
POV Sean.
Sekarang ini gue sama teman-teman geng gue lagi kumpul seperti biasa di cafe langganan kita, dekat dengan sekolah yang gue tempati. Kita biasa kumpul di ruang VIP di cafe itu.
"beli jajan lah woy, dah abis nih." gerutu Reno.
"ogah gue, lo aja sono." ucap Sandika menyengir lebar.
"****** lo." cetus Reno.
"udahlah, mending kalian berdua aja yang beli dari pada ribut." suruh Mehan pada mereka berdua.
"OGAHH." sentak mereka kompak, dan mengejutkan Xavier yang tidur.
"Diam!!." sentak xavier dingin.
Seketika ruangan yang mereka tempati hening karena aura yang xavier keluarkan membuat bulu kuduk merinding.
"i-ya sorry bos." cicit reno dan sandi gugup menelan ludah dengan susah payah.
"Hm."
"gue yang beli." sahut sean datar.
"Sean yang terbaik." ucap reno cengengesan.
"Jangan lama!." titah el mengingatkan.
"Hm."
Supermarket dari cafe gk terlalu jauh, hanya berjalan beberapa menit sudah sampai. Hingga ketika ia akan menyebrang jalan fokusnya terganggu karena suara notif dari ponselnya.
Tertera nama 'dugong' disana, ia berniat membalasnya sebentar tapi sepertinya sean lupa bahwa posisinya sekarang berada di pinggir jalan. Tanpa memperhatikan sekitar ia malah asik dengan ponselnya hingga suara klakson membuyarkan nya.
Tin tin
Jantungnya seperti ingin copot kala melihat mobil yang melaju kearahnya, saat ia akan menghindar entah mengapa tiba-tiba menjadi linglung. Sampai ia merasa tubuh nya hampir tertabrak mobil itu, tetapi karena ia shock membuat nya jatuh hingga telapak tangannya sedikit terluka mengeluarkan darah.
"Ean?!."
Sean mematung mendengar nama yang
sudah tidak ia dengar selama beberapa tahun lalu, tidak ada yang mengetahui nama kecilnya kecuali orang di masalalunya.
"Kamu gpp kan ean?." tanyanya khawatir dan memeluk erat sean.
Sedangkan sean mematung melihat wajah gadis yang sangat mirip dengannya hanya saja ini versi perempuan, dan pelukan hangat ini yang ia rindukan.
'a-arsy?. Batin nya tak percaya
"ayo kakak obati dulu luka kamu agar tidak infeksi." segera gadis itu yang ia yakini adalah kakak kembarnya yang lama menghilang, membawa sean ketaman yang gk jauh dari mereka dan mendudukan nya di kursi panjang. Sebelum ketaman gadis itu sempat mengambil kotak p3k di mobil yang ia kendarai.
"kakak obati lukanya sebentar, tahan jika sakit." ucap nya sembari membersihkan luka tersebut.
"Maaf, kakak gk sengaja hampir menabrak mu. Tapi juga lain kali ean, kalau mau menyebrang jalan lihat kanan-kiri terlebih dahulu. Yang kamu lakukan itu sangat berbahaya!!?." cerocosnya. Dan sean hanya menatap wajah angel dengan mata yang berkaca-kaca.
'arsy kalo ngomel juga gini, mirip banget. Artinya dia arsy kan?. Batinnya berkaca-kaca
"iya ean, aku arsy." celentuk nya tiba-tiba seolah ia sedang cenayang.
Mata sean semakin memerah menahan nangis bahkan dada nya berdebar tak karuan.
Mungkin merasa di perhatikan arsy menoleh kearah dirinya dan melihat nya hendak menangis. Ia tertegun untuk sesaat.
Ia terlihat meghela nafas, lalu memeluk nya dan dibalas tak kalah erat oleh sean.
"hiks." isak tangis yang sedari sean tahan akhirnya keluar.
"aku rindu pelukan ini, sungguh!." Batinnya tersenyum haru
"maaf, maafin kakak ean. Kakak pergi dan buat kalian semua menjadi panik dan khawatir." gumam arsy lirih di telinga nya.
Sean terus menangis, ia tidak menjawab apapun.
Arsy Ia melepaskan pelukan itu.
