Queen Devil'S

Queen Devil'S
13. QD's



Arsy sekarang ada di taman belakang sekolah, ia membolos di jam pelajaran yang masih berlangsung.


Terlalu gerah dan lelah ia besandar si bawah pohon mangga sembari memejamkan matanya, ia tertidur. Tanpa sadar bahwa ada seseorang yang memandangnya lekat.


Hingga kurang lebih 1 jam arsy tidur ia mulai mengerjabkan mata nya perlahan dirasa ada seseorang yang mengusap kepalanya dengan pelan.


"sudah bangun arsy?, tidur lah lagi jika kau masih mengantuk." kata seseorang yang memeluk badan mungil arsy.


"siapa kau?." tanya arsy dingin.


Dengan melepaskan tangan kekar pria itu yang melingkar di perutnya, ia juga menyadari bahwa sekarang ia berada di kasur yang sangat empuk juga nyaman.


Seseorang itu terkekeh pelan melihat nada dingin arsy yang di tujukan pada nya.


"oh baiklah mari kita berkenalan girl, aku Davin putra Robitson." ujar nya dengan senyum lebar hingga gigi rapi nya terlihat.


Arsy mematung mendengar nama pria itu, ia mengenalnya karena marga robitson membuat ia mengingat diary milik mommynya.


Dengan tatapan penuh selidik.


"kau?."


"Ya?." jawabnya tersenyum menyengir.


......................


Dengan langkah tergesa-gesa ia melangkah ke parkiran. Ia melihat sekelilingnya yang sudah terlihat sangat sepi mungkin sekarang hanya ada dirinya saja.


"ARSYY." teriakan melengking dari dua bocah laki-laki serta pria paruh baya menghampirinya dengan raut panik.


"kamu dari mana arsy?."


"arsy kamu gpp kan?."


"nona, mengapa nona tadi menghilang."


"JAWAB ARSY!!." bentak sean tepat di depan muka arsy membuatnya terkejut. Bukan hanya dirinya el juga sopir yang menjemput nya pun terkejut.


"sean!." peringat arsy menatap tajam sean.


"arsy tahu? Kita semua tadi khawatir sama kamu, nyariin kamu sampai keliling sekolah!!."ucapnya datar. Arsy tertegun melihat sean menatap dirinya datar.


"maaf, aku- ."


"kalo arsy mau kemana itu bilang jangan asal pergi, nyusahin tahu gk!." cetusnya sinis. Lalu melakangkah pergi menuju mobil.


"arsy, ayo. Jangan dipikir omongannya sean ya." ucap el berhati-hati.


Arsy hanya mengangguk sekilas.


"em tuan muda dan nona muda, mari kita pulang soalnya ini sudah sangat sore." sahut pak rohmat sopir pribadi el.


"iya pak rohmat, ayo arsy." ajaknya dengan mengandeng tangan arsy menuju mobil yang sudah terdapat sean yang duduk di samping kemudi.


Mobil mulai berjalan, dan arsy termenung mencoba memahami perkataan adek kembarnya.


"kalo arsy mau kemana itu bilang jangan asal pergi, nyusahin tahu gk!." perkataan sean terus berputar di pikirannya.


Seperti kaset rusak, perkataan sean terus menghantui nya. Dada nya sesak mendengar penuturan bahwa dirinya menyusahkan semua orang.


Apa aku semenyusahkan itu?. Batinnya


Baiklah aku sudah membuat keputusan, aku tidak akan pernah lagi membuat semua orang mengkhawatirkan ku lagi. Batinnya menangis ketika ia mengatakan itu.


Hingga beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di halaman perkarangan masion adiwijaya. Dari dalam mobil arsy melihat orang tua angkatnya mencemaskan dirinya terlihat dari guratan wajah mereka.


"Arsy." panggil airin dan dika berteriak ketika melihat arsy turun dari mobil.


Airin dan dika mereka mengetahuinya karena mendapat laporan dari pak rohmat selaku sopir pribadi milik airin. Sopir pribadi milik el sedang mengambil cuti maka dari itu pak rohmat lah yang menggantikan.


"kamu gpp nak?." ucapnya serasa memutar tubuh kecil arsy untuk memastikan bahwa anaknya itu tidak ada luka.


"I'm fine and sorry." kata arsy menundukan kepalanya.


"hufft... Lain kali jangan begitu lagi ya nak." kata dika menghela nafas.


"tadi arsy kemana?." tanya airin.


Arsy yang ditanya hanya diam, ia teringat dengan perkataan dari pria itu yang tak lain davin, pamannya sendiri.


"Mah." panggil el.


"arsy sama el masuk dulu ya, mau istirahat." kata el berpamitan sama orangtua. Sedangkan sean sudah melenggang pergi begitu saja.


Sebelum airin dan dika menjawab, el sudah membawa arsy masuk kedalam lalu menuntun nya ke kamar arsy yang terletak di samping kamar nya.


Sedangkan dika dan airin mengkerutkan bingung melihat sikap el yang raut wajahnya terlihat sedikit datar? Bukan hanya el tapi juga dengan sean dan arsy yang diam dengan pandangan kosong.


......................


