psychopath Boyfriends

psychopath Boyfriends
Part 29



"Pasti lo tau dimana Brave sekarang!" ucap Nifa dingin dengan menatap Farrel tajam.


******!


Skakmat!


"hah?" ucap Farrel pura pura bingung.


"Gausah pura pura gatau, gue denger


pembicaraan lo tadi!" ucap Nifa berjalan maju kehadapan Farrel.


aduh! brave maafin gue!! batin Farrel takut.


Keringat dingin mengalir deras di pelipis farrel, ia tak tau harus gimana lagi.


"i-tu brave di ru-mah sa-kit imma-nuel" ucap Farrel gugup dan berlari meninggalkan Nifa yang masih mematung.


Nifa segera berjalan cepat menuju kelas untuk mengambil tasnya, ia berencana bolos hari ini.


*tok..


tok..


tok*..


"Silahkan masuk!" ucap guru matematika dari dalam.


Yang pada awalnya siswa siswa fokus kepada Bu Sukinah kini teralihkan kepada Nifa sebab ia masuk dengan mata dan hidung merah, semua orang pasti tau kalau dia habis menangis. Nifa berjalan kearah mejanya dan mengambil tasnya, krystal-teman sebangkunya bingung dan mencoba memanggilnya namun ucapannya tak dihiraukan.


Segera Nifa berjalan menuju meja bu sukinah untuk meminta izin karena urusan keluarga. Bu Sukinah langsung mengaguk karena melihat suasana wajah Nifa yang tak bersahabat.


Nifa berlari menuju gerbang depan sekolahnya, sebelumnya ia telah meminta izin kepada guru piket.


Nifa menengok kekanan dan kekiri untuk meliahat adakah semacam angkutan umum atau ojek. Ia tidak memesan ojek online karena membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menunggu ojek online.


Untung saja dipersimpangan ada pangkalan ojek. Ia segera berjalan kesana dan mengatakan kemana tujuannya lalu menaikinya.


Ditengah tengah perjalanan Nifa masih memikirkan Brave, penyakit apa yang dia alami? dan Bagaimana keadaanya itu semua terus berputar putar diotaknya. Bahkan ia menangis dalam diam selama perjalanan.


Sebuah suara tiba tiba membuyarkan lamunannya.


"neng, udah sampai!"


Nifa turun dari kendraan beroda dua itu. Ia menyerahkan helm dan membayar sesuai jauh perlanannya tadi lalu berlalu pergi masuk ke rumah sakit Immanuel.


Kaki Nifa berhenti disalah satu tempat dan bertanya kepada repsesionis yang dihadapannya.


"Permisi, Apakah pasien yang bernama Brave Naufal Alfarras dirawat dirumah sakit ini?" tanya Nifa panjang lebar.


"maaf, anda siapanya pasien?" tanya repsesionis itu sopan.


"tunggu saya akan cek" ucap Repsesionis cewek itu sambil mencari nama Brave.


"Pasien Brave Naufal Alfarras berada diruang Mawar nomor 213" jelas repsesionis cewek itu.


"ehm, kalau boleh tau dia dirawat disini karena penyakit apa?" tanya Nifa khawatir sambi mengigit kuku jarinya.


"dia mengalami kanker otak stadium tiga"


Runtuh sudah pertahanan Nifa yang sedari tadi menahan nangis dihadapan repsesionis ini.


"makasih sus" ucap Nifa berlalu pergi sambil menghapuskan jejak air matanya dengan kedua tangannya.


Nifa berjalan dengan tergesa gesa mencari ruang mawar dimana brave berada sekarang, ia melewati lift sampai akhirnya ketemu.


Sekarang Nifa berada di depan pintu ruang Mawar, ia ragu untuk membuka pintu itu, ia takut kalau ia bertambah nangis ketika melihat Brave terbaring lemah diatas brankar.


Nifa menarik nafas dan membuangnya pelan, ia melakukannya sebannyak tiga kali.


ceklek


Nifa mematung, ia melihat Brave dengan alat infus ditangannya dan juga Brave melihat Nifa melotot tidak percaya atas kehadirannya.


Brave membuang nafas pelan, ia pasrah dengan reaksi Nifa nanti, ia takut Nifa meninggalkannya karena brave mempunyai penyakit ini.


Perlahan Nifa berjalan mendekati Brave yang terbaring diatas brankar.


Brave mencoba tersenyum setulus mungkin untuk membuat Nifa tidak nangis dihadapannya. Jujur Brave tidak sanggup melihat Nifa menangis dihadapannya ia merasa hatinya teriris iris sakit.


"kamu cuman demam kan?" tannya Nifa dengan mata berkaca kaca.


"kenapa kamu ga bilang sama aku!! hiks.. kenapa kamu rahasiain soal ini! aku berhak tau brave! hiks.. aku ini pacar kamu!! aku merasa ga berguna jadi cewek kamu!! hiks..." ucap nifa panjang lebar, ia sudah tidak tahan untuk menangis sekencang kencangnya.


Brave mendengarnya hanya tersenyum getir berusaha untuk duduk diatas berangkarnya.


pluk


Brave memeluk Nifa sangat erat seolah tidak mau meninggalkannya, seolah olah ini adalah Pelukan terakhirnya.


"kamu gausah nangis, aku gapapa kok" ucap Brave lembut sambil mengusap usap pungung Nifa mencoba agar gadisnya ini tenang.


"hiks... hikss.. apa kamu bilang? kamu gapapa? kamu itu sakit kanker otak stadium tiga brave dan kamu bilang kamu gapapa!? hiks... aku gamau kamu tinggalin aku!!"ucap Nifa masih dengan segukannya.


"gabakal! aku gabakal ninggalin kamu nif! kamu berdoa aja supaya aku cepat sembuh dan bisa jalan jalan lagi sama kamu!" ucap Brave mengigat ingat kenangan yang sudah mereka lalui. Walaupun mereka pacaran baru 2 bulan rasanya cukup banyak kenangan yang tlah mereka lalui.


Brave baru tau rasanya di khawatirkan disayangi. Kedua orang tuanya sudah tidak peduli lagi dengan insiden 5 tahun lalu, mereka hanya mengirimkan uang jajan saja untuknya. Selama ini hanya paman dan bibinya saja yang mengurusinya.


*T*erima kasih nif, aku akan berusaha melawan penyakit ini untuk kamu tapi seandainya aku memang udah ga kuat, aku bakal jagain kamu walau kita udah berbeda alam.