"syutt, udah jangan nangis lagi ya ean nya arsy." ucap nya menghapus air mata sean yang terus keluar.
"sekarang bukan waktu yang tepat ean, kakak harus pergi. Kita akan bertemu lagi ean." pamitnya tanpa memberi penjelasan yang jelas padaku Sebelum pergi ia menyempatkan mencium dahi sean, setelah itu berlalu pergi drngan berlari kecil.
Sean menghapus air matanya lalu ikut berlari mengejar arsy yang sudah di samping mobil nya.
"gk hiks GK BOLEHH!." teriaknya. Arsy menoleh kebelakang dan sedikit tersenyum lalu memasuki mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata.
Dan sean yang terus berteriak.
"JANGAN TINGGALIN EAN ARSY!? ARSY,ARSY hiks hiks hiks JANGAN PERGI LAGI PLISS!!." sean terus berteriak berlari mengejar mobil sport hitam ia terjatuh hingga sebuah pelukan seseorang menahan sean yang terus ingin berlari mengejar nya.
"tenang ean." ucap el menenangkan tak hayal ia meneteskan air matanya.
"el arsy kembali el, arsy el hiks hiks ARSY JANGAN TINGGALIN EAN hiks." ucapnya di akhiri dengan teriakan.
"syutt iya ean, el lihat arsy kok tadi. Tapi ean tenang dulu ya, nanti kita cari sama-sama."
"sekarang el, ean mau cari arsy sekarang hiks huwaa arsy huhuhuu hiks." tangisnya semakin deras. El sedikit kewalahan untuk menenangkan sean.
"AAARRGGHH ARSYY!!." teriak frustasi sean membuat orang-orang yang melihat nya menatap sedih karena mengira jika cowok tersebut di tinggal pacar nya.
Sedangkan teman-temannya yang lain hanya diam, mereka tidak tahu harus melakukan apa, dan mereka juga tidak mengetahui siapa gadis yang mereka maksud itu.
Buk
Satu tonjokan dilayangkan pada sean dari xavier membuat sean jatuh pingsan seketika. Terbalik dengan teman-teman nya mereka membelakkan matanya melihat xavier dengan kejam memukul tepat pada titik lemah yang bisa membuat seseorang pingsan.
"xavier!!." bentak el pada xavier.
"bawa pulang!." sahutnya santai.
El hanya menghela nafas kasar lalu membopong sean di bantu oleh Sandi.
Kemudian setelah mereka sampai di apartemen sean, segera memindahkan sean ke kamar nya dan mereka berkumpul di ruang santai dengan raut kepo nya.
"El?." panggil reno.
"Hm."
"El, tadi cewek itu siapa sih kok sean sampai nangis gitu?, terus juga kenapa lo ikutan nangis?, kalian kenal sama tuh cewek?." tanya reno rentetan.
"iya tuh bener, kalian kenal sama cewek yang tadi?, tapi gilak sih cewek tadi cakep banget anjir." ucapnya heboh.
"jawab dong el." rengek reno di hadiahi tatapan jijik oleh mehan dan sandi tapi mereka juga kepo alhasil diam tetapi kepo.
"ck."
"Dia kembarannya sean yang hilang." jawabnya singkat tapi membuat mereka membulat tak percaya.
"hah, kembaran?."
"serius?."
"Hmm."
"terus ean itu siapa?." tanya mehan mengeryit kan dahinya.
"nama kecil sean, hanya keluarga aja yang boleh manggil dengan sebutan ean." ucap el datar.
"pantes aja." ucap mehan terkekeh.
"pantes kenapa?."
"muka nya mirip sama sean, versi cewek." mereka mengangguk mengerti.
"tapi kenapa bisa hilang?, di culik?." tanya reno sangat penasaran.
"kepo banget sih lo. Tapi gue juga kepo sih" cetus sandi diakhiri cengiran andalannya.
"yee dasar ya lo sendot." sinis reno.
"kalian berdua sama saja." sahut mehan menyela. Reno dan sandi hanya menampilkan giginya meringis.
"tapi kok kita gk tahu sih kalo sean punya kembaran, artinya adek lo dong el?." tanya reno mengeryit bingung.
"bukan." jawab nya singkat.
