
Disinilah Nifa sekarang ia berada di rumah sakit immanuel menemani Brave dari kemarin pulang sekolah. Sejak tadi Brave menyuruh Nifa pulang, ia tak tega melihat Nifa wajahnya pucat, lesu tapi gadis itu masih saja kekeuh untuk menjaganya.
Seperti sekarang ini Nifa masih saja menatap Brave dengan mata sayunya akibat kurang tidur demi menjaga kekasihnya. Ia menatap seolah olah ini terakhir kalinya, ia tidak mau Brave meninggalkannya.
"Nif, sebaiknya kamu pulang dulu aku kasian liat kamu" ucap Brave lembut mencoba untuk membujuk Nifa namun dia hanya mengeleng geleng kepalanya saja.
"Nanti gaada yang jagain kamu, trus kalau kamu kenapa napa gimana?" ucap Nifa khawatir.
Brave menghebus nafas pelan
"Tenang aja, aku udah telpon paman dan bibi katanya mereka akan kesini sebentar lagi" ucap Brave meyakinkan.
tok...
tok...
tok...
Munculah paman dan bibi Brave mereka membawa buah keranjang serta tas yang berisi baju sepertinya mereka akan menginap untuk menjaganya.
"itu paman dan bibiku udah datang" ucap Brave menunjuk mereka dengan dagu.
Bibi Brave datang menghampirinya
"kamu siapanya Brave? pacarnya?" tanya Bibi Renita sambil tersenyum menatap Nifa.
"iya bi" jawab Brave cepat membuat Nifa salah tingkah, Nifa cepat cepat membuang mukanya.
gemes banget sih!!! batin Brave ingin mencubit pipi Nifa yang merah.
"sebaiknya kamu pulang Nifa, istirahat dulu aku kasian liat kamu" ucap Brave khawatir dengan keadaan kekasihnya sekarang.
"tapi aku pengen nginap disini" ucap Nifa dengan mengembungkan pipinya kesal.
Brave langsung mencubit pipi Nifa, ia gemas sedar tadi melihat tingkah Nifa.
"ih gemesnya!"
"ahw sakit tau!"
"Betul apa yang diucapkan Brave, nak Nifa pulang dulu, istirahat nanti kalau misalnya mau nginap kamu sekalian bawa baju aja, oke" ucap Bibi Renita menyentuh bahu Nifa lembut.
"yaudah deh Nifa pulang dulu, om sama tante jagain Brave ya!" ucap Nifa saat sampai di pintu keluar sebelumnya ia telah mengambil tasnya di sofa.
"pasti nak" ucap Paman dan Bibinya serentak sambil mengangkat tangan membentuk oke.
Brave hanya menatap kepergian Nifa dengan senyum yang dipaksakan.
Tak lama dari kepergian Nifa, Brave merasakan sakit kepala yang amat sakit paman dan bibinya panik dan segera menekan tombol disamping nakas untuk memanggil dokter.
"ahw sakit bi" rintih Brave memegang kepalanya dengan tangan kanan.
"bertahan lah nak dokter akan kesini" ucap Renita panik. Pamannya Brave-Rudi hanya menenangkan istrinya, ia juga khawatir dengan keadaan Brave.
Tak lama dokter dan suster muncul dipintu dengan tergesa gesa, ia segera mencek keadaan Brave.
"Mohon bapak dan ibunya keluar dulu sebentar"ucap suster yang membantu kerja dokter itu.
Rudi dan Renita pasrah berjalan menuju pintu keluar, bibi Renita tidak rela ia sedari tadi sudah menangis tiada hentinya. Rudi sebagai suami hanya mencoba menenangkan istrinya.
"Mas Brave mas hiks..."
"kalau Brave kenapa kenapa gimana mas hiks..."
Akhirnya beberapa menit dokter keluar, Rudi dan Renita segera menghampirinya dan menanyakan keadaan Brave.
"dok, gimana keadaan Brave?" tanya Rudi khawatir.
"brave mengalami kanker otak stadium 4 dimana sel sel kanker aktif membelah"
Dokter itu menghela nafas kasar sebelum melanjutkan ucapanya.
"Pasien harus segera dioperasi kalau tidak tumor didalam otak akan bertambah banyak dan akan membahayakan hidupnya" ucap dokter itu panjang lebar.
"mas brave.... hiks....." rintih renita menangis.
"dok, apakah operasi itu akan sukses?" tanya rudi menatap dokter ragu.
"kemungkinan bisa" ucap dokter itu ragu.