psychopath Boyfriends

psychopath Boyfriends
Part 20



 


Seorang gadis terlihat sedang menunggu sesuatu, ia berjalan kesana kemari tak tau arah sambil mengigit ujung jarinya gelisah. Sedangkan seorang gadis yang dikenal sebagai sahabat dekatnya itu tengah berfikir keras untuk mencari solusi untuknya.


 


"lo ngapain sih bolak-balik kek setrikaan, mendingan lo duduk deh nenangin diri lo dulu!" Perintah krystal jengah melihat kelakuan sahabatnya ini.


Nifa terduduk lemas di sisi ranjang


"Tal, gimana nih. gw udah nerima ajakan fathi, kalau gw tolak gw ga enak sama dia. Dan kalau brave tau pasti dia marah" ucap Nifa kesal mengacak rambutnya gemas.


"lo sih bukannya mikir dulu" balas Krystal kesal.


"Menurut gw sih, lo bilang sama Fathi kalau lo bener bener gabisa" lanjut krystal.


"Tapi, gw ga enak nanti ma dia" ucap nifa lesu.


"ya mau gimana lagi, pasti dia tau lah lo dah punya pacar" ucap krystal menenangkan.


"yaudah"ucap Nifa pasrah


"tapi brave sampai sekarang belum balas pesan dari gue"ucap Nifa menatap layar ponselnya.


"Positif thinking aja, mungkin ponselnya lowbet"ucap krystal menatap kasian Nifa.


"tapi, foto yang lo ka---"ucap Nifa terpotong saat jari telunjuk krystal menyentuh mulutnya.


"Udah udah, gausah dipikirin lagi"ucap krystal mencoba menenangkan sahabatnya.


"mendingin kita makan, gw traktir"sahut krystal semangat.


Disisi lain...


"Gw duluan rel" ucap brave sambil memegangi kepalanya.


"eh lo kenapa brave" ucap farrel menghampiri brave khawatir.


"pala lo sa--" belum saja farrel hendak menyelesaikan kata katanya, tiba tiba brave langsung terjatuh.


farrel yang melihatnya panik, ia langsung membopong brave dan membawanya ke mobil.Ia mengendarai mobilnya dengan sangat cepat dan ugal ugalan tanpa menghiraukan para pengemudi lain yang marah terhadapnya.


farrel mematikan mesin mobilnya, dan segera membopong brave menuju rumah sakit Immanuel


"Suster, tolong teman saya" teriak farrel sedikit ngos ngosan.


Dua suster disana langsung menghampiri farrel dengan membawa brankar. dan membawa brave ke ruang ICU.


"Sebaiknya mas tunggu disini, biar dokter menanganinya" ucap suster sambil menutup pintu ruang ICU.


Selang beberapa menit pintu icu terbuka, menampilkan sang dokter dengan wajah tidak dapat diartikan.


"bagaimana dok, keadaan teman saya?" tanya farrel khawatir.


"Teman anda mengidap kanker otak stadium tiga, sebaiknya segera dilakukan operasi kalau tidak bakterinya akan terus menyebar" ucap dokter tersebut panjang lebar dan berlalu pergi.


Seketika tubuhnya membeku


kenapa brave ga ngasih tau gw, apa dia gak ngagep gw itu sahabat kecilnya? itulah yang selalu tergiang giang diotak farrel.


Akhirnya farrel membuka pintu ruang ICU dan terlihatlah seorang pria dengan wajah pucat.


"rell, tolong ambilin minum" ucap brave lemas.


farrel langsung mengambilnya di nakas dan memberinya kepada brave.


Selang beberapa menit tidak ada yang berbicara, Susana terasa hening. Hingga..


"Brave kenapa lo gak cerita sama gue?"tanya farrel menatapnya sendu


Brave menatap binggung farrel


"hah" sahut brave tak mengerti.


"Ga usah pura pura gatau deh, lo punya penyakit kanker otak sejak kapan? kenapa lo gak ngasih tau! gw ini sahabat lo bukan sih!!" ucap farrel emosi dan memeluk brave.


sedangkan brave terkejut mendengar penjelasan farrel. gw kanker otak?


batin nya tidak terima.


"gw gak tau sama sekali" ucap brave menatapnya tidak percaya.


"kata dokter lo sakit kanker otak stadium tiga" ucap farrel parau.


Brave melotot tidak percaya, tubuhnya lemas seperti jelly. gimana gw harus jagain bunda, Nifa?


"lo udah kasih tau bunda?" tanya brave.


"belum gw gak kepikiran itu, yaudah gue mau telpon nyokap lo sekaligus nifa!" sahut farrel berlalu pergi, namun brave mencekal tangannya.


"Jangan kasih tau Nifa gw gamau di khawatir" ucap brave terdengar parau.


"tapi nifa pacar lo, dia berhak tau" ucap farrel tegas.


"Tolong jangan buat dia khawatir, rell"


___________________