Queen Devil'S

Queen Devil'S
12. QD's



Keheningan melanda mereka di dalam mobil setelah berkunjung ke makam alvin dan delia, membuat el yang tidak betah pun membuka suara.


"Mamah, el laperr." ucap nya merengek.


Airin mengangguk sekilas.


"mau makan di restoran apa nanti di rumah?." tanya airin meminta pendapat yang lainnya.


"Restoran aja Mah." ujar el semangat.


"rumah aja ya el, sean tidur itu kasian." kata dika setelah melihat sean yang terlelap di dekapan arsy.


Sontak mereka melihat kearah sean yang memang terlelap.


Airin dan el mengangguk menyetujui untuk makan dirumah saja. El juga tidak keberatan.


Sedangkan arsy ia hanya diam seperti biasa, ia memandangi kota bandung lewat kaca mobil disamping nya ini.


Ia termenung entah apa yang sedang di pikirkan nya.


Hingga beberapa menit kemudian mereka tiba di kediaman adiwijaya, rumah cat putih dan berlantai 3 itu terlihat sedikit mewah. Ya sedikit.


Kemudian mereka turun dan beranjak memasuki rumah lalu membersihkan badan mereka karena kotor terkena tanah.


Dan sean ngomong-ngomong bocah itu gendong sama dika ya guyss.


                                  


......................


"sam." panggil seseorang pada asisten kepercayaannya.


"ya tuan?." tanyanya asisten yang sedikit berlari setelah mendengar bos nya memanggil dirinya.


"siapkan penerbangan ke indonesia, kita akan berangkat besok hari." perintahnya.


"baik tuan." asisten tersebut segera berlalu dan menjalankan perintah dari bosnya.


......................


Arsy sekarang sekarang berada di balkon kamarnya, ia menyipitkan matanya kala tak sengaja melihat dua orang tengah duduk di atas pohon.


jika di lihat sepertinya mereka adalah laki-laki.


Suasana yang hanya penerangan lampu dari arah kamar nya tapi ia masih melihat jelas dua orang yang sedang seperti memantau ke arah rumah adiwijaya.


Tapi dirinya bersikap tenang seoalah jika ia tidak  melihat keberadaan mereka. Salah satu dari mereka yang arsy duga adalah laki-laki yang sedikit pendek mengarahkan sesuatu benda ke arah nya seperti sebuah pistol?


Arsy mulai berjaga-jaga, walaupun begitu ia tetap saja masih anak-anak.


Mata arsy menajam, kala pria itu mulai menarik pelatuknya. Dengan sigap arsy berdiri dan hendak kembali masuk kamar tapi sesuatu terjatuh di depan mata arsy membuat ia terjengkit kaget.


Sontak ia melihat ke atas dan benar saja atap nya rusak bolong.


Kembali kesadarannya, ketika ia ingin melihat seseorang yang sudah bersimbah darah di bawah dekat kakinya ia dikejutkan oleh dua orang laki-laki yang memakai topeng.


"siapa kalian?!." dengan raut tenang ia betanya juga tidak lupa dengan aura yang ia keluarkan membuat dua orang itu membeku.


"Siapa kalian?!!." karena tak ada sahutan ia kembali bertanya dengan tatapan tajam. Dua orang tadi gemeter melihat nona muda mereka yang menyeramkan. Walaupun usianya masih kecil tapi aura serta tatapan itu sangat terlihat kental.


"ka-kami m-minta maa-af nona." jawab salah satu dari mereka yang lebih tinggi dengan gugup.


"Nona ka-mi tidak berniat membunuhmu, kami hanya menjalankan tugas dari atasan kami untuk mengurus tikus kecil. Maaf kan kami sekali lagi nona." jelasnya laki-laki yang topeng berwarna hitam dengan ukiran naga. Ia menundukkan kepalanya tanda permintaan maaf.


"tikus kecil?." dahinya mengeryit bingung.


