
gue gabisa kaya gini, gw harus sembuh masih ada nifa yang butuh gue, tuhan tolong sembuhkan gue....
Brave menarik nafas perlahan lahan lalu membuangnya dengan kasar. Ia segera berjalan dengan langkah gontai menuju pacarnya.
"maaf ya lama" sahutnya lalu kembali duduk.
"iya gapapa, kamu mau pesen apa?" Nifa.
"ehm, nasi goreng sama mineral aja"
"kok air mineral? biasanya kamu pesen americano?" tanya Nifa menatap kekasihnya bingung.
"lagi pengen aja"
"oke, dua nasi goreng dengan coffe latte satu dan mineral satu. Ada tambahan?" tanya pelayan itu sambil mencatat pesanan mereka.
Keduanya menggeleng dan pelayan itu pergi meninggalkan mereka dengan suasana canggung sebab Nifa masih teringat pristiwa tadi.
"nif kalau satu atau dua hari aku gak sekolah, berarti aku ada urusan. Jangan cari aku yaa"
ucap Brave sambil menatap Nifa sendu.
"hah, kenapa? kenapa aku ga boleh cari kamu?!" tanya Nifa bingung.
"gapapa, nanti aku ngerepotin kamu"
"ya gak lah, kamu itu orang yang paling aku sayang setelah orang tua aku. Mana mungkin aku ga cari kamu! sampai ke ujung dunia juga aku bakalan cari kamu!" ucap Nifa dengan kesal.
"udah pinter gombal ya sekarang" ucap Brave gemas mencubit pipi kelasihnya.
gimana aku mau ninggalin kamu, kalau kamu nya kayak gini batinnya miris.
"ahw, yaiyalah siapa lagi pacarnya" jawab Nifa sambil tersenyum senang.
"permisi"
Pelayan itu segera meletakkan pesanan pesanan mereka dengan cepat takut menghacurkan susana mereka dan segera pergi.
Keduanya pun asik dengan dunia makanan mereka.
"haybisy ini keymanay?"tanya Nifa dengan mulut penuh makanan.
Dengan cepat Nifa segera mengunyah dan menelannya.
"habis ini mau kemana?" tanyanya lagi.
"tuh kan" ucap Brave mengabil tissue dan mengelapnya ke ujung bibir kekasihnya.
Hal itu membuat Nifa membeku hanya jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasannya ditambah dengan semburat merah pipinya.
"kamu sakit?" bisik brave ditelingannya.
"hah? eng-gak kok!" ucap Nifa gugup sambil membuang mukannya yang merah.
aduuhhh ni jantung diem dulu napa sihh!!!
"ituuu pipinya merah" goda brave sambil menoel pipinya.
"ih engga" ucap nifa kesal dengan mengerucuti mulutnya. Hal itu membuat Brave semakin gemas dengan tingkah kekasihnya itu. Dengan segera ia mengacak acakan rambut kekasihnya.
"jangan gitu dong mukanya, aku gamau muka gemas kamu dilihat orang orang disini!" Brave cemburu sangat cemburu apalagi sekarang ia telah jadi pusat perhatian. Ditambah cafe ini banya sekali pengunjung yang datang.
"ih cemburu yaa" goda Nifa dengan tawannya. lalu keduanya tertawa bersama sama seakan dunianya adalah milik mereka berdua. C**afe ini merupakan saksi dimana mereka menyimpan sebuah kenangan yang begitu indah, sebelum salah satu dari mereka menghilang.
____________
"thanks for today" ucap Nifa yang hendak keluar dari mobil milik kekasihnya.
Namun sebelum itu brave segera menarik pergelangan tangan Nifa. Nifa menatap brave dengan tatapan bingung sebab kekasihnya ini menatapnya juga dengan tatapan sendu.
grep
Brave segera memeluk Nifa dengan erat, seolah olah tidak mau pisah dengan kekasihnya itu.
"biarin kayak gini dulu" ucap Brave lirih sambil menahan tangisannya.
Sekali lagi Brave berfikir apa mungkin ini adalah pelukan terakhirnya sebelum ia meninggalkan kekasihnya? kalau begitu ia tidak akan melepaskannya bukan?!
Biarlah dia egois kali ini. Apakah ia salah? ia hanya ingin memiliki Nifa disela sela kematiannya. Apakah dia salah?!