Police Hunter

Police Hunter
Belanda



Malam pun telah tiba David turun ke bawah untuk makan malam bersama ayah dan Wanda.


David duduk di kursi yang biasa dia pakai, Wanda pun tak banyak bicara.


"Besok ayah akan pergi ke Belanda untuk menemui kawan lama ayah nak"


Mr Rudolf memulai pembicaraan di keheningan meja makan,


"Uhuk..


Uhuk"


Wanda tersendat mendengar adiknya akan pergi ke Belanda mengingat David juga akan pergi kesana untuk mencari Alfaro.


Dengan segera David pun memberi Wanda minum.


Mr Rudolf merasa ada yang aneh dengan kakaknya itu, tapi dia tidak terlalu menghiraukan kecemasannya, David hanya memberi kode pada Wanda agar dia tetap tenang.


Wanda pun mengerti dengan kode yang di berikan David padanya,


"Ayah bersama siapa kesana?"


David.


"Mungkin bersama Denis"


"Baiklah jika ada Denis yang menemani ayah setidaknya ada yang mengawal ayah "


David.


Mr Rudolf pun merasa lega karena David tidak banyak bertanya kepadanya,


Sedangkan Wanda sudah tahu betul kalau adiknya sedang merencanakan sesuatu di sana.


Dia merasa sedikit tidak tenang karena takut terjadi sesuatu yang buruk pada David dan Alfaro disana jika sampai bertemu dengan Mr Rudolf.


...


David tidak membicarakan niatnya untuk menemui Mr Nicolas pada sang ayah. Karena dia merasa tidak perlu membicarakan nya, toh Mr Rudolf pun akan pergi ke Belanda.


Selesai makan merekapun istirahat di kamarnya masing-masing.


Sementara David masih menatap langit malam di luar kamarnya.


Wanda pun menghampiri David.


"David anakku"


David menoleh ke arah Wanda dia menyuruhnya duduk di samping David untuk menikmati langit malam.


"David, Wanda hanya ingin memberitahumu tentang tanda lahir anak Wanda, dia mempunyai tanda coklat kecil di kaki kanannya tepat di bawah lutut"


Ucap Wanda teringat akan bayi Alfaro.


David mengingat kebersamaan dirinya dengan Fero selama pelatihan, dia memang melihat ada tanda lahir di kaki sahabatnya itu sama persis dengan yang Wanda ceritakan tentang tanda lahir anaknya.


David sendiri sering meledek tanda lahir di kaki Fero yang sering dia panggil coklat nempel di kakinya. Seketika David pun tersenyum mengingat hal itu.


"Kenapa kau tersenyum sendiri nak?"


Tanya Wanda merasa heran dengan tingkah David.


"Pasti tanda lahir anaknya Wanda sebesar ibu jari ini ya?"


David menunjukan jempolnya pada Wanda sambil tersenyum manja.


"Tidak salah lagi Wanda, Alfaro pasti anakmu"


Ucap David meyakinkan kembali harapan yang telah lama pupus pada hidup Wanda.


"Semoga David "


Air mata Wanda pun menetes dengan semua keyakinan David pada Alfaro dan Wanda.


David pun tidur di pangkuan Wanda karena dia rindu sudah lama tidak di manja olehnya.


...


Keesokan harinya, Mr Rudolf sudah bersiap untuk berangkat menuju bandara tanpa menemui David terlebih dahulu karena dia masih terlelap tidur.


Mr Rudolf hanya berpesan pada Wanda untuk menjaga David dan mengurusnya dengan baik.


"Kau tau persis apa yang akan aku lakukan Wanda,


Ya aku akan menemui Kawan Bisnisku disana aku harap David baik-baik saja disini" Mr Rudolf.


"Kawan mafia mu?"


Timpal Wanda dengan kata yang singkat namun menusuk.


Mr Rudolf sudah tidak biasa lagi melihat perangai tajam sang kakak padanya, dia juga tahu semua yang dia lakukan selalu kakaknya ketahui, termasuk niat nya ke Belanda untuk menemui Jefri si mafia obat haram kawannya.


Mr Rudolf pun berangkat tanpa banyak bicara lagi pada Wanda, karena jika dia teruskan untuk berdebat dengannya semua hanya akan sia-sia.


Sesampainya di Belanda, Mr Rudolf langsung check on Hotel bersama Jefri, di temani Denis yang selalu setia mempertaruhkan nyawanya demi melindungi Rudolf.


...


"Selamat datang di negri kincir angin Mr"


Sambut Jefri begitu hangat padar Rudolf.


