
Setelah twins mengantar cookies ke ibu kantin mereka segera beranjak memasuki kelas 1A dan sudah terdapat beberapa siswa termasuk satu anak laki-laki yang merupakan teman dekat twins.
"Hai El." sapa Sean pada teman sebangkunya.
Arsy duduk sendiri karena teman-teman satu kelasnya tidak ada yang mau duduk dengannya lantaran sikap dingin yang Arsy tampilkan.
"Hai juga Ean." jawabnya antusias. SAMUEL DELANO ADIWIJAYA. Anak laki-laki yang berasal dari keluarga terpandang, campuran Amerika-indonesia.
"Ean, aku bawa nugget loh. Ean mau nggk?." ucap El sembari menunjukkan kotak makan berisi nugget yang dimaksud.
"iya Ean mau El." tatapan binarnya terlihat sangat lucu membuat el tertawa.
"nanti kita makan sama-sama ya waktu istirahat. " jawab el memegang tangan kecil sean.
"bolehh." balasnya antusias. Tapi tiba-tiba ia murung Menundukkan kepalanya.
El yang melihat itu heran pasalnya tadi sean terlihat senang kenapa tiba-tiba ia seperti sedang sedih.
"Ean kamu kenapa?." Tangan yang awalnya memegang tangan kecil sean beralih ke pundak sean.
"a-aku gk bawa cookies El, Ean lupa." ucapnya pelan.
"gpp Ean kan besok bisa bawa lagi nanti El ingetin biar Ean gk lupa oke?."
Mendengar perkataan El sontak Ean kembali antusias. Dan mereka kembali bercerita sambil menunggu guru masuk kelas.
Tringg tringg
Bel istirahat berbunyi membuat anak-anak kelas 1A berteriak heboh. Dan itu membuat guru yang mengajar menghelas nafas lelah.
Setelah guru perempuan yang diketahui susi Itu keluar, kelas 1A berhamburan keluar kelas untuk ke kantin termasuk Sean dan El
Mereka berdua memilih duduk di Pojok.
Sedangkan Arsy berjalan sendirian karena beres dari toilet. Segera ia ke kantin menghampiri Sean dan El.
Diposisi sean dan el mereka sedang makan bersama diselingi cerita-cerita lucu dari keduanya.
Tiba-tiba saja kotak makan berwarna pink dan hijau itu berada di meja keduanya sontak membuat Sean dan El mengalihkan atensi Kepada pelaku.
"Arsy." ucap Sean dan El serempak.
"iya. Buat kalian." Arsy mengambil tempat duduk di depan keduanya.
Ia meletakkan kotak makan berwarna pink tadi kedepan keduannya. Sean dan El yang melihat isi kotak tersebut tersenyum senang.
"Makasih Arsy." ucap mereka serempak. Arsy mengangguk sambil tersenyum Mengusap kepala keduannya melihat antusiasnya mereka ketika makan cookies.
"Arsy yang terbaik." kata El sembari memberi Satu jempolnya.
"Ean tambahin satu jempol lagi, jadi dua." ucapnya menyengir.
Arsy tersenyum senang.
Lalu ia mulai membuka bekal makanan yang di bawanya sendiri dari rumah. Ia lantas memakannya dan mendengarkan cerita-cerita sean dan el dengan sesekali menimpali ucapannya.
......................
"Baiklah, karena sekarang waktu sudah habis dan waktunya pulang maka tugas yang bu guru kasih tadi di kerjakan di rumah ya anak-anak dan besok di kumpulkan biar dapat nilai dan bintang." ucap guru itu.
"iyaa bu guru." jawab murid serempak.
"sekarang kalian boleh pulang dan hati-hati dijalan ya anak-anak cantik dan ganteng. Wasalamualaikum wr.wb." tutupnya di akhiri dengan salam.
"Wa'alaikumusalam bu."
Kelas 1A sudah sedikit sepi karena banyak dari mereka yang langsung keluar kelas sedangkan Arsy dkk (Sean dan El) nunggu sepi dahulu biar tidak berdesak-desakan ketika keluar kelas.
"ayo pulang." ajak Arsy pada Sean dan El. Dan di angguki mereka berdua.
Mereka bersama berjalan beriringan menuju gerbang sekolah.
