
Alfaro dan pak Adrian pun pamit kepada seluruh pemerintahannya,
"Mr Adrian sebenarnya kami sangat berat hati harus merelakan mu kembali ke tanah air, namun apa daya itu semua keinginanmu kami tidak bisa memaksa. Semoga kalian sukses disana kapanpun kamu mau kembali bergabung dengan kami pintu kami selalu terbuka untuk mu dan juga Alfaro"
Ucap Mr Jane melepas kepergian Adrian dan Fero di bandara.
"Terimakasih Mr Jane senang hati kami sudah di beri kesempatan untuk bergabung dengan agen polisi yang begitu teladan dan terhormat seperti anda mohon maaf jika kami telah membuat semuanya kecewa kami pamit "
Pak Adrian pun masuk ke ruang tunggu pesawat bersama Fero bersiap berangkat menuju tanah air.
***
Sementara di tempat lain David juga sudah bersiap berangkat menuju Belanda untuk mencari sahabatnya itu.
Keberangkatan David lebih di majukan karena Mr Nicolas ingin segera bertemu dengannya.
"Mischa, kamu sudah siapkan semua berkas yang harus di bawakan?"
David menanyakan kembali kesiapannya untuk menuju Mr Nicolas.
"Sudah siap semua pak,"
Mischa sudah menyiapkan semua yang harus dia bawa untuk meeting dengan Mr Nicolas.
Tak lupa David pamit kepada Wanda terlebih dahulu.
"Wanda doakan aku, semoga aku berhasil membawa senyum bahagia mu kesini dengan selamat"
Harap David penuh keyakinan membawa Fero untuk Wanda.
"Ia nak, semoga Tuhan memberkatimu"
Wanda pun mencium kening David dan memeluknya sebelum dia berangkat menuju bandara.
David bersama Mischa dan dua karyawannya yang lain di kawal 3 anak buah ayah nya guna melindungi mereka dari gangguan yang tidak di inginkan.
David sebenarnya bisa melindungi dirinya sendiri, namun sebagai penjagaan David pun membawa mereka.
David akhirnya tiba di bandara dia menunggu keberangkatan menuju Belanda.
Namun yang sebenarnya terjadi David tidak tahu jika sahabatnya sudah tiba di Surabaya bersamaan dengan keberangkatannya menuju Belanda.
Ya Alfaro dan pak Adrian tiba di bandara Surabaya dari Belanda, sementara David berangkat dari Jerman ke Belanda, dan sepertinya pencarian David kali ini akan sia-sia
Karena orang yang dia tuju sudah tidak ada disana tanpa sepengetahuannya.
...
David masuk ke dalam pesawat dia duduk bersebelahan dengan Mischa,
"Maaf pak apa pak David tidak keberatan saya duduk sebelah anda"
Tanya Mischa karena dia memang sekretaris yang santun, jadi setiap tindakan yang akan dia lakukan selau bertanya dahulu pada David.
Dia takut David merasa keberatan lain halnya dengan Mr Rudolf dia hanya menjadi budak nya saja.
"Duduklah, aku tidak keberatan"
Jawab David mempersilahkan Mischa duduk di sebelahnya,
Akhirnya pesawat pun terbang.
Selama perjalanan David memikirkan senyum Wanda yang penuh harap akan Alfaro, dia tidak ingin sampai mengecewakan Wanda, dia harus berhasil menemukan anaknya yang hilang itu dan menceritakan semua kebenarannya pada Alfaro.
Menceritakan jika Wanda adalah ibu kandungnya, dan dia adalah saudara laki-lakinya meski tidak lahir dari rahim yang sama.
Saat dia termenung akan ingatan Wanda tiba-tiba kepala Mischa bersandar di bahunya karena tertidur,
David coba menghindari itu karena dia memang tidak terbiasa berdekatan dengan seorang wanita.
David normal sama seperti pria lain namun doktrin yang telah Mr Rudolf tanamkan dalam hati dan pikirannya membuat hatinya pada wanita dan cinta tidak berpengaruh dalam hidupnya.
Mischa saat itu memang sengaja bersandar pada bahu David dia ingin coba menggodanya karena tiba-tiba saja hasrat Mischa naik saat dia bersebelahan dengan David, namun menyadari jika David tidak seperti ayahnya, maka Mischa pun tersadar jika hasratnya tida akan tersalurkan melalui David.
Diapun pasrah dan tak lagi menggodanya.
...
Beberapa jam kemudian David, Mischa dan beberapa karyawan lainnya tiba di Belanda, mereka langsung boking hotel untuk istirahat.
David memesan 4 kamar hotel untuk dirinya Mischa dan kedua karyawan dan pengawalnya.
"Pak David, mengapa kamar anda terlalu jauh dari kamar saya?"
Tanya Mischa yang tidak terima kamarnya berjauhan dari kamar David.
