
Di tempat lain David yang menyadari ayahnya sudah pergi merasa kecewa karena dia tidak di bangunkan oleh ayahnya sebelum berangkat ke luar.
Karena kebiasaan Mr Rudolf selalu membangunkan David terlebih dahulu sebelum pergi kemana-mana apalagi pergi jauh
"Kenapa ayah tidak membangunkan ku?"
Tanya hati David pada cermin yang sedang dia lihat kala bangun dari tidurnya.
"Kamu sudah bangun nak?"
Wanda menyapanya sambil membawakan segelas air susu untuk David.
David masih berada di atas tempat tidurnya dengan memegang selimut merah kesayangannya.
"Ya Wanda, tidak biasanya ayah pergi tanpa membangunkan ku?"
David bertanya pada Wanda, namun Wanda hanya tersenyum dengan ciri khas nya.
"Mungkin ayahmu sangat terburu-buru tadi, dia juga tidak sempat makan pagi dan bertemu denganku nak"
Wanda membohongi Zack untuk menutupi apa yang di lakukan adiknya.
...
David pun bersiap untuk berangkat ke kantor segelas susu dan roti bakar kesukaannya sudah siap di meja makan,
Selesai makan, dia pun langsung berangkat.
"Wanda aku berangkat kerja dulu ya?"
David mencium kening Wanda dan meninggalkannya terburu-buru karena dia sudah terlambat.
"Aduh, sebentar lagi pukul 8 jika aku sampai terlambat apa yang akan karyawan ku katakan tentang aku?"
David mulai cemas akhirnya dia memutuskan untuk turun dari mobil dan meminjam motor salah seorang yang ada di jalan dengan jaminan mobilnya.
David melaju dengan sangat cepat karena tidak ingin sampai terlambat, hingga akhirnya David pun sampai di depan kantor dengan tepat waktu Dan langsung masuk ke dalam ruangannya.
"Selamat pagi pak"
Sapa semua karyawannya,
David menjawab sapa mereka dengan ramah dan penuh senyum.
Tok .
Tok ..
Tok ...
"Boleh saya masuk pak?"
Sekretaris kantor masuk ke dalam ruangan David.
Dia menyodorkan beberapa berkas yang harus David tandatangani tentang kerjasamanya dengan kolega lain.
"Oh ya Miss saya ingin berkas dengan Mr Nicolas, kolega kita asal Belanda ada kan?"
David meminta berkas Mr Nicolas pada Mischa, sekretaris kepercayaan Mr Rudolf.
"Baik pak saya akan siapkan"
Mischa pun pergi dari ruangan David dan segera mencari dokumen yang David minta.
Tak lama kemudian Mischa pun kembali dengan membawa berkas yang diminta
"Ini berkasnya pak"
Mischa memang cantik tapi dia tidak berani jika harus menggoda David seperti dia menggoda ayahnya Mr Rudolf.
Karena Micha melihat David adalah sosok pria yang baik jadi Mischa tidak berani untuk menggodanya,
Tidak seperti ayahnya yang bajingan hampir setiap pagi saat Mischa masuk ke dalam ruangannya, seketika Mr Rudolf selalu memadamkan kamera cctv di ruangannya dan mengunci pintu agar tidak ada yang masuk untuk mengganggu aktifitas panasnya bersama Mischa.
Mischa tak kuasa menolak gairah Mr Rudolf karena setiap dia menolak, Rudolf selalu mengancam keselamatan anaknya. Sempat Mischa mengundurkan diri dari perusahaan itu karena tak kuasa jika harus melayani Mr Rudolf Setiap hari.
Meski Mischa pun menikmati setiap permainan panasnya
Tapi hati nya tetap tidak merasa tenang akan dosa yang telah dia perbuat bersama Mr Rudolf.
Karena kebiasaan pemaksaan yang Rudolf berikan pada nya itulah yang membuat dirinya kini seakan jadi wanita penggoda,
Entah obat apa yang selalu di berikan padanya setiap melakukan hubungan badan yang membuat Mischa merasa lebih nyaman dan angan-angannya seakan melayang di udara hingga menjadi candu baginya.
"Maaf pak, jika boleh tahu untuk apa pak David meminta berkas dengan Mr Nicolas?"
Tanya Mischa.
"Oh ya Miss, ayahku sering membicarakan kemampuanmu sebagai sekretarisnya yang baik, jika tidak keberatan besok kita berangkat ke Belanda untuk menemui Mr Nicolas?"
