan Ibu yang sangat di sayanginya langit pun ikut menggelap berwarna abu. Dalam diam arsy memandangi gundukan tanah yang masih terlihat basah dengan banyak taburan bunga diatasnya.


Ia mengulurkan tangannya, mengusap batu nisan yang bertulisan nama Alhmarhum ibunya. Air matanya mengalir, tak dipungkiri ia benar-benar terpukul dengan tiada nya sang ibu. Dirinya bingung apa yang akan ia lakukan jika ibunya sudah tak ada.


"Mom, Arsy janji akan membalas kan dendam daddy pada orang-orang yang udah membuat keluarga kita menderita mom."


"bahagia di sana ya mom, sean akan menjadi tanggung jawab arsy sekarang, mommy tidak perlu khawatir pada kami."


"Kami sayang sama kalian, mom and Dad."


"tolong, awasi kami dari atas sana. kami pasti akan merindukanmu


Setelah ia mengatakan beberapa kalimat, aray terdiam terdiam lalu kemudian bangkit, sebelum ia meninggalkan tempat ini ia menjatuhkan setangkai bunga mawar tepat kearah gundukan yang masih basah itu.


"Dia bukan Mommy." gumamnya pelan dengan mata yang menyorot tajam. lalu berjalan mulai meninggalkan area tersebut.


kemudian ia segera menyusul orang-orang yang ikut mengantarkan jenazah mommy nya ke peristirahatan terakhir, keluarga adiwijaya serta tetangga terdekat nya.


mereka tidak menyadari adanya dua seseorang yang terus mengawasinya namun beda tempat persembunyian dengan tersenyum licik melihat mereka menderita.


"permainan akan segera di mulai hahah hahaha." gumam orang 1 pelan dengan seringai yang tercetak di sudut bibirnya.


"hahaha tunggu kehancurhan kalian semua, dan bocah maaf kan pamanmu ini yang mungkin sedikit kejam ke pada hidup mu sayang. karena... ini demi kedamaian dunia kita semua." batinya tersenyum aneh.





.


.


.