Mereka pun sejenak istirahat makan di sebuah restauran dekat hotel, dengan pemandangan dan suasana yang berbeda dengan di Jerman Mr Rudolf tidak merasa asing, karena ini bukan kali pertama dia menginjakan kaki di negara lain.


Satu hal yang membuat Rudolf bertahan di Jerman, semua demi David dia tidak ingin David tahu tentang dirinya yang sebenarnya.


Karena jika David tahu, sudah terbayang kan olehnya betapa hancur hidup David jika mengetahui kebenaran tentang dirinya yang seorang mafia dan ayah yang kejam.


...


Mr Rudolf sangat asik berbincang dengan Jefri, tentunya di temani dua gadis cantik asli Belanda yang siap melayani mereka.


Saat dia sedang makan, Rudolf melihat sosok pria yang tidak asing bagi dirinya di balik kaca.


Tapi dia samasekali tidak mengingat siapa pria tersebut? Tapi dia merasa pernah bertemu dengannya,


Umur nya seusia dia, mulai tua namun masih terlihat gagah.


"Siapa dia? sepertinya aku tidak asing dengan wajahnya?"


Pikir Rudolf melihat pria yang sedang makan di belakang kaca restoran.


Karena penasaran Rudolf pun mulai beranjak dari tempat duduk nya menuju tempat pria itu makan,


Perlahan kaki nya melangkah,


"Astaga"


Seorang pelayan tak sengaja menabrak Mr Rudolf dan membuatnya marah, namun dia tidak melanjutkan amarahnya kepada pelayan itu.


Mr Rudolf melanjutkan langkahnya menuju tempat si pria itu makan,


Namun saat tiba di meja makan si pria yang membuat penasaran Rudolf Tiba-tiba menghilang.


"Aneh tadi aku yakin sekali ada seseorang yang makan di tempat ini?"


Mr Rudolf semakin penasaran siapa pria yang tadi dia lihat,


Dan tiba-tiba ada seorang pemuda yang tak sengaja menabrak bahunya.


Bruk...


"Astaga mohon maaf paman, saya salah karena terlalu fokus pada handphone saya"


Saat Mr Rudolf menoleh ke arah pemuda yang menabrak nya dia sangat terkejut melihat sosok pemuda itu ternyata adalah Alfaro sahabat David.


Sahut pemuda itu yang sama terkejutnya dengan Rudolf.


"Alfaro kau ada disini?"


Markus menyalami Mr Rudolf ayah dari sahabatnya itu.


"Ya paman, saya tinggal disini bersama paman saya"


Nada telpon terdengar dari ponsel Alfaro, dia pun menerima telponnya yang ternyata dari paman nya,


"Halo Fero, paman sudah di mobil segera kamu kesini jangan lama"


Terdengar suara di balik telpon meminta Alfaro segera menuju mobil.


"Maaf paman saya tidak bisa lama-lama, paman saya sudah menunggu di mobil"


Sebenarnya Fero masih ingin bicara dengan Mr Rudolf dia ingin menanyakan kabar sahabatnya.


"Baik nak, semoga kita bisa berjumpa lagi"


Jawabnya menepuk bahu Fero.


Alfaro pun pergi dari hadapan Mr Rudolf dengan segera dia menuju mobil pamannya yang sudah menunggunya.


...


"Maaf paman tadi aku tidak sengaja bertemu dengan ayahnya sahabatku yang sering aku ceritakan padamu David"


Ucap Fero Sambil memasang sabuk pengaman mobilnya.


"Oh ya David yang selalu kamu ceritakan asal Jerman itu?kenapa dia ada disini?"


Tanya pamannya sambil menyetir melaju dengan pelan.


"Entahlah, aku tidak sempat bertanya kenapa Mr Rudolf ada disini?"


Uhuk..


Uhuk..


Seketika paman Fero menghentikan laju mobil karena terkejut dan tersendat mendengar nama Mr Rudolf.


"Kenapa paman, are you oke?"


Fero coba menenangkan.


"Biar aku yang bawa mobilnya oke?"


Fero pun menggantikan pamannya menyetir, dia terus bertanya tentang keadaan pamannya.


Paman Fero menarik nafasnya dalam-dalam, dia sangat terkejut dengan nama Mr Rudolf.


Karena di masa lalu dirinya hampir terbunuh oleh Mr Rudolf.


Ya paman Fero tidak lain dan tidak bukan yaitu agen polisi Adrian.


Adrian yang menyelamatkan bayi Wanda dari tragedi yang menimpa dirinya dan Mira.


