Police Hunter

Police Hunter
Identitas yang terungkap



Dengan segera pak Adrian menghubungi Intel rahasianya agar Fero segera pergi dari tempat itu,


Namun usahanya gagal, Rudolf sudah menghampiri Fero pada saat pak Adrian menghubungi intel nya.


"Nak,"


Panggil Mr Rudolf menghampiri Fero yang saat itu sedang berdiri lega karena incarannya sudah berhasil dia ringkus.


Fero pun menoleh ke arah suara yang memanggilnya,


Alangkah terkejutnya dia melihat Mr Rudolf memanggilnya namun sesuai perintah pamannya dia tidak boleh menampakan wajah dan identitas dirinya pada siapapun termasuk pada orang yang dia kenal sekalipun.


"Ya tuan, ada yang bisa saya bantu?"


Fero coba merasa tenang dan pura-pura tidak mengenali Rudolf.


"Kalung mu terjatuh saat berkelahi tadi"


Rudolf menyerahkan kalung berbentuk kotak kecil yang di bawa saat terjatuh dari lehernya.


"Terimakasih tuan"


Fero berterimakasih pada Rudolf karena sudah menyelamatkan kalung kesayangannya.


"Sama-sama nak oh ya pekerjaan mu sangat baik dan mulia kamu juga sangat hebat dalam mengalahkan semuanya siapakah namamu nak?"


Rudolf coba memancing Fero agar memberi tahu siapa dirinya dan membuka penutup wajahnya.


Fero pun merasa tidak apa-apa jika sekali saja dia memperlihatkan kepada Mr Rudolf siapa dirinya,


Namun saat dia hendak membuka masker yang dia pakai, tiba-tiba saja seorang Intel rahasianya menarik tangan Fero dan mengajak nya segera masuk ke dalam mobil menuju kantor polisi.


Fero pun tidak sempat berpamitan pada Mr Rudolf diapun juga tidak sempat membuka maskernya.


Namun kejadian itu membuat Mr Rudolf marah karena dia gagal membuka siapa polisi yang ada di hadapannya,


Karena niatnya jika sampai Rudolf mengetahui siapa polisi tersebut maka dia akan langsung menghabisinya.


"Sial aku gagal melihat siapa polisi itu"


Gerutu Mr Rudolf larut dalam kemarahannya dan kegagalannya.


"Tapi sepertinya aku merasa tidak asing dengan perawakan anak muda itu"


Pikir Mr Rudolf.


...


Pak Adrian merasa lega karena Fero tidak sempat membuka maskernya di hadapan Mr Rudolf, sehingga Rudolf tidak mengetahui bahwa polisi yang dia incar bersama Jefri adalah Fero dan dirinya.


Fero pun masuk ke dalam mobil dengan segera pak Adrian langsung menancap gas melaju dengan kecepatan tinggi karena dia merasa ada yang aneh dengan mobil yang berada di sampingnya mereka seolah mengincar Fero.


Dan benar saja saat mobil pak Adrian melaju, kedua mobil itu mengikuti mobil pak Adrian pengejaran pun terjadi mobil pak Adrian di hadang dua mobil asing.


"Tetap sembunyikan wajahmu nak, jangan sampai mereka mengetahui siapa dirimu?"


Perintah pak Adrian pada Fero.


Dengan tenang pak Adrian terus melaju dengan cepat, Fero pun coba merasa tenang.


Namun beberapa orang dari mobil itu ternyata menyerang mobil pak Adrian dengan beberapa tembakan sontak Alfaro pun tidak tinggal diam dia coba kembali menyerang guna menyelamatkan diri.


Sementara pak Adrian tetap fokus dengan laju mobil nya dan mengabari agen lain untuk menyelamatkan dia dan Fero dari penyerangan yang menimpa mereka.


Dor


Dor


Dor,,,


Mereka saling menyerang,


Fero berhasil menembak satu mobil yang mengintainya sehingga mobil tersebut berhenti karena ban mobil nya pecah,


Mereka coba menghentikan laju mobil yang mengikuti mobil pak Adrian,


Mereka menghadang mobil tersebut namun gagal karena mereka menabrak motor yang ada di depannya.


Mereka tidak pantang menyerah mereka terus berusaha menghentikan laju mobil tersebut dengan menembakan peluru di sebagi peringatan.


Namun anak buah Jefri tidak menggubris, mereka terusĀ  melajukan mobilnya mengejar Alfaro dan pak Adrian,


Namun ternyata mereka gagal akhirnya anak buah Jefri berhasil mereka lumpuhkan dengan menghadang dan menembak mobil nya.


