
Nifa masih menahan malunya, wajahnya ia tutup dengan kedua telapak tangannya sambil menunduk.
"ih gausah ditutup, muka kamu tambah cantik kalau lagi blushing!" goda Brave sambil menarik kedua telapak Nifa, dan nampaklah wajahnya yang sudah seperi kepiting rebus.
"kamu mau kemana dulu?" tanya Brave sekali lagi.
"terserah kamu"
"yaudah deh kita keliling keliling dulu siapa tau ada yang suka" ucap Brave mengegam tangan Nifa.
Sesampainya ia di lantai tiga, mata nifa menangkap arena permainan, yang biasa kita sebut timezone.
"Brave ayo kesanaa..." rengek nifa seperti anak kecil sambil menyeret tangan Brave.
"ih, ngapain kesana kayak anak kecil" sahut brave gemas melihat wajah Nifa yang terlihat lucu.
"yaudah aku ngambek nih" ucap nifa sambil mengerucuti bibirnya dan bertindak kesal.
"itu kode buat mau dicium?" ucap Brave polos
Nifa yang sadar langsung menarik mulutnya.
"yaudah deh, ayoo.." ucap Brave sambil menarik pergelangan tangan Nifa, Nifa yang mulanya kesal kini juga ikut bersemangat.
Sesampainya di timezone, banyak pasang mata yang menatapnya dengan tatapan tidak mengerti. Bagaimana tidak! mereka itu sudah remaja! masa iya bermain ketempat anak keci begini?!!.
Nifa yang tau ditatap tidak ambil pusing, ia tidak memperdulikannya. *Y*ang penting bersenang senang dulu pikirnya.
"hm, enaknya apa ya?" tanya Nifa balik.
"*S*treet basketball aja yuk, kalau aku menang kamu harus nurutin permintaan aku dan sebaliknya. Mau gak?" tanya Brave dengan melemparkan tatapan remeh kepada kekasihnya.
Nifa yang melihatnya merasa jengah.
gimana ya.. kan gue gabisa mainnya. ah udahlah coba aja dulu, nanti siapa tau ada mukzijat!!
"oke, siapa takut!!"
.
.
Permainan baru saja dimulai dan dengan sigap Nifa segera memasukan bolannya satu persatu, ya walaupun sebagian meleset. Sesekali ia melihat kekasihnya tengah santai memasukan bola basket itu kering dengan mudah.
Waktu mulai berkurang. Keringat mengalir deras di pelipis Nifa, gadis itu mulai merasa lelah. Dan akhirnya permainan itu selesai dan dimenangkan oleh Brave.
"sesuai dengan perjanjian tadi, oke" ucap Brave menatap Nifa dengan sennyum jahilnya, sedangkan yang ditatap tengah bersikap waspada kepada kekasihnya itu
"yaudah iya iya, apa?" tanya nifa malas.
"cium"