
RS. Pitaloka, jl Rindu mantan
"DOKTER!!."
"DOKTER, CEPAT TOLONG ANAK SIALAN INI WOY!!." teriak davin kesetanan membuat koridor rumah sakit yang penuh dengan orang berlalu lalang menutup telinganya.
"sialan, mana sih dokternya." gerutunya.
"DOKTER!!." teriak davin sekali lagi dengan suara yang lebih amat keras dari sebelumnya hingga beberapa orang yang memakai jas putih keluar tergesa-gesa paniknya.
"iya tuan, anda bisa- " ucapan dokter laki-laki mencoba profesional dan tidak gugup karena aura davin yang membuat mereka gemetar dan di belakangnya juga terdapat beberapa dokter lagi tak lupa juga dengan suster yang sesuatu benda yang di dorong nya.
Sebelum dokter tersebut menyelesaikan ucapannya sudah di dahului davin yang meletakan tubuh lemah angel di brankar tersebut.
"cepat tangani anak ini apapun keadaannya lakukan yang terbaik!!." sentak nya tak sabar, para dokter pun buru-buru mendorong brankar yang terdapat angel di atasnya.
kemudian angel langsung di bawa ke ruang operasi, karena para dokter yang melihat luka tembak di perut angel segera membawanya ke ruang tersebut.
Davin terduduk lesu, ia merasa khawatir, sedih, marah, takut dan ah entahlah.
Tak lama terdengar suara langkah kaki di lorong yang menampilkan jack serta beberapa orang berpakaian hitam di belakang nya.
"Ayah." gumam davin pelan.
Bugh...
Satu tonjokan mendarat tepat di wajah davin dengan sangat keras membuat ia terkapar di lantai dingin rumah sakit tersebut.
"Mengapa kau tak becus menjaga cucu ku davin!!." gertaknya geram.
pelakunya? tentu saja jack si kakek tua namun masih terlihat sangat tampan dan gagah.
"Maaf." lirih davin merasa bersalah.
"pulang dan selesaikan hukuman mu!." kata jack tegas dan tak terbantah.
"gk!!."
"Davin gk mau, davin mau tahu kondisi angel dulu ayah!! setelah itu baru davin selesaikan hukuman." tolak davin keras dengan tatapan memohonnya.
Jack tidak menjawab ia hanya memandang datar putra nya itu yang masih terduduk di lantai, kini pandangannya menyorot sendu ke arah ruang operasi yang di dalam nya terdapat cucu kesayangannya yang terbaring tidak sadarkan diri, bahkan luka tembak tersebut sudah di lumuri racun yang bisa melumpuhkan otot-otot tubuh yang terkena racun tersebut.
Hingga 4 jam kemudian.
Tiitt Tiiiiiiiiiiiiitt.....
Suara alat Elektrokardiogram atau EKG terdengar sangat nyaring bahkan hingga terdengar sampai luar ruangan, jack serta yang lain dejavu mendengar suara tersebut.
Bruk...
"Ayah."
"Tuan besar."
Jack yang tak kuasa menahan bobot tubunya sendiri meluruh jatuh lemas. Bodyguard segera membantu tuan nya berdiri.
"gk mungkin." gumam davin pelan.
"antar aku masuk!." ucap jack tegas namun terdengar menahan tangis.
Dengan langkah gontai jack melangkah memasuki ruangan tersebut, hingga tiba-tiba suara dobrakan pintu yang sangat keras membuat nya terkejut, begitupun dengan yang lainnya.
"ENGGAK!! DIA BELUM MATI!!." teriak seseorang anak kecil itu yang telah mendobrak pintu tersebut hingga roboh.
"seret dia keluar!." perintah davin yang sedari tadi diam karena shock dengan suara EKG tersebut.
"lepas! gue mau nemuin Queen gue sialan!!." teriak nya menangis ketika tangannya di pegang oleh bodyguard jack dan hendak membawanya keluar.
"Lepaskan!." titah jack dan di angguki bodyguard tersebut.
Anak kecil tadi menoleh kearah jack.
