
Munculah 15 orang bawahan Rafi...
Dengan membawa masing masing senjata sejenis pisau ataupun pistol.
Jangankan 15, seribu orang saja sudah bisa ia lawan demi Nifa.
"Let's play, I'll deliver you all the hell!!" ucap Brave dingin dengan senyum liciknya ditambah aura hitam didalam tubuhnya.
Sontak setengah anak buah Rafi kian melemas jatuh tersungkur dan tersisalah 5 anak buah Rafi.
Hmm, segini aja dah pingsan LEMAH. Batin Brave dengan senyum liciknya.
"Tunggu apa lagi KALIAN" Teriak Rafi geram melihat anak buahnya telmi (telat mikir)
Salah satu dari anak buah Rafi mendarat kan bogeman namun Brave langsung menghindar dan dengan cepat ia mematahkan kepala orang itu.
Nifa yang melihatnya hanya menutup mata dan berdoa agar Brave selamat tanpa luka apapun
Dan Munculah bodygoard Brave dari balik pintu segera melawan anak buah Rafi yang mati ketakutan melihat Brave mematahkan kepala temannya.
Kini tinggalah Rafi yang berusaha tetap tenang walaupun sebenarnya ia takut. Sedangkan Brave ia menatap Rafi dingin, tajam dan terdapat jelas aura hitamnya.
Perlahan lahan Brave mulai mendekati Rafi
Tap...
Tap...
Tap...
Sementara Rafi sudah tidak bisa lagi menutupi ketakutannya ia hanya mundur, entah kenapa ia tidak berani melawan mantan sahabatnya itu.
Brukk...
Brave mengeluarkan pisau kesayangannya. Kalau kalian pikir itu tajam, maka kalian salah. Melainkan sebuah pisau lipat kecil yang sudah berkarat. Tanpa basa basi Brave menancapkan pisau itu tepat di perut Rafi ralat mantan sahabatnya.
Dan mengobrak abrik isinya, hingga sang empu mengadu kesakitan.
"eughhh, gue minta maaf..." ucap Rafi terendah engah.
Seakan tuli, brave melanjutkan mengobrak abrik isi perutnya sampai darah segar keluar tak henti hentinya. Belum puas sampai disitu ia mengambil isi dari perut tersebut lalu melemparnya asal.
Nifa yang melihat peristiwa mengenakan itu, berusaha menelan salivanya.
"Maaf Miss, tolong tutup mata" ucap salah satu bodyguard Brave.
Berlarih ke Brave Naufal Alfarras. Ia mendudukan Rafi yang sudah lemas dan mengikatnya. Seakan ingat dengan kekasihnya ia langsung menghampirinya.
"Pulang" sahut Brave dingin karna ia masih berbalik dengan emosinya.
Nifa yang hanya mendengar satu kata itu langsung memeluk Brave.
"hiks... Takut... Hiksss" ucap Nifa tersedu sedu.
Brave yang menyadari kesalahannya
Lo gak becus jagain gadis yang lu sayang batin Brave bermolog.
Ia membalas pelukan kekasihnya sembari mengelus pucuk rambut Nifa.
"Maaf, mungkin aku gabisa jangain kamu. Tapi percayalah aku akan berusaha melindungimu" ucap brave melepaskan pelukannya dan menatap sendu seorang gadis dengan mata sembab yang tak lain adalah Nifa.
"Gak.. Kamu ga salah, dan makasih karna selalu ngelindungin Nifa" ucap Nifa tersenyum manis dihadapannya.
"Ayo, aku antar kamu pulang" ucap Brave lembut. Brave beralih ke salah satu tangan kanannya dan berbisik
"Bawa dia ke markas" ucap Brave pelan dan seseorang itu pun mengaguk.
________________
Setelah ia mengantarkan kekasihnya itu, ia melanjukan mobilnya menyapu kota Jakarta yang terbilang macet.
Sampailah ia di sebuah mansion yang terbilang cukup besar dan ingat ia tinggal sendiri dengan satu pembantu.
Mengapa? Dimana orang tuanya?. Pertama ia tidak suka ramai, itu tidak logis bukan. Memang sejak dulu ia suka sekali membunuh binatang seperti kucing entah kenapa itu adalah kebiasaan dan ia suka itu.
Kedua, orang tuanya, ia sama sekali tidak mau membahas orang tuanya terlebih ayahnya. Ia sangat membenci ayahnya. karna apa? Karna ayahnya telah menceraikan ibunya demi wanita jalang yang telah mengusik keluarga harmonis.ingat tapi itu DULU. Sedangkan ibunya sudah tenang diatas sana.
____________________________________________
Halo 👋
Bagaimana, suka tidak dengan kelanjutannya?
Maaf yaa Authorr jarang update, soalnya bingung mau bikin konflik apa.
Like+komen yaa..