
Nifa POV
Hari ini rasanya senang banget, pengen teriak sekencang mungkin. Bagaimana tidak!! nanti selepas pulang Brave akan mengajakku jalan jalan. Tapi entah kenapa aku masih curiga padanya, seperti tadi aku melihatnya tertawa namun ada yang aneh, seperti sedang menutupi sesuatu.Ah.. mungkin itu hanya perasaanku saja.
"kesambet apaan lo senyam senyum sendiri, lo diliatin mulu tuh sama bu tuti!" bisik teman sebangku krystal, namun aku tak menggubrisnya.
"Hei, kamu yang dipojok, ngapain ngelamun. Denger tidak penjelasan saya!!" teriak bu Tuti tegas, membuat semuanya mengalihkan pandangannya kearah Nifa.
"hehehe, denger bu" ucapku dengan malu malu.
Sedangkan Krystal seolah olah memberi isyarat lewat mulut yang membuat Nifa jengkel.
mampus lo keciduk.
Nifa POV end
kring....
Setelah beberapa jam mendengarkan penjelasan dari bu Tuti, ya walaupun hanya sedikit orang yang mau mendengarnya. Akhirnya terdengarlah bunyi bel pulang menandakan pelajaran telah usai. semua murid bernafas lega, bel pulanglah bel pulanglah.
"oke, sekian dari saya. Jangan lupa tugas dikerjakan.Assalamualaikum" ucap bu Tuti berlalu pergi.
"nif, lo pulang sama siapa?" tanya Krystal sambil merapikan alat alatnya.
"sama Brave, biasa mau jalan jalan"
"huh, pantesan dari tadi senya senyum" sahut Krystal.
"eh, gue duluannya brave dah nunggu diparkiran!!"ucap Nifa berlalu pergi sambil melambaikan tangannya.
Brave POV
Gw bingung, sangat sangat bingung. Apakah aku harus menjelaskan soal penyakitku? namun aku gamau dia menjauh dariku!!, tapi bagaimanapun dia berhak tau. Akhhh... rasanya kepala ku ini mau pecah. Apa kutanya saja dengan Farrel, mumpung jamkos. monolog Brave.
"Rel" panggilku
"hm" jawab Farrel singkat tanpa mengalihkan pandangannya ke ponsel.
enemy has been slain
"Dengerin dulu napa" sahutku jengah mengambil ponselnya.
"buset dah, paan" ucap Farrel sambil meletakan ponselnya diatas meja.
"ehm, gue bingung. Apa seharusnya gue kasih tau aja soal penyakit ini ke Nifa?" ucapku sambil menatapnya kosong.
"Menurut gue kasih tau aja, dia berhak tau. Seandainya lo gak kasih tau dan dia tau bukan dari lo, itu bakal sakit rav karna mungkin dia beranggapan bahwa dia gak penting untuk lo!" jelas Farrel panjang lebar.
maklum udah pernah tersakiti :v.
"Tapi kalau gur kasih tau, dan dia tinggalin gue. Begimana?" ucapku frustrasi sambil mengacak rambut ku sendiri.
"Menurut yang gue lihat Nifa itu cewek baik baik. Jadi positif thinking dulu, jangan nethink mulu!!"
"oke deh, gue pertimbagkan dulu. thanks"
"gausah terimakasih, gue sahabat lo jadi gue berhak ngasih pendapat buat lo."
Brave POV end
Tibalah Brave and Nifa di mall ternama dikota Jakarta. Nifa pikir ia akan dibawa kesalah satu cafe terdekat disekolahnya untuk menghabiskan waktu berbicara. Namun salah.
Pandangan iri orang orang tertuju pada mereka. Bagaimana tidak yang cowoknya saja tampan apa lagi ceweknya, mungkin bisa disebut dengan couple goals
*gila... buat gue aja sih cowoknya.
kak sama aku yukkk....
ceweknya cantik juga, bodygoals lagi
aduhh gue gak kuat, pengen pingsa. seseorang tolong berikanku nafas buatan...
couple goalsss*
Nifa memandang sinis kearah para cewek cewek centil yang menggoda kekasihnya. ia jengah melihat.
"beb, kita mau kemana dulu?" tanya Brave sambil mengeluarkan kata kata beb. Ia tahu bahwa kekasihnya sedang cemburu.
"ih apaan sih, bab beb emang aku bebek hah?. au ah gelap" sahut Nifa pergi meninggalkan Brave yang berusaha menahan tawanya.
"eh tunggu dong sayang, eh!?" teriak Brave sambil mengejar Nifa, nifa yang sedang malu segera menutupi wajahnya yang sudah seperti tomat.