"ya nona, sekali lagi maaf kan kami." ucapnya lalu pergi dari sana dengan meloncat dari balkon kamar arsy yang berada di lantai 2.


Arsy mematung sejenak melihat kejadian beberapa detik yang lalu ketika ia melihat salah satu dari mereka menjatuhkan tubuh seseorang yang sempat jatuh dari atas atap balkonnya ke bawah dengan santay.


Segera ia melihat mereka yang sudah menghilang bahkan arsy memandang ke segala arah tapi ia tak menemukan keberadaan mereka.


"Tikus kecil? Apa yang di maksud tikus kecil itu laki-laki yang mereka bunuh tadi?." ucapnya pelan dengan tepat sasaran, Arsy tidak bodoh, ia mengerti maksud perkataan dari mereka.


Dirinya yakin jika seseorang yang tadi jatuh dari atap balkonnya sudah tewas terlebih dahulu akibat peluru yang mengenai di dada kirinya. Ia melihat sendiri bahwa dada kiri laki-laki itu berlubang.


Jangan heran ya guys kalo arsy gk takut apalagi dia masih kecil.


Sebenarnya arsy sudah pernah melihat aksi pembunuhan sebelum ayah nya meninggal. Ia melihat ayahnya diruang bawah tanah yang awalnya arsy tidak mengetahui, karena melihat ayahnya berjalan kesana ia pun mengikutinya. Dan ternyata sedang membantai habis lawannya karena orang itu adalah penyusup yang hendak membunuh keluarga nya, tak segan alvin mengobrak abrik isi perut orang itu, juga mencongkel matanya dengan sentuhan terakhir ialah kepala laki-laki itu mengelinding setelah di tebas oleh ayahnya.


Dengan mata kepala nya sendiri ia melihat sosok kejam ayahnya beberapa tahun lalu. Arsy yang waktu itu masih berumur 4 tahun lebih beberapa bulan.


Setelah beberapa menit kejadian itu, ia kembali termenung memikirkan sesuatu yang entah benar apa tidak yang jelas dirinya akan mencari tahu nya nanti, untuk sekarang ia masih belum memikirkan rencana nya. Ia sangat yakin jika pasti akan ada seseorang yang akan menemui dirinya.


lama berkutat dengan pikirannya kemudian ia segera bergegas memasuki kamar tak lupa menutup pintu balkonnya, lalu tidur.


SKIP// pagi hari.


Suasana dimeja makan hening karena sebenarnya peraturan yang dibuat dika ketika sedang makan adalah, diam agar tidak kesedek.


Tapi karena sean dan el suka bercanda dan ia capek menegurnya alhasil ia hanya mengehela nafas kasar.


"arsy selesai." ucapnya mendorong piring nya yang kotor.


"ean / el juga udah." kompak mereka.


"yasudah ayo berangkat, ayah yang nganter nanti pulangnya dijemput sama pak romat ya." kata dika. Dan diangguki oleh tiga bocah itu.


"arsy, ini bekalnya ya sayang." arini memberikan kotak bekal warna hijau yang biasa almarhum ibu nya bawakan.


"Makasih Mah."


"sama-sama sayang."


"ayo sekarang kita berangkat, keburu telat nanti." sahut dika.


Hingga beberapa menit kemudian mereka sampai di depan gerbang sekolah dimana tiga bocah itu menuntut ilmu.


"makasih Ayah, kami sekolah dulu." kompak mereka bertiga.


Dika terkekeh mendengar kompaknya mereka. Ia berharap semoga anak-anaknya kelak selalu bahagia.


"iya sama-sama boy girl."


"sekolah yang pintar ya. Ayah berangkat kerja dulu." pamitnya sembari mengecup dahi satu persatu anak-anaknya.


"siap yah."


"hati-hati yah."


Dika mengangguk dengan senyum di bibir nya. Lalu melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang.


melihat mobil sang ayah yang sudah tak terlihat mereka bersama masuk dengan arsy ditengah-tengah antara sean dan el.





.


.


.