"Terimakasih." ucap nya seraya membungkuk. Kemudian ia segera menghampiri brankar yang terdapat tubuh angel yabg sudah tertutup kain putih.
"Dia belum mati hiks kenapa di tutup haa!!." sentak nya pada dokter yang menangani.
jack dan davin ikut mendekat, mata mereka sudah berkaca-kaca hendak menangis.
"DIAM!!!." bentak Davin dan anak kecil tersebut bersama membuat dokter yang akan menjelaskan keadaan angel bungkam takut.
"Bangun bocah sialan hiks bangun dong." sentak nya pada angel yang menutup mata.
"Jangan bentak Dia!." Dingin anak itu protes kala angel di bentak oleh davin dalam tidur nya.
Sedangkan davin cengo melihat tatapan anak itu yang persis seperti angel, sama-sama tajam, dingin dan penuh aura yang membuat bulu kudu merinding.
Anak kecil tersebut memeluk tubuh angel yang dingin dan kaku, ia menyembunyikan wajahnya yang sudah banyak deras air mata. ia terus membisikan sesuatu kalimat yang mungkin bisa membuat angel kembali.
Sedangkan jack hanya diam ia masih terlalu shock atas apa yang terjadi dengan cucunya, ia sangat takut untuk kehilangan cucu kesayangannya tersebut. Dirinya tidak tahu apa yang terjadi nanti ketika angel benar sudah tiada, karena ia menjadikan angel sebagai ia bertahan di dunia kejam ini.
jack terus memandangi wajah pucat angel yang kini tubuhnya di peluk erat oleh bocah laki-laki yang entah siapa belum ia cari tahu, dirinya menangis dalam diam.
"TIDAKK!!." teriak angel mengkagetkan semua orang.
Jack dan davin melotot tak percaya melihat angel yang kini bangun dengan nafas tersengal-sengal, begitupun dengan para dokter yang menangani nya sontak dengan panik langsung melakukan pemeriksaan selanjutnya.
Kini mereka berada di luar ruangan sembari menunggu dokter yang keluar.
Tatapan jack mengarah pada anak kecil laki-laki tersebut, anak itu sedang terduduk dilantai dengan pandangan kosong. Jack mendekat, ia menepuk pelan bahu bocah itu.
"Apa kau salah satu anak yang di culik?." tanya jack menebak dan di angguki oleh nya.
"Lalu mengapa kau disini? dan siapa kau?."
"Aku ingin melihat angel, dan nama aku Aksa, aku yang sudah mencuri fristkiss cucu mu tuan." balasnya tegas dengan pandangan yang menyorot ke arah jack tanpa takut dengan tatapan intimidasi nya.
Mereka yang mendengar hal itu sontak melototkan matanya tak percaya.
Fristkiss?
"Heii, sialan-."
"Davin!!." tegur jack kala davin mengumpat di depan anak kecil. Davin hanya mendengus kesal.
"Kau mencuri ciuman pertama cucuku?." sahut jack tenang.
"Ya!."
"Apa yang kau inginkan?." ucapan jack membuat aksa bocah tersebut menatap penuh arti ke arah jack, dan jack seakan mengerti ia mengangguk sekilas.
Clek...
"Bagaimana keadaan bocah itu dok."
"Apa cucuku baik-baik saja!."
"Gadis ku harus hidup!!."
Ucapan terakhir itu membuat pasang mata memelototi nya namun yang menjadi pelaku tidak menghiraukan tatapan tersebut.
"Ekhem." dehem dokter membuyarkan tatapan merrka yang mengarah pada aksa.
"Jadi tuan, luka nona sudah kami jahit dan sekarang kondisi nona sudah stabil namun sekarang nona muda masih perlu perawatan hingga ia benar-benar pulih, untuk sekarang nona masih dalam keadaan obat bius jadi akan bangun mungkin malam nanti. Dan kami akan memindahkan keruangan pribadi milik tuan."
"Lakukan!." titah nya tegas.
Ruangan pribadi milik jack? Ya, Rumah sakit tersebut salah satu milik jack. Dan ruangan itu fasilitasnya lebih bagus dan lengkap di banding dengan ruangan biasa.
•
•
•
.
.
.
.