David mengajak Mischa untuk ikut dengannya ke Belanda.
Dengan tidak keberatan Mischa pun menyetujui permintaan David karena dia memang sekretaris yang proposional,
Akhirnya David memutuskan untuk berangkat ke Belanda bersama Mischa dan dua ajudan lainnya besok.
"Baiklah kalau kamu setuju, persiapkan materi yang akan kita bicarakan nanti pada Mr Nicolas disana "
"Baik pak"
Merekapun menyetujui pertemuannya besok di Belanda begitupun dengan Mr Nicolas.
...
David pun berusaha menghubungi Alfaro untuk memberi tahu jika dia akan menemuinya di Belanda.
Tapi no yang terdaftar atas nama Alfaro tidak pernah aktif semenjak dia kembali ke Belanda,
(Apa no kamu ganti ya) pikir David dalam hati.
***
Sementara di tempat lain Mr Rudolf yang mulai mencoba mencari tahu sosok polisi yang mengincar sindikat Jefri bersiap memancing polisi tersebut dengan meminta anak buahnya bertransaksi di sebuah cafe yang sangat ramai pengunjung, tentunya berita itu menyebar sampai di telinga pak Adrian.
Pak Adrian yang saat itu menerima kabar ini dari Intel yang di tugaskan nya berniat akan menangkap kembali anak buah Jefri,
Namun Fero dengan kekeuh nya kali ini ingin dia yang menangkap mereka.
"Biarkan aku yang bertugas kali ini paman, aku janji tidak akan sampai gagal"
Fero meyakinkan pamannya dengan kemampuan yang sudah dia kuasai.
"Baiklah, kali ini paman percaya padamu, paman akan memantau kamu dari kejauhan, tapi ingat kamu harus hati-hati jangan sampai keselamatanmu terancam,"
Pak adrian menyetujui permintaan Fero untuk dirinya yang bertugas kali ini.
Fero dan pak Adrian pun menuju TKP dimana anak buah Jefri sedang melakukan transaksi,
Fero menyamar sebagai pengunjung biasa tidak lupa dia memakai masker dan topi guna menyembunyikan wajahnya dari musuh, dia juga menggunakan jeans dan jaket merah ala pemain basket guna mengelabui incarannya agar tidak mencurigai keberadaan dirinya.
Fero duduk tidak jauh dari incarannya,
Dia menunggu saat yang tepat untuk menangkap mereka dengan bukti yang nyata,
Sedangkan Mr Rudolf memantau dari ujung meja cafe yang memang sengaja dipesan membuat jebakan untuk mengetahui siapa polisi hebat yang selalu di ceritakan Jefri padanya,
Polisi yang sigap menuntaskan sindikat pengedaran barang haram miliknya bersama Jefri.
Pak Adrian pun tetap berada di dalam mobil melihat Fero dari kejauhan,
Saat anak buah Jefri tertangkap tangan sedang melakukan transaksi, saat itu pula Fero dan ke dua Intel yang sudah di perintahkan pak Adrian meringkus mereka,
"Angkat tangan"
Fero menodongkan senjata api di sebelah kepala si anak buah Jefri.
Keributan pun terjadi saat mereka mencoba melawan dan melarikan diri, namun Fero berhasil menghadang mereka, hingga saat perkelahian itu terjadi dia sempat tersungkur ke arah meja dimana Mr Rudolf duduk dan kalungnya pun terjatuh tanpa Fero sadari.
Kemudian Fero bangkit dan langsung meringkus semua yang terlibat dengan transaksi haram yang di lakukan di cafe itu,
Merekapun tak berkutik dan menyerah.
Dan akhirnya Fero berhasil membawa mereka.
Pak Adrian tersenyum bahagia merasa bangga dengan keberhasilan Fero dia merasa tidak sia-sia sudah mengurusnya sampai sekarang.
Namun saat pandangan pak Adrian tepat di ujung cafe, seketika pandangannya terbelalak kaget,
"Astaga dia"
Pak Adrian melihat Mr Rudolf sedang melihat Fero dan kedua Intel rahasianya, Mr Rudolf juga memegang kalung Fero yang terjatuh.
"Semoga Fero tidak membuka maskernya tuhan"
Pak Adrian terlihat sangat cemas karena jika Mr Rudolf sampai mengetahui identitas Fero maka keselamatannya akan sangat terancam karena pak Adrian sangat mengetahui sekali kekejaman dan kelicikan Mr Rudolf.