Jawab David coba menenangkan keselamatan Mischa akan terjamin meski kamarnya berjauhan dengannya.
Tapi yang Mischa pikir kan saat itu jika kamarnya terlalu jauh, tidak akan ada kesempatan lagi untuk menggoda David dan mengeluarkan gairahnya.
...
"Kalian istirahat saja dulu nanti jika ada yang harus kita kerjakan saya akan memanggil kalian"
Perintah David.
"Baik pak"
David pun menuju kamarnya begitupun dengan karyawan lain dan Mischa.
Mischa menuju kamar 203, sedang kan David kamar no 150 dia masuk dan merebahkan tubuhnya di atas pembaringan untuk istirahat sebelum mandi,
Beberapa menit kemudian Mischa pun bangun dari rebahan nya dan menuju balkon hotel untuk melihat pemandangan negri Van orange itu.
Namun saat dia duduk di luar balkon, tidak sengaja dia mendengar seseorang di sebelahnya sedang bicara di telpon suara yang tidak asing baginya.
Mischa mencari tahu suara siapa yang ada di sebelah kamarnya itu
Hingga akhirnya dia pun memutuskan untuk berkunjung ke kamar sebelah untuk mengetahui siapa yang ada di sebelahnya.
Bel pun dia tekan, berharap si penghuni kamar tidak terganggu dengan kedatangannya.
Terdengar langkah kaki menuju pintu dan membukanya, seorang pria bertubuh tegak nak bodyguard pun datang dari dalam dan mempersilahkan Mischa masuk.
Mischa pun menuruti perintahnya dan alangkah terkejutnya dia melihat siapa yang ada di dalam kamar sebelahnya si pemilik suara yang tidak asing baginya itu ternyata adalah suara Mr Rudolf.
"Mr Rudolf..."
Mischa tak mampu menahan rasa takut dan terkejutnya dia saat melihat Rudolf ada di hadapannya, tubuhnya gemetar menyadari jika sang predator dirinya ada di sebelah kamarnya.
Namun hasratnya cukup merasa senang karena mungkin sebentar lagi hyper nya akan tersalurkan bersama Mr Rudolf
"Oh Mischa sayangku, kenapa kamu ada disini?"
Mr Rudolf juga sama terkejutnya dengan kedatangan Mischa yang tiba-tiba ke kamar hotelnya.
"Eum... sebenarnya kami ada pertemuan dengan Mr Nicolas kolega kita yang dari Belanda, pak David memintaku untuk menemaninya"
Jawab Mischa dengan pelan dan seolah mengatur napasnya agar tidak terlihat tegang.
Mendengar semua itu Rudolf menganggukkan kepalanya sambil menatap Mischa dari ujung kaki sampai ujung rambut nya yang memikat.
Rudolf berjalan menuju Mischa dan memintanya untuk duduk di sampingnya, Mischa pun menuruti perintah sang mafia karena bagaimanapun dia juga masih atasannya.
"Duduklah biar aku ambilkan minum untukmu"
Kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh Rudolf karena dirinya saat itu juga memang sedang kesepian.
Rudolf membawakan segelas air minum yang sudah dia campurkan bersama obat perangsang untuk Mischa agar diminumnya.
Mischa pun meminum air tersebut.
Rudolf pun membisikan sebuah kalimat yang membuat Mischa terdiam mendengarnya
"Aku rindu permainanmu sayang"
Sebuah kalimat yang membuat bulu kuduk Mischa berdiri geli mendengarnya.
Obat perangsang yang sudah Rudolf campurkan pun kini mulai bereaksi pada tubuh Mischa, dia merasa kepanasan dan gatal di area **** * nya.
Saking kepanasannya dia pun membuka seluruh bajunya dan hanya meninggalkan bra yang di pakainya, tentunya tanpa menunggu apapun dia langsung menyergap tubuh indah Mischa yang hanya tinggal memakai pakaian dalam.
"Ayo lah sayang,"
Kini Mischa pun pasrah melayani sang mafia karena di dorong dengan hasrat dan obat perangsang yang telah Rudolf berikan padanya.
"Auh sakit ..."
******* suara Mischa membuat gairah sang mafia semakin membara, da terus menyiksa tubuh Mischa dengan kejantanannya.
Mischa di paksa melakukan semua yang dia inginkan dengan berbagai style Rudolf di buat puas oleh permainan panas Mischa.
"Teruslah sayang,"
Rudolf begitu menikmati tubuh Mischa hingga sudah berkali kali mencapai puncak kenikmatannya.
Di kali kelima hasrat itu keluar akhirnya Rudolf cukup merasa puas dan mengampuni Mischa dari semua keinginannya, diapun merebahkan tubuhnya bersama dengan Mischa.
Kebejatan Rudolf kini hidup kembali, ya inilah sifat asli dari Rudolf yang keparat dan bajingan sang mafia yang jahat dan kejam.