"Haii anak-anak." sapa Airin ( ibu nya El )pada Arsy dkk.
"Mamah."
"Mamah Airin."
Airin terkekeh, lantas mencium pipi mereka satu persatu.
"C'mon boy girls kita pulang."
"siap Mah/Oke Mah." jawab sean dan El serempak sedangkan Arsy hanya mengangguk sekilas.
Sekarang mereka sudah berada di mobil. Dengan suasana yang ramai karena celotehan dari Sean maupun El. Arsy? Ia hanya menyimak.
Airin yang melihat mereka akrab tersenyum senang tapi ia juga merasa sedih pada gadis mungil di sampingnya yang hanya diam saja bahkan ia hanya terus melamun memandangi luar kaca mobil. Sejak kejadian itu Arsy berubah.
Airin menghelas nafas pelan.
"Arsy?." panggilnya pelan.
Arsy yang dipanggil menoleh binggung dan tersenyum kecil.
"iya Ma?." tanya nya heran.
"Arsy gk berubah Mah, Arsy hanya mau menjadi anak yang kuat buat Mommy dan Ean." jawabnya pelan.
"iklhasin Ayah kamu ya sayang, biar ayah di sana tenang."
"Arsy udah iklhas kok Mah. Biar ayah tenang, Arsy gk mau ayah di sana nangis karena khawatir sama aku, sean dan mommy karena aku janji akan jaga mereka termasuk Mamah airin dan el." jawab Arsy bersungguh-sungguh.
Airin yang mendengar tersenyum, ia bangga dengan pemikiran anak seusia Arsy juga berusaha kuat, selalu membantu sang ibu berjualan kue untuk membeli beras. Ia sudah menganggap Arsy seperti anaknya sendiri.
"Arsy juga janji akan membunuh mereka." gumamnya pelan dengan seringai di bibir pink alaminya. Bahkan tanpa ia sadari pupil matanya berubah menjadi merah darah dalam sekejap.
Airin yang mendengar gumaman Arsy mematung. Tubuhnya bergertar karena aura yang dikeluarkan Arsy membuatnya merinding.
JEDARR
Suara petir sangat keras mengkagetkan mereka bahkan sang sopir yang terkejut membuatnya mengrem mendadak hingga membuat sean dan el yang di samping kemudi menyungsep kedepan.
"Aarggh." teriak mereka serempak karena mobil yang berhenti mendadak.
"Pak adit, pelan-pelan pak!." sentak airin pada sang sopir.
"pelan-pelan pak sopir." cetus sean dan el kompak.
"i-iya Nyonya tuan muda dan noda muda saya terkejut karena suara petir barusan." jawabnya terbata-bata.
Airin hanya mengangguk.
Sedangkan arsy hanya memegang dadanya karena suara petir yang sangat keras.
"anak-anak kalian gpp kan sayang?." tanya airin khawatir.
"jidat ean sakit Mama."
"jidat el juga sakit kepentok kepala nya ean."
Perkataan mereka membuat airin panik dan mengecek satu-persatu dahi mereka.
Ia menghebuskan nafas lega karena tidak ada luka serius.
Arsy menoleh mendapati airin yang sedang melihat dahi sean dan el.
"arsy kamu gpp nak?."
"iya Ma, arsy cuma kaget kok." jawab pelan.
Airin mengangguk lalu menyuruh sopir kembali melaju dengan kecepatan standar.
Hingga beberapa menit kemudian mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan rumah sederhana namun kelihatan sangat elegan di tambah dengan suasana sejuk di lingkungan yang mendukung.
"Sudah sampai nyonya." airin mengangguk pelan.
"Arsy, ean, Mommy kalian masih belum pulang jadi Mamah temenin kalian sampai pulang ya." kata airin.
"iya mah." balas arsy.
"wah, berarti el di rumah ean dulu dong." tanya sean antusias dan di balas el tak kalah antusiasnya.
"Hahaha iya ean." kekeh airin.
"turun." ajak arsy dan di angguki oleh mereka.
setelah mereka turun langsung saja melangkah bersama masuk kedalam rumah minimalis ini.
•
•
•
...
...
Mamah Airin. (Ibu nya el)
...
...
Cardelia/delia (ibunya twins)
...
...
samuel Delano Adiwijaya. El.