
Natasya Nifa Syakilla
Brave Naufal Alfarras
Crystal Adyssa Avrilliani
Nayla Aqila Maulida
Fathi Aksa Rasyid
Felicia Eleora
_________________________________________
Setelah ia mengantarkan kekasihnya itu, ia melajukan mobilnya menyapu kota Jakarta yang terbilang macet.
Saat ini, detik ini, Brave tengah berhadapan dengan mantan sahabatnya Rafi. Ia menatap sendu Rafi yang kini lemas.
Brave berjalan menuju lemari hitam disamping jendela, terlihatlah bermacam peralatan seperti pisau, cambuk, gergaji, belati dan lain lainnya.
Ia mengambil sebuah cambuk berwarna merah.
Prang....
(anggap aja suara benda jatuh)
Rafi Sontak membuka matanya dan melihat Brave mantan sahabatnya tengah memegang cambuk.
*Ctar....
Ctar....
Ctar*....
"ahww ampun Brave ahkwwww" ucap Rafi meringgis kesakitan.
Luka yang telah menggering akhirnya mengeluarkan darah segar dari perutnya
"Apa dengan gw ampunin lo, gw bisa percaya lagi" ucap Brave mengambil sebuah pisau lipat kesayanganya.
Ingin mempermainkan nya sebelum malaikat maut menjemputnya, Brave mencabut seluruh kuku tangan Rafi dari tempat nya. Tanpa peduli dengan era gan sang empu. Kini keluarlah darah segar dari jari jemari Rafi.
Belum puas, Brave memotong jari jari ya hingga tak tersisa satu pun.
Rafi hanya pasrah, ia berharap permainan ini segera diakhiri dan membiarkan ia mati dengan tenang. Namun ia salah mencari lawan.
"akhw,,, plisss biarin gw mati dengan cepat Brave, gw mohon" ucap Rafi meronta ronta.
Brave membuka ikatan Rafi dan mengikatnya pula di sebuah tiang, agar ia lebih leluasa menyiksanya. Rafi hanya pasrah melihat Brave terus menyiksanya.
Brave terseyum smirk, dan mengeluarkan pisau dan mulai mengguliti Rafi, dari kaki sampai pada batas leher.
"mungkin gw akan jadi seniman yang hebat tahun ini" ucap Brave melihat Rafi yang tersisa dagingnya saja.
"Gw mohon Brave, jangan siksa gw lagi. Biarin gw mati dengan cepat" ucap Rafi dengan nafas tersenggal sengal.
"Oke, kalau itu mau lo" ucap brave mengambil sebilah kapak.
Tak tanggung tanggung lagi ia langsung memengal kepala Rafi. Darah memuncrat sampai mengenai hoddienya.
Brave segera menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Selesai, ia memanggil bodyguard nya.
"urus dia, dan bawakan kejutan agar par binatang kenyang" ucap Brave dingin+tajam.
Para bodyguard nya menatapnya takut, dan menuruti perintah boss ya untuk membawa Rafi yang sudah menjadi mayat kehutan.
____________________________________________
Malam telah menjelang pagi, terlihat seorang gadis cantik yang tengah berbalut selimut. Tanpa memerdulikan seorang kakak yang tengah bersusah payah membangunkannya.
"WOYY, KEBO BANGUN" Teriak Qila sambil mengoyangkan goyangkan kasurnya.
"five minutes again" ucap Nifa dengan mata tertutup.
Qila hanya pasrah dengan kelakuan adiknya, terlintaslah sebuah ide jahil diotaknya.
"CEPETAM NIFA, ADA TAEHYUNG NUNGUIN LO DIBAWAH" Teriak Qila dengan senyum liciknya.
Mendengar biasnya disebut, Nifa langsung berlonjak dari kasurnya menuju kamar mandi.
Tak butuh lima menit, ia sudah selesai melakukan ritualnya. Dan langsung menuruni anak tangga dengan terburuk buru.
"kak... Mana taehyung?" ucap Nifa polos.
"Gak ada, ngapain lo nanya nanya" ucap Qila polos menyembunyikan aksi jahilnya.
"Tadi kan---" ucap Nifa terpotong
"Mana mau Taehyung ketemu lo secara lo itu cewek MOLOR" ucap Qila dengan menekan kata molor.
"IHHH KAKAK" Teriak Nifa sambil mengerucuti mulut.
Pagi pagu dah cari emosi, untung kakak batin Nifa kesal.
"eh ada apa, pagi pagi teriak" ucap seorang wanita paruh baya yang tak lain ibu dari keduanya.
"Ini ni, kakak pagi pagi dah cari emosi" adu Nifa.
"Udah udah, cepetan sarapan udah telat tuh" ucap ibunya memperingati.
____________________________________________