
Saat David tiba di kediamannya dengan menyeret anak buah sang ayah membuat seluruh anak buah Mr Rudolf yang berjaga di depan terkejut.
Namun meskipun begitu mereka pun memberi salam pada hormat pada did selaku anak majikannya itu dengan menyambut dan memanggilnya tuan secara sopan dan menganggukkan kepala.
"Tuan"
Sapa anak buah Rudolf.
"Ayo jalan"
Ujar David Sesekali menendang pria itu menuju depan pintu rumahnya.
Mr Rudolf yang saat itu sedang berbincang dengan salah satu koleganya juga ikut terkejut melihat anak buahnya dilempar oleh David tepat dihadapannya
Sontak Rudolf pun berdiri tegap dan melihat anak buahnya yang terlempar mendarat di hadapan kakinya.
"Ada apa ini?"
Tatapan Mr Rudolf tajam penuh amarah melihat anak buahnya dipermalukan oleh David tepat di hadapannya dan kolega yang sedang bersamanya.
Namun seketika amarah nya mulai mereda tatkala di depan pintu David berjalan pelan penuh dengan kekecewaan terhadap anak buah ayahnya itu.
(Musik mengalun menjadi tegang)
"David anakku"
Rudolf terkejut sambil mengepalkan kedua tangannya melihat anak buahnya membuat kekacauan.
"Anakku David sejak kapan kau keluar dari militer mu? Kenapa tidak memberitahu ayah, setidaknya ayah bisa menjemputmu?"
Mr Rudolf berjalan menuju David dan menyambut nya dengan penuh kerinduan, karena sudah enam purnama dirinya tidak pernah bertemu dengan anak angkatnya itu.
"Tanyakan pada anak buah ayah apa yang telah dia lakukan di luar sana?"
David tidak merespon kerinduan Rudolf dengan menanyakan langsung mengenai pekerjaan anak buahnya itu.
David pun menunjuk pria yang tersungkur itu dengan penuh kebencian dan kekecewaan.
Tidak ingin David sampai curiga kepadanya, Rudolf pun mulai memainkan dramanya
"Apa yang sudah kau lakukan hah?"
Mr Rudolf bertanya seolah tidak tau apa yang telah anak buahnya lakukan sehingga David bisa marah seperti itu.
Padahal yang sebenarnya Rudolf pun tahu jika pria itu memang utusannya untuk mengirim barang haram kepada kumpulan anak muda di tempat tadi dia di tangkap,
Mr Rudolf coba memberi kode kepada Denis agar segera membawa pria itu untuk dia habisi jangan sampai dia buka mulut perihal perkara yang membuat David sangat marah.
"Ampuni saya tuan, saya mohon ampun"
Pria itu terus bersujud di kaki Rudolf untuk mengampuninya.
"Perbuatan dia tidak bisa kita maafkan ayah kau sendiri tau narkoba adalah barang haram kita tidak bisa tinggal diam melihat mereka mengedarkan barang haram itu"
"Kurang ajar kau"
Plak plak.
Dua tamparan Mr Rudolf mengenai kedua pipi pria itu,
"Apa belum cukup gajih yang aku berikan untukmu?"
Rudolf berlaga memarahi anak buahnya agar David tidak mencurigainya.
"Aku tidak ingin kejadian ini terulang lagi ayah"
Pinta David pada ayahnya agar dia lebih mengawasi pergerakan anak buahnya untuk tetap setia pada ayahnya dan menjaga nama baik ayahnya.
"Denis bawa dia jebloskan dia ke dalam penjara"
Perintah Rudolf pada Denis untuk membawa pria tersebut dari hadapan dirinya dan David.
Pria itupun di bawanya untuk di amankan.
...
Setelah semua prahara berhasil ditangani Wanda pun datang menghampiri David yang baru datang.
"David kau kah itu nak? Bagaimana kabarmu? Kenapa kamu tidak memberitahu kami jika hari ini kamu akan pulang?"
Ucap Wanda memeluk hangat putra angkatnya itu dia terlihat sangat bahagia dengan kepulangan David ke rumahnya.
"Maafkan aku Wanda tadinya aku hanya ingin memberikan kejutan untukmu, tapi ternyata..."
"Sudahlah nak, jangan pikirkan pria tadi biar hukum yang membalas perbuatan nya"
Mr Rudolf memotong ucapan David.
Tidak ingin berlarut dalam pembahasan si pria yang David tangkap sebagai pengedar narkoba miliknya,
Mr Rudolf pun bertanya siapa yang bersama David.
"Dia Alfaro ayah sahabatku di asrama kebetulan aku tadi pulang bersamanya, dia hendak pulang ke Belanda tapi mungkin sepertinya dia akan menginap dulu malam ini, ya kan Alfaro"
Senyum David yang manis kala menggoda sahabatnya itu mulai mencairkan suasana Mr Rudolf yang tegang saat itu.
Alfaro memberi salam pada Mr Rudolf dia memperkenalkan dirinya pada ayah David. Dia juga menceritakan semua tentang dirinya yang berasal dari Belanda keturunan Indonesia,
"Jadi kamu masih keturunan orang Indonesia?"
Tanya Mr Rudolf.
"Ya om hanya saja saya dibesarkan paman saya di Belanda"
Tak lupa dia juga menceritakan tentang keluarga nya di Indonesia yang telah meninggal karena kecelakaan yang menimpa kedua orangtuanya