
Nifa's POV
Putus Asa. Itulah gambaran hati gw saat ini. Sejak tadi gw berusaha nyariin Brave tapi ga ketemu dan apa coba maksud dari pertanyaan yang dia ajukan ke gw!! gw sama sekali gak ngerti, kalau seperti ini kenapa dia dari awal maksa gw buat jadi pacarnya. bullshit!!
Gw dah nanya ke Farrel tapi dia bilang gatau sama sekali dan sekarang gw harus nanya ke siapa lagi. Bahkan rumahnya pun gw gatau!? Bodoh banget sih gw!!
Dan kali ini gw mau nanya lagi sama tuh Farrel, awas aja dia gatau!!
"bentar tal" ucap gw yang membuat Kristal memberhentikan jalannya.
"apa nif?"
"ehm, gw mau nanya alamat rumah brave aja kali ya sama farrel"
"yaelah, masa lo gatau rumah pacar lo sendiri?" tanya Kristal bingung, gw cuman garuk garuk kepala gw yang sebenarnya ga gatel.
"ayok dah"
Hampir saja gw sampai, tapi sebelum itu gw denger pembicaraan Farrel gatau sama siapa. Dan gw mencoba untuk nguping siapa tau ada informasi yang bersangkutan tentang Brave.
'ada apa brave?'
'hah? lo kemoterapi sejak kapan? kok lo gak ngasih tau gw'
WHAT!? gw langsung membeku seketika.
Air mata gw langsung turun karena dengar semua percakapan Farrel, berani beraninya brave gak ngasih tau ke gw. Jadi selama ini gw dianggap apa?! Apa gunanya gue sebagai pacarnya!? Bahkan dia udah janji gaada rahasiaan!
Kristal langsung memeluk gw sambil ngelus punggung gw mencoba untuk menenangkan gw.
"udah nif, udah, mungkin brave lakuin itu biar supaya lo ga khawatir"
"lah trus gw ini dianggap apa ma dia!! kita ini pacaran harusnya gaada rahasiaan!! hiks... hiks.." ucap gw sambil nangis sesegukan.
"dan dia ngejalanin semua ini sendiri, pacar macam apa gw ini!!" ucap gw sambil melepaskan pelukan Kristal dan berlari menuju taman belakang. Tempat gue untuk menenangkan diri.
Disana gw langsung meluk diri gw sendiri, ntah kenapa gw merasa bersalah. Disaat dia berusaha bertahan melawan penyakitnya dan gw hanya bersenang senang dibawah penderitaan pacarnya sendiri.
udah nif lo gaboleh nangis, yang penting gw harus tau dimana keberadaan brave. farrel? ya farrel cuman dia yang tau batinnya berusaha menenangkan dirinya.
Gw langsung menghapus air matanya dengan kedua jarinya dan segera mencari farrel.
Nifa's POV end
Bel masuk sudah berdering sejak tadi, sehingga tidak ada yang memperhatikannya, keadaan luar sangat sepi.
Kaki Nifa telah berada didepan pintu ruang kelas Farrel. Perlahan dia menarik nafas dan membuangnya pelan.
tok..
tok...
"Assalamuallaikum, permisi bu disini saya ingin memanggil Farrel karena ada urusan mendadak"
"oke silahkan"
Farrel's POV
Disaat gw sedang fokus terhadap penjelasan yang diberikan bu Wati yaitu matematika dan saat itulah fokus gw buyar mendadak kaku melihat seorang gadis itu.
"farrel silahkan" ucap bu wati ramah.
aduh mampus gw!! jangan jangan nifa tau!! batin gw gelisah.
Dengan gelisah gw ikutin aja tuh nifa sampai di taman belakang sekolah. Dan sekarang Nifa menatap tajam kearah gw, gw bisa liat dari mata nya tuh kayaknya dia punya banyak pertanyaan untuk diajukan ke gw.
njirr, ngeri gw!!! pliss jangan bilang dia mau nanya brave lagi?
"Pasti lo tau tentang Brave, dimana dia sekarang"
SKAKMAT