"Lah terus?." sahut sandi, reno dan mehan kompak.
"Kita bukan saudara kandung tapi udah gue anggep keluarga sendiri, sean dan arsy sebagai kakak gue." jelas nya singkat.
"Kita udah sahabatan dari Sd kelas 5 tapi baru tahu tentang kalian berdua hebat hahaha!." sahut sandi tertawa kecewa.
"kenapa gk cerita?!." tanya reno dan di angguki mehan pelan.
"Sorry! tapi... semua itu bukan Hak gue buat cerita!, suatu saat nanti pasti kalian bakal tahu semuanya yang pasti gk sekarang karena itu buat sean keinget masalalu nya!!." jawab el merasa bersalah karena memang teman-teman nya tidak mengetahui yang sebenarnya.
"gpp, kita ngerti!!." sahut xavier menengahi dan di angguki oleh mehan dkk (sandi, reno).
"huufftt, kalin berdua ternyata banyak rahasia ya?, misteriuss." kekeh sandi.
"tapi menurut gue, pak boss yang lebih mysterious njirr!!." heboh reno dengan memandang seran ke arah xavier.
"Bener, xavier susah di tebak!." ucap mehan menyetujui ucapan reno begitupun dengan sandi yang duduk nya langsung memberikan jarak.
"iya sih xavier emang mysterious dan kayak mirip seseorang gitu tapi gk tahu siapa." celentuk sean ikut menimpali dengan menatap selidik kearah xavier.
"Ck!." decak xavier.
Xavier hanya menatap datar kearah mereka yang memandangi dirinya takut, menyelidik, dan juga tatapan aneh. Tidak menghiraukan mereka, xavier merebahkan badannya di sofa panjang laku menutup matanya dengan lengan kanannya.
Setelah beberapa menit mereka terus menatap xavier yang asik dengan mimpinya, mereka kemudian menyibukan dirinya masing-masing.
"Ekhm." deheman seseorang membuyarkan kegiatan mereka.
"eh sean?." clentuk sandi.
"Hm."
"Mau kemana?." tanya el mendekat karena melihat sean yang rapi memakai celana panjang warna hitam, kaos putih dilapisi jaket kebanggakan nya, dan sepatu putih senada.
"nyari arsy." jawab nya singkat.
"gue ikut." balas el.
"ikut!." sahur xavier di angguki yang lain.
"thnks."
"yoi bro sama-sama."
Setelah itu mereka memutuskan untuk kembali ke tempat di mana sean bertemu dengan arsy. Dari sana mereka mencari Cctv dan mulai melacak plat mobil yang di tumpangi arsy namun hasilnya sia-sia.
Hingga malam kemudian mereka juga belum menemukan gadis yang di cari, sampai sean meminta teman-teman nya pulang beristirahat dan memutuskan untuk mencari esok hari lagi.
Di lain tempat.
Angel termenung di balkon kamarnya, seperti biasa ia memandangi bintang-bintang indah di langit. Ia teringat ketidak sengajaan pertemuan nya dengan sean.
Ia menghela nafas gusar. Sebenarnya ia sangat merindukan mereka namun belum saat nya untuk muncul karena masih ada sesuatu yang harus di selesaikan terlebih dahulu.
Hingga kedatangan seseorang membuyarkan lamunan nya.
"it's okey honey." ucap seseorang itu memeluk angel erat dengan sesekali mencium puncuk kepalanya.
"Hmm." gumam nya pelan. Angel membalas tak kalah erat pelukan tersebut.
Nyaman
"tidur, aku disini." lalu dengan enteng laki-laki tersebut menggendong angel membawanya masuk dan menyelehkannya di kasur dengan hati-hati seakan itu adalah sebuah barang yang kapan saja bisa hancur.
"Janji?."
"Ya sweetheart."
Tak lama dengkuran halus terdengar pertanda jika angel sudah terlelap memasuki alam mimpi. Laki-laki itu terkekeh gemas melihat gadis dipelukannya terlihat sangat lucu.
"cute." cium nya pada pipi angel yang sedikit cubby. Hingga akhirnya laki-laki itu ikut memejamkan matanya dan menyusul kealam mimpi seraya memeluk erat gadis yang di dekap nya.
•
•
•
.
.
.