
New york, Amerika serikat.
Di sebuah kamar bercat hitam-abu terdapat gadis kecil yang sedang tidur, tidak! Lebih tepatnya gadis itu pingsan.
Sudah 2 hari lamanya mata bernetra coklat itu belum juga membuka mata, badan yang kurus bertambah kurus dan tidak lupa beberapa alat-alat yang menempel di tubuhnya membuat dua orang pria menghelas nafas gusar.
"kenapa cucu ku belum terbangun juga?!." tanya pria 1.
"gk tau yah." sahut pria 2.
Keheningan di dalam kamar gadis itu yang masih tertidur.
Eunggh sstt...
Suara lenguhan disertai ringisan membuat kedua pria itu dengan cepat memanggil dokter pribadi keluarga mereka.
"gimana keadaan cucu ku Ardi?!." tanya pria 1 dengan tak sabar.
"apa ponakan ku baik-baik saja?." tanya pria 2.
Dokter yang menangani hanya tersenyum maklum.
"keadaan nona muda sudah lebih baik, luka nya akan segera sembuh, dan saya sarankan jika nona muda untuk selalu menjaga pola makan nya mengingat jika ia mempunyai magh." ucap dokter itu bernama Ardian, dokter muda yang berumur 19thn itu sudah S2 di unifersitas Oxford yang terletak di negara inggris.
Dua pria itu hanya mengangguk sekilas.
"apa sudah boleh masuk?." tanya pria 2.
"ah ya tuan, silakan."
"Terimakasih Ardi." ucapnya pria 1 menepuk pundak sang dokter.
"sama-sama kek, itu sudah menjadi tugas ku." jawabnya tersenyum, mengubah bicara nya menjadi biasa.
"yasudah kek, aku pamit kembali ke rumah sakit. Masih banyak pasien."
"hati-hati."
Setelah ardian berlalu, pria 1 kembali masuk ke kamar untuk melihat cucunya.
"bagaimana keadaan mu baby girl." ucapnya lembut dengan memeluk erat cucunya.
Gadis itu hanya diam, ia masih mencerna keadaan sekarang.
Kalian mengira gadis kecil itu arsy?Yupss benar!.
"hey arsy, kita bertemu kembali." ujar pria 2
"opa bertanya baby girl, apa kau tidak mau menjawabnya hm?."
"sepertinya dia masih shok yah."
Melihat arsy yang hanya diam dengan memandangi kedua wajah mereka saja membuat keduanya menghela nafas maklum.
"baiklah, mari kita berkenalan sayang."
"perkenalkan bocah, aku Davin putra Robitson. Aku paman mu yang sangat tampan adek dari alvino mendiang ayah mu." ucapnya terkekeh mendengar ucapannya sendiri.
"Dan aku, opa mu. Jack daniels Robitson ayah dari davin juga mendiang ayah mu baby."
"kalian membawa ku kemana?." tanya arsy dengan pandangan kosong.
Jack dan davin saling menatap memberi isyarat satu sama lain untuk menjelaskan.
Jack mengangguk sebentar.
"biar opa jelaskan."
"kami membawa mu ke NY Amerika serikat. Semua itu sudah ada alasannya baby."
"kami akan mengasah beladirimu dan mengajarkan beberapa teknik untuk menghancurkan lawan." lanjut nya santai.
"Ya itu benar, kami akan membantumu membalaskan dendam mendiang ayah mu arsy." sahut davin.
Arsy diam. Ia sedikit dejavu dengan semua ini.
"baby, ada yang ingin kamu tanyakan?."
"jika kalian opa dan paman ku, mengapa kalian tidak datang untuk menolong kami ketika kejadian itu?." tanya arsy dengan mengepalkan kedua tangannya.
"maaf kan kami nak, semua ini salah kami karena saat itu kami lengah untuk mengawasi kalian dari mereka." ucap davin dengan raut menyesal.
"apa itu artinya kalian sudah mengawasi kami sejak dulu?."
"ya, itu benar!. Semua itu atas kemauan Daddy mu ketika ia masih hidup."