Arsy termenung di balkonnya, terlihat dari tatapannya yang kosong. Ia termenung memikir kan perkataan sean yang terus berputar, juga perkataan davin, pamannya pun juga ikut terngiang-ngiang.


"arsy harus gimana sekarang." ujar nya sedih.


"Mom Dadd, arsy pusing. Arsy bingung harus gimana?." tanya nya pada orangtua nya yang sudah tiada. tatapannya mengadah ke ke atas melihat bintang-bintang.


Tanpa sadar air matanya membasahi pipi nya, ia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa.


Lama kelamaan tangis arsy sedikit keras, membuat bocah yang sedari tadi melihat arsy dari samping balkonnya menangis melihat sang kakak yang kacau.


Ia ingin menghampiri nya tapi kecewanya terhadap arsy membuat nya engan mendekat.


Ia hanya melihat sang kakak yang menangis pilu.


"ean?." panngil el pelan. Ia mengikuti arah pandang sean yang sedang melihat arsy menangis menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"ayo masuk el." ajaknya.


"ta-tapi itu arsy?." kata el bertanya. Ia sedih jika melihat arsy yang sudah ia anggap kakaknya menangis seperti itu.


"biarin aja, ayo masuk." sebenarnya sean kasihan dan bersalah tapi mau gimana lagi ia terlalu gengsi.


Mendapat paksaan dari sean, el hanya mengangguk pasrah. Biar lah ia akan menemuinya nanti setelah makan malam.


Disisi lain, arsy yang terus menangis membuat kepalanya bertambah pusing. Karena juga siang ini dirinya belum makan sesuap nasi sekalipun.


Badan nya terasa sangat lemas juga matanya yang memberat membuat ia tak kuasa menahan bobot tubuhnya yang kini sudah menyentuh lantai yang dingin.


Pingsan. Ya arsy pingsan.


......................


At 19.45


"Selamat malam semua." ucap el sedikit heboh.


"malam Mah, Yah." kalem sean.


"malam juga, para jagoan Ayah." ucap dika sedikit menggoda. Airin terkekeh melihat tingkah suaminya.


"malam son." jawab airin.


"oh ya, arsy mana?." tanya dika.


"masih di kamar deh kayak nya yah." jawab el sedangkan sean hanya diam entah kenapa bocah itu sedikit terlihat gelisah.


Dika mengangguk.


"yasudah kita tunggu arsy 10 menit dulu kalo belum ke bawah nanti biar ayah samperin." sahut dika. Dan diangguki mereka.


Sembari menunggu arsy, el memberi candaan membuat mereka tertawa kecil.


Hingga 15 menit kemudian arsy juga belum turun.


"arsy kok belum turun-turun ya, apa masih tidur?." tanya airin pada yang lainnya membuat mereka tersadar jika arsy juga belum ada.


Arsy belum turun, dia kenapa ya?. Batinnya gelisah.


"ini lebih 10 menit bahkan sudah 15 menit lamanya, biar ayah yang cek arsy." kata dika.


"aku ikut yah." srobot airin, entah kenapa ia tiba-tiba gelisah.


"aku juga." jawab el dan sean serempak. Dika hanya mengangguk.


Ketika sudah didepan pintu ber cat coklat, dika langsung saja mengetok pintu itu dan sesekali memanggilnya.


"kok arsy gk jawab ya yah?." tanya el mengkerutkan dahinya.


Apa arsy marah sama ean karena tadi sore?. Batin sean.


"ayah juga gk tahu el." jawab dika menggelengkan kepala.


"dobrak aja mas, aku takut ada apa-apa sama arsy." ucap airin cemas. Apalagi mengingat tingkah laku arsy pandangannya kosong.


Dika mengangguk setuju, sejujurnya ia juga sudah merasakan hal yang menganjal di hatinya.


Tanpa basa-basi dika mendobrak pintu itu hingga hampir roboh.


Mereka serempak mematung melihat keadaan kamar arsy yang berantakan serta ada bercak darah di lantai bahkan ada sebuah pisau yang berlumuran darah.


Dika yang tersadar terlebih dahulu pun mengedarkan pandangannya kesegala arah dan tanpa sengaja ia melihat kertas yang tertempel di dinding tepat di atas nakas.


Ia mengambil kertas itu dan matanya sontak melotot tak percaya.


"mas," gumam airin menyadarkan dika.


"ayah, isi kertas itu apa?." tanya el penasaran karena melihat dika yang wajahnya pucat pasi setelah membaca kertas itu.


Begitupun dengan airin yang yang sudah bergetar ketakutan, kakinya lemas terduduk dilantai. Airin terlihat shok setelah membaca kertas itu.


"Mamah."


"airin."


Teriak mereka kala melihat airin yang lemas bahkan sekarang ia sudah pingsan dipelukan dika.


"mamah gk papa kan yah?." tanya twins kompak.


Dika mengangguk.


"Ayah mau bawa mamah ke kamar buat istirahat. Kalian juga ke kamar, makan malam nya biar dianter maid." tegas dika dan dua bocah itu hanya mengangguk.


Setelah dika keluar, sean dan el mengambil kertas yang di jatuh kan oleh airin dan membacanya.


Sean dan el mematung membaca kertas itu.





.


.


.