
*
"cinta gak perlu pake alasan Nifa, gw gak punya alasan buat suka sama lo. Kalau seandainya ada maka gw gak tulus cinta sma lo karna jika alasan itu hilang berarti cinta itu akan hilang" ucap brave dengan lembut.
Blushh....
Seketika pipi Nifa sudah memerah seperti tomat matang, mendengar ucapan brave membuat dirinya baper.
"kenapa lo nanya kyk gitu" ucap brave heran.
"ga-ga papa" ucap Nifa gugup. Ia masih berusaha menetralkan jantung ya yg masih berdegub kencang.
Brave hanya menjawab dengan mulut yg dibentuk seperti huruf "O".
Lalu mereka melanjutkan makannya masing masing.
Akhirnya setelah makan selesai, mereka berdua langsung meninggalkan kantin.
"Brave, gue kekelas duluan ya" ucap Nifa mendahului brave.
"ya, nanti gue antar lo pulang" teriak brave, yg ntah terdengar oleh Nifa.
Sesampainya dikelas, suasana masih belum terlalu ramai. Karna bel masuk belum berbunyi.
Nifapun akhirnya menduduki bangku ya, dan betapa kaget ya ia saat ia melihat ada sebuah kotak berupa kado dengan pita diatas ya.
Nifa ragu untuk membukannya, namun ia penasaran. Akhirnya ia membuka kotak tersebut dengan rasa takut dan penasaran.
"AAAAA" teriak Nifa setelah ia membuka kotak tersebut
Nifa langsung menelepon brave dengan panik.
Sedangkan brave ia sedang berjalan menuju kelasnya, namun ia merasa kantong celananya bergetar. Ia merongoh dan ternyata sebuah panggilan dengan tertera nama Nifa.
Ia pun langsung mengangkat ya.
'*ya, Nifa ada apa'
'ehm.. Ga kok'
'Gak, lo bohong'
'ehm.. Tadi aku nemuin kotak di meja'
'oh... Aku kesana sekarang'
Tut.... Tut.... Tut*....
Nifa masih menangis disana, ia berpikir mengapa orang itu melakukan kepada ia.
Selang berapa menit akhirnya brave datang dengan tergesa-gesa dan langsung menghampiri Nifa.
"Nif, lo gapapa" ucap brave meraih kotak tersebut. Dan membukanya
Betapa terkejut ya ia melihat sebuah boneka barbie dengan kepala, tangan, dan kaki terpisah dengan darah dibagikan bagian tersebut. Dan terdapat surat didalam kotak tersebut.
'LO GAK PANTES DAPET APA YANG LO MILIKI'
Dengan sekejap rahang brave memerah serta dengan wajah menahan marah. Dan langsung membuang kotak tersebut beserta surat yg sebelum itu ia lihat nama pengirimnya dan tertera c.
Hal itu membuat brave dan Nifa bingung, dengan inisial C yang menerornya kemaren.
"Nif, nama temenli ada gak dari huruf c" tanya brave.
"Ada, tapi disekolah sebelum gue pindah" jawab Nifa.
"namanya siapa?" tanya brave lagi.
"Ciara" jawab Nifa.
"ehm... Dia orangnya gimana" tanya brave introgasi.
"ehm.. Aku blm tau Juga, denger denger dia per--" ucap Nifa terpotong oleh suara bel
"yaudah deh, nanti disambung" ucap brave pergi meninggalkan kelas tersebut.
Sedangkan Nifa ia masih bingung dengan huruf itu. Selang beberapa waktu para siswa kelasnya masuk dan diikuti dengan guru sejarah.
Nifa memilih membuang pikirannya, dan fakus terhadap penjelasan guru tersebut. Karna ia memang suka pelajaran ya.
*
*
*
Bunyi suara surga pun datang yaitu bel pulang. para siswa disana bersorak senang. Lain halnya dengan Nifa ia masih saja mengingat peneror itu.
"Nif, bareng yuk" ucap krystal.
"gak Nifa, dah sama gue" ucap brave dingin membuat krystal bergedik ngeri.
"oh, ok" ucap krystal pergi.
"kebiasaan, muncul tiba tiba" ucap Nifa sinis, dan dibalas dengan cengiran di wajahnya.
"maaf kan lah, pacarmu ini" ucap brave memelas. Dan itu membuat Nifa gemas.
"yok... Pulang" ucap brave menarik tangan Nifa.
"ih, sakit tau" ucap Nifa cemberut dan membuat brave gemas. Ia langsung mengacak acak rambut Nifa.
"kebiasaan" ucap Nifa berlalu meninggalkan brave.
"yangg... Tunggu" ucap brave mengejar Nifa.
*
*
*