
Saat ini Angel di landa rasa panik, khawatir, sedih dan marah karena mendengar kabar dari Xavier tentang keadaan Sean, ia hanya memakai baju tidur dan mengendarai mobilnya dengan sangat ugal-ugalan.
Panik ia sangat panik bahkan barusan ia hampir menabrak seseorang yang hendak menyebrang alhasil ia mendapatkan umpatan dari pengendara tersebut.
Setelah sampai di perkarangan rumah sakit segera ia berlari mencari ruangan tempat Sean di rawat.
BRAKK
"Anjing!."
"Semvak gue pink!."
"Tuyul terbang!."
"Babi!."
"Jantung gue bangsyt!."
"******!."
Angel yang mendengar latah dari mereka hanya acuh, ia bergegas menghampiri Sean yang masih terbaring memejamkan matanya.
"Sean." gumam Angel lirih. Matanya berkaca-kaca menatap wajah Sean yang pucat dengan perban di dahinya.
"Ini salah gue. Andainya kalo gue langsung hampiri Sean, andai gue langsung nemuin dan ngejelasin semuanya ke dia pasti gk akan kek gini." Batinnya menyalahkan dirinya.
Ia memeluk Sean dan mengecupi seluruh wajahnya kecuali bibir. Angel menangis di lipatan tangannya dengan tangan kiri yang menggenggam tangan Sean yang tidak terdapat infus.
Mereka hanya menatap sedih Angel. Mereka juga mengetahui jika Angel menangis karena punggung gadis itu yang bergetar.
Airin yang tak tega mendekat dan memeluk Angel.
"Syutt tenang ya nak, Mamah yakin kalo Sean pasti baik-baik aja dan pasti besok Sean udah sadar." kata Airin menenangkan dan mengusap lembut bahu nya.
Angel menatap Airin dengan deraian air mata.
"Mamah." ucapnya dan langsung dipeluk erat oleh Airin begitupun dengan Angel yang membalas pelukan Airin tak kalah erat.
"Hiks hiks kamu kemana aja Arsy. Kita semua hiks khawatir sama kamu hiks hiks." tangis Airin pecah.
"Maaf hiks, maafin Arsy Mah maaf." sesalnya. Airin diam dengan tetap memeluk erat Angel.
Sedangkan El yang melihat mereka berpelukan dan menangis ikut menitihkan air mata dan kemudian ikut memeluk dua wanita yang sangat disayanginya.
"Jangan tinggalin kita lagi Arsy, jangan lagi." gumam El yang masih terdengar di ruang rawat Sean.
Mereka yang melihat terkekeh menahan gemas pada sosok yang mereka kira dingin.
"Ayah." cicit nya melihat Dika yang sedari tadi hanya diam menyimak.
"Iya princcess nya Ayah, sini peluk!." kata nya seraya merentangkan kedua tangannya.
Segera Angel masuk kedalam dekapan Dika dengan menangis tersendu-sendu seraya menggumamkan kata Maaf berulang.
"Iya udah sayang, gk papa! Yang penting sekarang Arsy sehat selamat." ucap Dika mengusap puncuk kepala Angel.
Airin dan Dika sebenarnya sudah mengetahui bahwa Arsy sudah di temukan dan bersekolah yang sama dengan Sean dan El. Mereka berdua yang memberitahukan kepada orang tuanya.
"Udah, ini udah malam mending kalian pulang aja nanti di marahi sama keluarga kalian loh! biar om-tante yang jagain Sean nya. Dan Arsy kamu juga pulang ya besok baru kesini lagi ya!." Kata Airin memberi saran. Dan mendapat gelengan tegas tak terbantah dari nya.
"Yaudah tante kita pamit pulang ya tan-om besok pulang sekolah kita kesini lagi." kata mehan mewakili teman-temannya.
"Iya, hati-hati di jalan ya makasih udah jengukin Sean."
"Siap tante." jawab mereka serempak. Dan Airin juga Dika hanya menggangguk terkekeh.
"Bro, kita duluan." pamit Xavier.
"Yoi, thanks ya bro." sahutnya diangguki mereka.
"El, kamu pulang juga sana." kata Dika.
"Gk yah, aku mau ikut jagain Sean!." ucapnya menggeleng tegas.
"Yaudah deh terserah."
Sedangkan Airin sibuk menata kasur kecil namun tidak terlalu kecil untuk mereka tidur. Dan Angel yang berada di kamar mandi mencuci wajah nya.
•
•
•
.
.
.