"suatu saat kamu akan mengetahui sendiri baby." jawab jack mengelus rambut arsy.
"apa kamu sudah siap untuk mulai semua dari bawah arsy." tanya davin dengan tatapan tajam.
"tatapan mu seperti oma mu baby, tajam dan mengintimidasi." kagumnya.
"lalu di mana oma?."
"sudah tak ada." jawabnya tersenyum sendu.
Arsy membeku. Lalu ia mengangguk pelan dan memeluk opa nya dengan erat.
"istirahat lah baby, opa akan kebawah. Ada sesuatu yang perlu diselesaikan." titahnya.
"iya opa- tunggu, aku ingin bertanya."
Jack dan davin diam mendengar kelanjutan pertanyaan dari arsy.
"jika aku disini, bagaimana dengan sean? Dan juga orangtua angkat ku opa, paman?!." ucapnya ketika ia mengingat mereka, ia khawatir dengan kondisi airin juga dika, el, terlebih lagi dengan ean.
"tenang saja arsy, mereka akan selalu paman awasi."
"kamu tidak perlu cemas arsy, fokus lah untuk menjadi kuat dan ambil alih tahta opa mu kelak." ujarnya.
"tahta?." tanya nya heran.
"jika sudah waktunya akan kami beritahu." ucap nya mengecup dahi arsy lalu keluar dari kamar tersebut.
Arsy mengangguk paham.
"paman keluar, istirahat yang cukup. Luka di lengan mu belum terlalu pulih."
Luka? Segera ia meraba lengannya dan benar saja ia sedikit meringis karena dirinya terlalu menekan lukanya.
"kenapa bisa?." tanya nya bingung.
"paman malas menjelaskan sekarang, lain kali saja, Janji." sahutnya menyengir.
Arsy mendengus lalu merebahkan badannya yang sedikit pegal.
"maid akan mengantar kan mu makanan, perut kecil mu perlu di isi agar tidak terus merengek." ujarnya ketawa ria karena mendengar perut arsy yang berbunyi pelan tapi ia masih bisa mendengarnya.
Arsy mendelik kesal lalu dengan sengaja ia melempar bantal kearah nya.
Buk
Seketika tawa davin terhenti karena merasa wajahnya tertimpuk sesuatu.
mata nya menatap arsy sinis lantaran melihat tawa arsy yang seakan mengejek dirinya.
"jangan sembarangan heyy!? muka paman mu ini limited editions tahu!." ucap nya merengut.
"cih sok tampan, muka banyak jenggot nya saja bangga." cibirnya pelan.
Kedua mata davin membola mendengar cibiran ponakannya yang terdengar menyakiti hatinya.
"heyy, aku bisa mendengarnya syalan."
"itu gunanya telinga."
"Dasar ponakan laknat. mimpi apa gue punya ponakan kek lo." sahutnya mendengus sebal.
"gue gk minta di akuin tuh." jawab arsy gaul, sedangkan davin melongo mendengar bahasa gaul yang di lontarakan arsy.
"tutup mulutnya, bau." ucap nya santai seraya merentangkan tangannya di tengah kasur.
"hiss awas lo bocah." cetus davin dengan menunjuk kearah arsy.
"oh." sahutnya acuh lalu kembali tidur memejamkan matanya dengan menghadap samping kanan agar tidak melukai lukanya yang ada di lengan kirinya.
BRAKK
Arsy terlonjak kaget mendengar pintu yang di tutup dengan kencang karena ulah davin. Ia mengelus dadanya lalu kembali acuh.
Setelah beberapa saat ia kembali terbangun karena mendapati maid yang mengantar kan makanan untuk nya.
Dengan lahap arsy memakan nya dan menghabiskannya. Lalu kembali tidur setelah dirasa kenyang.
Ia akan menghabiskan waktunya sembari menunggu lengannya yang masih sakit dengan bermalas-malasan. Karena ia yakin setelah ini dirinya akan melakukan kegiatan yang menguras tenaga, sesuatu yang menguji nyalinya, sesuatu yang juga akan membantu nya di kehidupan beberapa tahun mendatang.
•
•
•
.
.
.