Merekapun akhirnya kalah.


Anak buah Jefri pun berhasil di lumpuhkan.


Pak Adrian dan Fero pun menghentikan laju mobilnya dan berbalik arah ke tempat polisi lain menangkap anak buah Jefri,


Fero keluar dari mobil dengan membuka topi dan maskernya menghampiri polisi lain yang menangkap anak buah Jefri.


Mr Rudolf yang sengaja melintas di jalan tersebut terkejut saat melihat pemuda berjaket merah ala basketball itu ternyata adalah Alfaro sahabat David anaknya.


"Alfaro, astaga ini tidak mungkin"


Kemarahan Mr Rudolf semakin memuncak karena dia mengetahui kalau yang menangkap sindikat Jefri dan mengancam bisnis nya adalah sahabat dari anaknya,


Alfaro yang dulu sempat menginap di rumahnya.


"Andai saja aku tahu jika keberadaan mu mengancam Bisnisku? sudah aku habisi kamu di rumahku saat itu juga"


Mr Rudolf terus menggerutu di dalam mobilnya.


Pak Adrian yang menyadari adanya Mr Rudolf melintas dan sudah mengetahui identitas Alfaro yang sebenarnya terkejut dan cemas.


Dengan pikiran yang matang pak Adrian langsung mengajaknya pulang dan bersiap untuk pergi dari negri yang sudah membesarkannya itu.


"Sekarang juga kamu bersiap bawa semua barang yang menurutmu penting karena malam ini juga kita akan pergi ke Surabaya"


Paman Adrian meminta Alfaro bersiap untuk pergi, Fero bingung dengan tingkah pamannya yang terburu-buru dan terlihat cemas.


"Memangnya ada apa paman? kenapa kita terburu-buru?katakanlah apa yang membuat paman cemas?"


Tanya Fero pada pak Adrian.


"Keadaanmu sekarang sudah terancam?"


Jawabnya singkat.


"Apa hanya karena kejadian yang menyerang kita tadi paman sekarang jadi mengkhawatirkan ku? Bukankah kita sudah biasa mendapat penyerangan dari anak buah Jefri?"


Pernyataan Fero memang ada benarnya, namun bukan karena alasan itu yang membuat pamannya cemas.


"Bukan karena itu nak, ini lebih bahaya dari anak buah Jefri?"


"Apa itu paman?"


"Sudahlah, jika kamu memang menyayangiku? Menurut lah, segera siapkan semua barang yang harus kamu bawa malam ini juga kita akan berangkat ke Surabaya,"


Alfaro pun tidak kuasa melawan permintaan pamannya karena bagaimanapun juga paman Adrian sudah seperti ayahnya sendiri, meskipun dirinya tahu kalau dia hanyalah seorang anak asuh yang di urus pak Adrian dari bayi sampai sekarang,


Kasih sayang Fero pada pak Adrian sama besar nya dengan anak-anak lain yang menyayangi orangtuanya.


Lantas pak Adrian pun tidak pernah menyembunyikan kebenaran tentang orangtuanya yang telah tiada, itu sebabnya dia memberi Fero sebuah kalung yang berisikan foto Ryan dan Wanda saat masih muda dulu, foto nya memang terlihat buram karena pada saat itu kecanggihan kamera tidak secanggih zaman sekarang, jadi foto Ryan dan Wanda yang ada di kalung nya nampak blur.


...


Setelah mereka sudah bersiap, terlebih dahulu mereka pergi ke pemerintahan untuk mengambil izin pemindahan tugas ke tanah air, karena sebenarnya saat pertama pak Adrian mengetahui keberadaan Mr Rudolf dengan segera dia mengurus pemindahan tugasnya tanpa Fero ketahui,


Hingga akhirnya merekapun mendapat izin tersebut.


Pak Adrian masih menjabat sebagai kepala polisi teladan, maka saat dirinya hendak akan pergi dari Belanda, semua kawan sejawatnya di kepolisian merasa sedih dan kehilangan dengan sosok pak Adrian yang teladan dan menjadi contoh bagi polisi yang lain karena sikap nya yang bertanggung jawab dan berjiwa besar menjadi suri tauladan polisi lain untuk mengikuti jejaknya.


Begitupun Fero, dengan berat hati dia harus meninggalkan negara yang telah membesarkannya demi menuruti keinginan pamannya untuk pindah ke Surabaya.