
Mendengar semua cerita dari Alfaro, seketika ingatan Rudolf tertuju pada David kecil yang dia bawa dari Indonesia.
"Aku turut berduka untuk semua kesedihan mu nak, tapi yang lebih penting sekarang kalian sudah lulus dengan nilai terbaik, jadilah kebanggaan keluarga kalian"
Ucap Rudolf.
Sejahat dan sekejam apapun Mr Rudolf, dia tidak ingin anaknya menjadi seorang mafia seperti dirinya.
Rudolf ingin David tumbuh menjadi laki-laki yang kuat hebat dan pintar agar bisa meneruskan usaha emas dan berlian miliknya kelak.
Karena Mr Rudolf sadar pekerjaan yang sedang dia geluti sejak lama adalah pekerjaan yang tidak baik.
Merekapun mulai berbincang kesana kemari dalam suasana yang hangat.
Sementara kolega Mr Rudolf pun pamit pulang,
"Baiklah tuan Rudolf, sepertinya pertemuan kita cukup sampai disini jika ada sesuatu yang di rasa kurang kami akan segera menghubungi anda"
"Selamat atas kelulusan mu nak David"
Tak lupa kolega Mr Rudolf pun memberikan ucapan selamat atas kelulusan David yang luar biasa.
Dia pun pamit pulang,
***
Wanda yang saat itu sedang merajut syal kesukaan David pun berhenti sejenak, dia sangat bahagia.
Karena faktor usia yang semakin tua langkah nya kini semakin lemah bahkan untuk berdiri saja dia memerlukan sebuah tongkat sebagai pembantunya.
David tak tinggal diam diapun mulai berjalan menghampiri Wanda yang ingin memeluknya,
"David ku"
Air mata kebahagiaan Wanda mulai menetes di pipi tuanya,
David meraih tangan Wanda dengan kerinduan yang mendalam.
"Wanda"
David memeluk ibu asuhnya dengan erat, dia menyeka air mata kerinduan Wanda yang menetes di pipinya.
"Aku begitu merindukanmu nak"
Wanda.
"Aku sudah pulang Wanda "
(Musik mengalun dengan irama, ada banyak sekali cerita yang ingin dia berikan pada David, sebuah cerita yang mungkin akan merubah takdirnya sebagai anak mafia.
Tapi Wanda sadar ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan kisah David yang sebenarnya.
"Anakku David apa kau baik-baik saja nak?"
Tangan Wanda meraih wajah David yang masih terlihat sangat tampan seperti dulu dia usap peluh dan air mata David yang sedikit menetes di sudut mata karena kerinduannya pada Wanda.
"Aku baik-baik saja Wanda"
Mereka pun melepas rindu dengan bertukar cerita, namun ada yang mencuri perhatiannya saat melihat Alfaro.
"Siapa dia nak?"
David pun memperkenalkan Alfaro pada Wanda.
Alfaro nampak bahagia bisa bertemu dengan Wanda mereka pun saling bicara kesana kemari,
Tak lupa Alfaro juga memperkenalkan dirinya pada ibu angkatnya itu.
Alfaro merasa nyaman bicara dengan Wanda, dia merasa ada rasa yang berbeda dia rasakan saat bersamanya.
Entah apa yang dia rasakan tapi Alfaro seakan merasa aman dan nyaman saat bertemu dengan Wanda.
"Sekarang kalian bersihkan dulu badan kalian setelah siap biar Wanda hidangkan makanan yang spesial untuk kalian berdua ya? Pasti kalian lelah?"
Wanda meminta keduanya mandi dan bersiap makan sore bersamanya, merekapun menuju kamar David.
Alfaro memutuskan untuk menginap satu malam di rumah David karena ini sudah terlalu malam jika dia harus melanjutkan perjalanannya.
***
Alfaro kini sedang berada di dalam kamar David menunggu giliran untuk mandi.
Dia melihat suasana kamar David yang luas bagaikan istana,
Dia tak menampakan kekayaan dalam diri dan prilakunya.
Barang berharga seperti senjata tajam dan pistol yang ada di kamarnya membuat Alfaro kagum. Dia bisa menebak di angka berapa harga semuanya itu.
Alfaro pun semakin menghormati David atas kesederhanaannya itu.
"Kau sudah selesai David?"
Tanya Alfaro sembari melihat pistol milik David yang tertata rapih dalam meja yang di tutup kaca
"Ya, aku sudah selesai bergegaslah"
Alfaro menuruti perintah David untuk segera membersihkan dirinya.
David mulai menata senjata miliknya yang ia tinggalkan selama kemiliterannya.
"Banyak sekali senjata mu?"
Timpal Alfaro dari belakang sambil menyeka rambut basahnya dengan handuk,
"Senjata ini yang telah melatihku sampai aku bisa menjadi seperti ini"
"Aku tidak menyangka ternyata kemampuan menembak mu sudah terlatih sejak kecil, pantas saja kamu begitu lihai dan tepat?"
Alfaro memuji kemampuan David yang selalu tepat sasaran kala menembak dan membidik buruan saat berlatih di militer dengannya.
...
David sedikit termenung memandang langit malam di jendela kamarnya.
Alfaro yang saat itu sedang merapikan dirinya merasa heran melihat sahabatnya termenung.
"Apa yang kau pikirkan?"
Seketika David terbangun dari lamunannya karena terhenyak dengan pertanyaan Alfaro.
"Kau sungguh mengejutkanku, tidak aku hanya memikirkan ingin kembali ke Indonesia"
David.
"Apa yang membuatmu berpikir kesana? bukankah keluargamu disini begitu sangat menyayangimu?" Alfaro.
"Mereka memang sangat menyayangiku, tapi entahlah rasanya aku ingin kembali ke negaraku untuk menyelesaikan seluruh pertanyaan hidup yang selalu membebani pikiranku" David
Wanda yang tadinya akan memanggil kedua anak laki-laki itu tidak sengaja mendengarkan percakapan David dan Alfaro yang ingin kembali ke Indonesia.
Mada tersenyum seolah bahagia dengan niat David.
Dia pun segera masuk dengan senyum yang hangat memanggil keduanya untuk segera makan.
"David Alfaro mari kita makan kalian sudah siapkan?"
Ajakan Wanda memecah pikiran David dan pembicaraannya dengan Alfaro.
"Ia Wanda kami akan segera ke bawah"
Alfaro tersenyum ke arah Wanda dan menuruti perintahnya untuk segera makan bersama di bawah.
...
Mereka duduk di ruang makan bersama Rudolf dan Wanda.
"Ayo makanlah nak, ini kesukaanmu?"
Wanda menawarkan spaghetti kesukaan David.
Ternyata dia masih mengingat semua yang David suka,
David pun mengambil makanan yang di sediakan begitupun dengan Alfaro.
"Oh ya nak apa rencana kamu seusai lulus kau akan kemana?" Mr Rudolf menanyakan rencana David.
"Kalau ayah mengijinkan aku ingin mengambil tugas di Indonesia ayah"
Uhuk..
Uhuk...
Rudolf batuk tersedak saat mendengar David ingin ke Indonesia, dia buru-buru mengambil air minum untuk menghentikan batuknya.
***