Police Hunter

Police Hunter
Menangkap pengedar



Melihat sahabatnya nampak sedih, David pun mengajak Alfaro untuk ikut pulang bersamanya sebelum dia kembali ke Belanda.


Alfaro sangat senang David mengajaknya pulang bersama, mereka pun akhirnya berpamitan dan segera pergi menuju kediaman Rudolf.


"Kau tinggal bersama siapa saja di rumah?


Tanya Alfaro.


"Hanya aku ayah dan Wanda "


"Wanda, siapa Wanda?"


"Dia ibu asuhku kamu pasti akan suka padanya, dia wanita yang sangat baik dan lembut"


Jawab David menceritakan tentang Wanda pada Alfaro jika Wanda adalah sosok yang selama ini menjadi ibu penggantinya, Wanda yang selama ini mengurusnya hingga ia sampai dewasa seperti ini.


"Kau masih beruntung David, karena kamu masih mempunyai orang yang sayang dan mengurus kamu, beda denganku aku hanya tinggal bersama ayahku, dia mengatakan jika keluargaku di Indonesia sudah meninggal saat aku kecil"


Ucap Alfaro membagi kisahnya pada David.


Dalam hati David memeng harus bersyukur karena masih ada yang lebih menyedihkan dari nasib dirinya.


Dia coba bertanya apa yang menyebabkan keluarga Alfaro meninggal?


"Ayahku mengatakan jika mereka tewas dalam kecelakaan, beruntung aku masih selamat hingga akhirnya aku di bawa oleh pamanku ke Belanda. Paman yang sudah aku anggap sebagai ayahku sendiri. Tapi sayang dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga aku mandiri sendiri jauh dari keluarga"


("Ternyata nasibmu hampir sama denganku Alfaro, hanya saja kematian orangtuamu sudah jelas penyebabnya, sedangkan penyebab kematian orangtuaku masih belum bisa diketahui")


Ucap hati David teringat akan kematian orangtuanya.


David pun coba menghibur kawannya agar tidak berlarut dalam bayang kesedihan di masa lalunya dengan membahas pembicaraan yang lebih menarik lagi.


....


Sudah Hampir satu jam mereka di perjalanan,


David mengajak Alfaro ntuk membeli makan di tepian,


Merekapun masuk ke dalam sebuah restoran untuk makan siang.


Dengan lahap Alfaro menyantap makanan lezat khas Jerman itu namun pandangan David tertuju pada dua orang pemuda yang terlihat sedang bertransaksi obat terlarang.


"Alfaro coba kamu lihat pemuda di belakangmu,?"


Pinta David padanya.


Alfaro pun melihat ke arah yang di pinta David.


Tatapannya pun mulai sinis mencurigai kedua pemuda itu.


Dan ternyata memang benar dua pemuda yang ada di meja belakang mereka sedang bertransaksi narkoba secara sembunyi-sembunyi.


Melihat semua itu Alfaro pun tak tinggal diam.


David menyuruh Alfaro agar tetap tenang dahulu sebelum mengambil tindakan,


"Sebaiknya kita susun rencana dulu sebelum kita memberi pelajaran kepada mereka, kita tidak boleh membuat semua pengunjung di restoran ini merasa terganggu "


Saran David bisa diterima olehnya.


Disaat dua pemuda itu keluar dari restoran, mereka coba mengikuti dua pemuda itu diam-diam, dan disaat kedua pemuda itu masuk lorong gang sempit ternyata disana banyak pemuda yang seusia mereka sedang menikmati barang haram yang dibelinya.


"Ini keterlaluan David ayo cepat kita tangkap mereka"


Alfaro.


"Tenanglah kita harus tau dulu berapa jumlah mereka dan dari mana mereka mendapat barang haram itu?"


David dan Alfaro masih mengintai di sela gang sempit dengan hati-hati, mereka melihat ada satu orang pria yang membawa barang haram itu di antara kumpulan pemuda yang sedang berkumpul.


Namun David merasa tidak asing melihat pria itu,


Dengan terburu-buru Alfaro pun segera berlari menuju gerombolan pemuda itu dengan membawa pistolnya,


Alfaro mulai menggertak semua pemuda tersebut namun pria yang di duga sebagai pengedar berhasil melarikan diri saat melihat kedatangan David.


"Astaga David "


Para pemuda itu sempat melawan David dan Alfaro dengan senjata dan barang yang mereka miliki, namun tembakan Alfaro yang mengenai kaki salah seorang teman mereka membuat mereka mati kutu tak bergerak dan menyerah.


Karena David terlalu terburu-buru menangkap sekumpulan pemuda itu David pun tidak bisa fokus kepada si pria yang menjadi pengedar barang haram itu karena dia harus mengamankan mereka yang melawan saat di tangkap oleh Alfaro.


Akhirnya kepolisian setempat tiba tepat pada waktunya untuk mengamankan seluruh pemuda yang terlibat dan mengkonsumsi barang haram.


David pun coba mengejar pria tadi dengan kecepatan yang penuh.


Hingga akhirnya pria itupun berhasil David tangkap.


"Kau"


Plak...


Tamparan kasar mendarat di pipi pria itu.


David tidak menyangka jika pria yang menjadi pengedar obat terlarang itu adalah salah satu anak buah ayahnya,


Alfaro datang dan bertanya apakah dia mengenal pria itu?


"Ya aku mengenalnya aku akan bawa pria ini ke rumah terlebih dahulu sebelum aku jebloskan ke dalam penjara,"


Jawab David sambil menyeret pria yang terus meminta ampun padanya.


"Maafkan aku tuan, ampuni aku?"


Pria itu terus meminta ampun pada David.


Merekapun kembali ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanannya ke rumah David.


Si pria itu David ikat dengan kencang agar tidak bisa melarikan diri dari dalam mobilnya.


"Siapa sebenarnya pria itu David? Kenapa kamu terlihat sangat marah padanya?"


Tanya Alfaro sedikit tegang melihat raut wajah sahabatnya yang marah.


"Kau akan tau nanti setelah di rumah "


Jawab David singkat.


Dia sangat mengerti dengan kebiasaan David yang sedang marah, dia tidak akan banyak bicara,


Itu sebabnya Alfaro hanya menganggukkan kepalanya mengerti kode David dan menurut untuk cepat melajukan mobilnya menuju rumah.


Pria itu kembali memohon ampun pada David untuk di lepaskan,


"Lepaskan saya tuan, saya mohon"


David diam tidak menggubris permohonan ampun pria itu.


...


Sampailah mereka di depan gerbang rumah Rudolf.


Alfaro terkejut melihat suasana rumah David yang megah dan indah bak istana.


Matanya melongo dengan mulut yang terbuka, sambil menyetir dia mengagumi keindahan istana David itu.


"Wahhh rumahmu sangat besar sekali indah, ternyata kamu orang kaya juga ya"


Alfaro sedikit menggoda sahabatnya itu.


Namun David masih belum mau bicara, tatapannya masih penuh dengan kekecewaan pada pria yang dia tangkap,


"Ayo kita masuk"


David kembali menarik kerah baju si pria dalam mobil Alfaro pun mengikuti nya dari belakang