Queen Devil'S

Queen Devil'S
7. QD's



Diperjalanan kembali ke rumah setelah mengantar jenazah Mommynya. Arsy hanya diam melamun memandangi gedung-gendung yang menjulang tinggi dari kaca mobil.


Pria paruh baya yang sedang mengemudikan mobil mengehala nafas lelah, memperhatikan gadis kecil yang rapuh itu dalam diam.


"Yah?." panggilnya pelan.


"ya arsy, kenapa?." tanya nya mengelus puncuk kapala arsy dengan sayang. Ia sudah menganggap arsy seperti anaknya sendiri.


"Mommy?." seakan mengerti yang dimaksud arsy ia mengangguk pelan. Ia meminta penjelasan kronologis soal ibunya yang sudah meninggal.


"tadi siang tepat nya jam 10.37 Mommy kamu meninggal. Ayah dan Mama pergi ke rumah kamu sekedar berkunjung untuk memberikan oleh-oleh buat kalian, tapi lama ketika kita mengetuk pintu dan gk ada yang ngebukain pintu padahal posisi pintu itu sedikit terbuka jadi kami memutuskan untuk masuk duduk diruang tamu dan sesekali Mamah memanggil Mommy kamu  tapi tak kunjung mendapat sahutan."


"kita memutuskan untuk mencari Mommy mu dan kita menemukannya di kamar dalam posisi badan yang tergeletak dilantai, dengan buru-buru Ayah sama Mamah membawa nya kerumah sakit tapi kata dokter Mommy mu sudah meninggal sebelum dibawa kerumah sakit." jelasnya lanjut setelah mengehala nafas berat.


Arsy hanya diam tidak merespon penjelasan dari pria paruh baya itu, Dika ayah dari Samuel/ el.


Tak lama mobil yang di tumpanginya berhenti didepan rumah arsy yang masih banyak tamu. Sekedar ngobrol, melayat. Entahlah.


Arsy dan dika melangkah memasuki rumah sederhana tapi tampak nyaman itu. Ia melihat Airin yang sedang memeluk el karena bocah itu sedang menangis.


"Mah." panggilnya seraya menghampiri.


"eh arsy." arsy hanya mengangguk ia melirik kearah el yang dimengerti oleh wanita itu.


"el nangis karena lihat ean ngamuk-ngamuk di kamarnya, el kata nya ia gk tega." ucap nya gusar.


"el?, jangan nangis terus nanti mata kamu bengkak." ujar nya dengan mengelus puncak kepala anak itu yang masih sesengukan.


"arsy hiks el kasian sama ean hiks ean nangis terus arsy hiks hiks huaaa hu huhu hiks." tangisnya semakin deras.


Memang, el sekhawatir itu sama sean karena mereka selalu berdua seperti anak kembar. El lebih dekat dengan sean tapi juga dekat dengan arsy tapi tak sedekat dengan sean. el sangat mengerti dengan sifat arsy yang tidak cengeng, kuat  dan pemberani juga galak itu. El juga menganggap arsy kakak nya sendiri.


"ean biar arsy yang nenangin ya, el gkusah nangis lagi." jawabnya datar terkesan lembut.


El mengangguk singkat, lalu ia memeluk arsy singkat dan terlihat sangat erat.


"arsy harus kuat ya." bisiknya tepat ditelinga arsy membuatnya geli.


"arsy selalu kuat." bisiknya mengelus kepala el.


"arsy ke ean dulu." ucapnya sambil melepas pelukan itu.


"iya arsy." setelah pamitan pada el dan keluarganya ia menuju ke kamar dimana ean ada.


......................


Dari luar arsy bisa mendengar suara tangisan sean. Di lubuk hatinya paling dalam ia kasihan terhadap adek kembarnya. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan selalu ada untuk sean.


"sean." panggilnya.


Tok


Tok


Tok


"Buka pintunya ean, arsy mau masuk." hening, hanya ada suara isak tangisan saja.


"Ean jangan gini, arsy sedih lihat ean nangis terus." ucap nya lirih tapi ia yakin sean masih mendengar suaranya.


Arsy terduduk di depan pintu kamar sean sesekali mengetuknya.


Ia menundukkan kepalanya dalam dan menahan nangis yang sangat ingin ia keluarkan.


Kaki kecil yang jenjang terlihat di matanya yang memburam karena air mata yang menumpuk siap untuk meleleh.


Tak lama ia mendongak, melihat mata sembab adek kembarnya membuat hatinya bertambah sakit. Air matanya pun juga sudah membasahi pipi.


"Ean." gumamnya kecil.


Sean memeluk arsy erat. Ia melupakan marahnya sesaat karena dirasa membutuhkan sang kakak.


"arsy hiks hiks."


Arsy mengangguk pelan lalu berdiri dan menuntun sean untuk masuk kedalam kamarnya.


