psychopath Boyfriends

psychopath Boyfriends
Part 11



"kebiasaan" ucap Nifa berlalu meninggalkan brave.


"yangg... Tunggu" ucap brave mengejar Nifa.


*


*


*


Dengan cepat brave mengejar Nifa, dengan sigap brave langsung mendorongnya ketembok dan menguncinya dengan tangan disamping kepala Nifa.


Walaupun disana tidak terlalu ramai, karna bel sudah berlalu 25 menit.


Nifapun tersadar dan langsung saja ia mendorong dada brave, namun ia tak memiliki tenaga yg cukup kuat untuk mendorongnya.


Nyali Nifa semakin mencit ketika brave mendekati wajahnya tepat didepannya. Entah apa yg Nifa rasakan, namun ia merasakan ia sakit karna sejak tadi jantungnya berdetang dua kali lebih cepat dari biasanya.


Napa sih gue kok jadi deg deg an, nih pula jantung gue! Gue bunuh juga lo. Eh... Klo gw bunuh gw mati dong!!. Batin Nifa merutuki dirinya sendiri.


Dan dihadapannya sedang menampilkan seringainya. Dan mulai mendekat. Dengan cepat Nifa memejamkan matanya.


Setelah berapa menit Nifa tak merasakan yg aneh. Lalu ia perlahan membuka matanya.


"Gitu aja dah baper" goda brave.


Nifa yg mendengarnya malu dan krna malu sekarang pipinya sudah menjadi layaknya tomat matang.


"ihhh" kesal Nifa.


"ya udh yok" ucap brave mengegam tangannya lembut.


Sesampainya mereka di mobil keduanya pun terkejut. Bagaimana tidak terkejut!? Mereka melihat sebuah kata yg tertera dikaca mobil brave.


MATI


Ya tulisan itu membuat mereka terkejut, sekaligus membuat brave marah ia tak segan segan akan membunuh orang yang melakukan tindakan terhadap pacarnya. Sedangkan Nifa ia sudah menahan nangis ya yg menjadi jadi.


"hiks.... Hiks.. Gue salah apa?!" ucap Nifa sedih.


"gak lu gak salah apa apa, orang itu yg salah" ucap brave mencoba menenangkan pacarnya walaupun ia sulit mengendalikan emosi ya.


Brave sekarang sedang menghapuskan tulisan yg berada di kaca mobilnya. Ia terhenti sejenak setelah melihat tulisan yg membuat dia berpikir c.


Brave akhirnya mencoba membuang pikirannya dan segera masuk kedalm mobilnya menenangkan gadis ya.


"Udah tenang aja, ga ada yg berani selama ada gue" ucap brave mengelus rambut Nifa.


Kata kata yg diucapkan brave membuat Nifa tenang dan akhirnya ia mulai berhenti menangis.


Brave yg melihat pacarnya mulai berhenti menangispun terseyum, lalu ia mulai melanjukan mobil silver nya.


Selama diperjalanan Nifa hanya melamun dengan tatapan kosong. Brave yg melihatnya pun merasa iba dan ia lebih baik memfokuskan menyetir mobilnya. Ia rasa bahwa Nifa memerlukan waktu sendiri.


10 menit kemudian mobil brave sudah berada didepan halaman rumah Nifa.


"dah sampai" ucap brave, menyadarkan Nifa yg sedari tadi termenung.


"Ma-makasih ya" ucap Nifa membuka pintu mobil, namun sebelum ia mulai membuka pintu mobil. Tiba tiba ada sesuatu yg menarik tangannya.


Nifa akhirnya menengok, dan mendapati brave menatap sendu kepadanya.


"Jangan nangis, gue ga suka" ucap brave tersenyum.


Nifa yg merasa diperlakukan manis seperti itu, ia merasa malu, senang. Ntah lah? Yg penting ia sekarang senang.


"Dah gausah baperan" ucap brave yg membuat Nifa malu.


Nifa pun menarik tangannya dan tersenyum sebelum membukakan pintu mobil dan keluar.


Sesampainya di rumah, Nifa mendapati ibunya tengah menonton tv.


"eh, Nifa dah pulang" sahut ibunya.


"ehm.. Iya, bu kapan pulang?" tanya Nifa.


"tadi siang, loh kok kamu keliatan sedih gitu?" tanya ibunya heran.


"ehmm gak kok bu, aku ke kamar dulu ya" ucap Nifa berlalu meninggalkan ibunya yg masih memikirkannya.