Adrian yang dulu mengincar keberadaan mafia besar untuk dia tangkap dan amankan,


Adrian yang istrinya di culik dan di jadikan budak nafsu oleh Mr Rudolf.


Adik dari ibu yang telah melahirkan Alfaro.


Alfaro yang selama ini dia besarkan dengan sepenuh hati hingga sampai sebesar dan sesukses ini.


"Alfaro"


Paman Adrian coba memecah keheningan akan kecemasan yang di rasa Fero.


"Ya paman kau butuh sesuatu?"


"Tidak nak, apa sahabatmu itu orang yang baik?"


Paman Adrian coba menanyakan tentang David.


"Maksud paman, David?


Ya dia sahabatku yang paling baik paman, keluarganya pun juga sangat baik padaku, termasuk ayahnya dan ibu asuhnya , bibi Wanda"


Jawab Fero polos.


"Kenapa kamu bisa mengenal Wanda?"


Tak terasa pertanyaan Adrian membuat Fero heran, tapi dia tidak terlalu ambil pusing.


"Bukannya saat itu aku pernah bicarakan ini pada paman yang pada saat aku menginap di rumah David, aku sempat dekat dengan ibu Wanda, oh ya paman dia sangat baik sekali padaku, dia juga sepertinya menyayangiku, terlihat saat aku hendak pulang, dia menangisi kepergian ku, dan entah kenapa saat aku berada di dekatnya, rasanya aku merasa tenang dan nyaman,"


Adrian terdiam mendengar semua cerita tentang Wanda dari Fero.


(Andai kamu tahu nak, dialah ibumu) ucap hati Adrian melihat kepolosan anak asuhnya itu.


Tapi dia juga tidak bisa diam jika sampai Mr Rudolf mengetahui keberadaannya,


Adrian takut keadaannya yang masih hidup di ketahui oleh Mr Rudolf.


"Fero, tapi paman minta sama kamu jangan terlalu dekat dengan Mr Rudolf."


Pesan Adrian membuat Fero penasaran.


"Memangnya kenapa paman?"


"Tidak, kau fokus saja dengan tugasmu sebagai abdi negara sekarang karena tugas mu sekarang sudah semakin serius, kamu harus menangkap komplotan pengedar gembong Jefri,"


Perintah Adrian.


...


Merekapun tiba di sebuah penginapan.


Mereka tinggal di sebuah penginapan sederhana ala masyarakat biasa, guna menyembunyikan identitas mereka sebagai agen polisi rahasia.


Sebenarnya mereka mempunyai beberapa apartemen mewah, namun Adrian memutuskan untuk tinggal sederhana bersama Fero di tempat biasa,


Keahlian Adrian dalam mengungkap sindikat pengedaran narkoba sudah di akui oleh semua kalangan, terbukti dengan di nobatkan nya dia sebagai agen polisi terbaik dengan mendapat piala penghargaan sebulan yang lalu.


Merekapun masuk ke dalam penginapannya, sementara pak Adrian tidak membahas lagi tentang David dan Alfaro.


Meskipun begitu, pak Adrian tidak akan pernah melepaskan perhatiannya pada Fero, agar dia tidak sampai bertemu lagi dengan Mr Rudolf.


Si mafia kejam pembunuh istri dan ayah Fero.


Dalam hati pak Adrian juga memikirkan tentang David.


(Apa David juga seorang mafia seperti ayahnya? Tapi jika memang dia mengikuti jejak ayahnya yang bajingan itu mengapa dia bisa di asrama kan di kemiliteran?)


Pertanyaan tentang David selalu terngiang di kepala pak Adrian.


Dia mencemaskan keadaan Fero jika seandainya David juga seperti ayahnya.


Pak Adrian tidak akan membiarkan Fero sampai bertemu lagi dengan David dan keluarganya.


Dalam hati pak Adrian sempat berpikir untuk kembali ke negara asalnya Indonesia, guna menjauhkan Fero dari bayang-bayang Mr Rudolf.


"Fero, kesini sebentar nak"


Pak Adrian memanggilnya untuk membicarakan niatnya kembali ke Indonesia.


"Ya ada apa paman?"


Tanya Fero dengan memegang secangkir kopi ginseng kesukaannya.


Pak Adrian mengurungkan membicarakan niatnya untuk pindah ke Jakarta, karena dia takut Fero akan curiga kepadanya dengan pindah secara mendadak, diapun mencari alasan agar Markus bisa mendapatkan tugas di Indonesia begitupun dengan dirinya.