"cup cup cup hiks."


Dengan sekuat tenaga arsy menahan isak tangisnya ia tidak mau terlihat lemah didepan adeknya sendiri.


Ia dekap tubuh mungil sean, mengelus punggung yang terus bergetar karena menangis. Ia membiarkan sean menangis sepuasnya. Dan dalam diam ia juga menangis. Tidak tau ia harus bagaimana alhasil ia hanya nenangin sean dengan kecupan-kecupan singkat di dahinya.


Arsy juga anak kecil yang rapuh.


Lama karena menangis membuat sean dan arsy tanpa sadar tertidur sambil berpelukan dengan air mata yang masih basah di sudut matanya.


Sepasang mata yang melihat mereka juga terlihat menangis memeperhatikan mereka yang tertidur nyenyak.


                                   


......................


Eunggh


Suara lenguhan arsy membuat airin tersenyum. Ia menyuruh gadis kecil rapuh itu untuk membersihkan badan dan membangunkan sean lalu makan malam.


Arsy hanya mengangguk singkat.


Ia menoleh kearah sean yang masih terlelap nyenyak.


"ean?, bangun yuk. Udah malem kamu belum makan." ucapnya dengan sesekali meringis karena tenggorokannya terasa sakit.


Karena tidak ada pergerakan dari nya, dengan pelan ia menguncang badan kecil itu perlahan. Tak lama mata berwarna hitam sedikit kecoklatan terbuka mengerjabkan menyesuaikan cahaya lampu yang membuatnya silau.


"um." ia mendusel kan kepalanya ke perut arsy karena posisi arsy yang memang sedikit memeluk kepala sean.


"ayo bangun ean."


"bentar lagi arsy, ean masih ngantuk."


"sekarang Arsean." kedua matanya melebar dan ngantuk nya hilang seketika mendengar nada datar sang kakak kembar.


"iy-ya arsy, ini ean bangun kok." cicitnya pelan melihat tatapan tajam arsy yang dilayangkan untuknya.


"Hm, mandi lalu keluar makan." titahnya dan sean yang langsung lari terbirit-birit ke kamar mandi. Arsy yang melihat itu terkekeh gemas.


Ia keluar dari kamar sean dan kembali ke kamar nya sendiri, ia mulai mengambil handuk dan bergegas mandi.


Hingga beberapa menit kemudian arsy selesai, ia keluar dari kamar mandi siap dengan baju tidur yang sedikit kedodoran.


Dirasa sudah, ia berjalan tempat meja makan. Disana sudah ada Orangtua el dan juga sean.


"malam." ucapnya datar tanpa senyum.


Airin dan Dika tersenyum miris melihat wajah arsy tanpa adanya ekspresi.


"malam arsy." jawab El dan Sean kompak.


"arsy sini sayang, ayo kita makan bersama Mamah tadi masak kesukaan arsy, ean, sama el loh."


"wahh pasti enak deh Mah." ucap el.


"iya Masakan Mamah airin emang the best."


"iya dong kan istri Ayah." ucap Dika bangga dengan daku diangkat tinggi.


Tawa mereka pecah mendengar penuturan Dika, sedangkan dika merasa senang setidaknya arsy dan sean melupan kesedihannya.


"ayo-ayo kita makan."


"selamat makan semua." ucap twins e.


"Oh iya Mah..." ucap ean menjeda kalimatnya.


Airin hanya berdeham sebentar karena ia sedang mengunyah makanan.


"Mommy kemana mah, kok gk kelihatan?." pertanyaan sean membuat mereka membeku karena sean berpertanyaa seperti itu.


Mereka menatap sendu sean, dan arsy menatap sean pandangan sedih dan juga tatapan yang entah apa.


"em sean." panggil Dika pelan.


"Iya yah?. Ean nyari Mommy dulu bentar ya biar kita makan sama-sama." ucapnya lalu mencoba menyari sang ibu yang tidak terlihat.


ia mencoba bertanya pada airin juga dika.


"Mah, Mommy kemana? Apa mommy lagi keluar beli sesuatu ya?." tanyanya bingung.


"hufft.. Ean? Ean lupa ya kalo mommy udah gk ada." kata arsy memeluk sean yang mematung mendengar itu.


Lama terdiam sean hanya mengangguk pelan dengan pandangan kosong. Ia mulai kembali duduk dan memakan makanan nya kembali.


Ternyata bukan mimpi ya?. Batinnya.


Mereka semua menatap sendu kearah bocah itu yang terlihat seperti tidak berselera untuk makan, bahkan makanan nya hanya dibuat mainan.


"ean, jangan dibuat mainan dong, dimakan ya. Nanti kalo udah selesai Ayah sama Mamah airin mau ngomong sesuatu ke kalian." arsy, sean hanya mengangguk lalu mereka melanjutkan kegiatan makan yang tertunda.





.


.


.