
David akhirnya sampai di bandara Jerman sebelum pulang dia coba menghubungi nomor yang Mr Nicolas berikan padanya, lebih tepatnya nomor ponsel pak Adrian ayah dari Alfaro menurut Mr Nicolas.
Tut...Tut...
Panggilan tersambung David sangat bahagia akhirnya panggilannya bisa tersambung pada pak Adrian.
Dering ponsel pak Adrian pun berbunyi segera dia melihat ada panggilan masuk dari nomor yang tidak di ketahui dari area negara lain di ponselnya.
"Nomor siapa ini?"
Pikir pak Adrian.
Dia pun menerima panggilan David
"Halo dengan siapa?"
Tanya Pak Adrian.
"Halo apa benar ini dengan ayah Alfaro?"
David.
" Ya benar, ini dengan siapa?"
"Saya David sahabat Fero"
Pak Adrian sangat terkejut saat mendengar nama David, karena dia tahu dari Fero jika sahabatnya itu adalah anak dari Mr Rudolf si mafia pembunuh istri dan ayah Alfaro.
Mata pak Adrian pun memerah menahan amarah dalam hatinya pada Mr Rudolf. Hatinya ikut benci pada David karena dia adalah anak dari orang yang sangat dia benci meskipun David tidak mengetahui apa-apa tentang ayahnya itu.
Pak Adrian memutuskan untuk tidak membiarkan Fero berhubungan kembali dengan David. Secara tiba-tiba Dia menutup telpon nya dan beralasan bahwa Alfaro sedang sibuk.
"Maaf Alfaro sedang tidak ada disini, dia sedang sibuk dengan tugasnya"
Ucap Pak Adrian sebelum menutup panggilannya.
David terkejut dan merasa heran kenapa ayahnya mendadak menutup telponnya begitu saja? padahal dia ingin menanyakan keadaan Alfaro.
"Mungkin ayahnya sedang sibuk jadi dia tidak banyak bicara mengenai Fero tadi"
Pikir David berusaha berpikir positif.
...
David pun tiba di rumah Wanda menyambutnya dengan hangat dan penuh senyum, dia bahagia melihat anaknya kembali dalam keadaan yang sehat dan tidak kekurangan suatu apapun.
"David, bagaimana kabarmu nak?"
Tanya Wanda memeluknya, David pun membalas pelukannya.
"Aku hanya pergi tiga hari saja Wanda, aku baik baik saja"
David menjawab keadaannya dengan wajah yang ceria,
Wanda pun ikut senang melihat keadaan David yang baik.
David pun mulai bicara serius dengan Wanda dia meminta maaf karena belum bisa menemukan Alfaro untuknya,
"Wanda, sebelumnya aku minta maaf padamu"
"Kenapa nak? apa yang membuatmu gelisah?"
Wanda tidak berpikir David akan membicarakan tentang Fero padanya
"Maafkan aku Wanda, aku belum bisa menemukan Alfaro?"
Jawab David dengan menundukkan kepalanya karena merasa gagal dan sedih.
"Tidak apa-apa nak, Wanda paham mencari seseorang di negri orang lain itu sangat sulit bahkan di kota kita saja juga sulit, terlebih lagi di negri orang. Hihi"
Ucap Wanda tersenyum simpul dengan jawaban nya pada david.
Wanda samasekali tidak merasa kecewa dengan David yang belum berhasil menemukan anaknya itu.
Namun sesaat David pun menceritakan semua yang dia ketahui dari Mr Nicolas.
"Tapi Wanda, aku baru saja mendapat kabar dari Mr Nicolas saat hendak pulang jika Fero dan ayahnya pindah ke Surabaya,"
Sontak Wanda pun terkejut mendengarnya.
"Ayah, siapa yang di maksud David"
Pikir Wanda menerawang menebak siapa ayahnya Fero yang di maksudkan.
"Mr Nicolas adalah sahabatnya pak Adrian ayah nya Alfaro, dia memang tidak mengenal Fero tapi dia mengenal ayahnya dia juga mengatakan jika tiga hari lalu mereka pindah tugas ke Surabaya"
Ucap David menjelaskan.
Saat mendengar nama pak Adrian disebutkan, Wanda pun merasa sedikit lega, meski dia memang benar-benar terkejut,
"Tpi bukankah mas Adrian ikut terbakar di dalam mobilnya bersama Mira"
Tanya hati Wanda teringat masa lalu saat dirinya menyaksikan sendiri terbakarnya mobil Pak Adrian dan Mira saat mencoba menjauh dari kejaran anak buah Mr Rudolf.
Dia bahkan mengucapkan serapahnya pada sang adik karena luka akan kehilangan bayi yang baru dilahirkannya,
"Mas Adrian, apa itu memang kamu? suami mba Mira?"
Lantas David pun memberikan nomor telpon pak Adrian pada Wanda karena dirinya ingin memastikan apa benar itu mas Adrian yang dia kenal atau bukan.
"Wanda jika pak Adrian ayahnya Fero? Itu artinya dia paman nya? Bukankah suami Wanda sudah tiada?"
Tanya David meminta maaf jika perkataannya telah menyinggung hatinya.
Wanda pun tidak keberatan dengan pertanyaan yang di ajukan David padanya,
"Tidak apa-apa nak, walaupun memang benar Alfaro adalah anakku, pak Adrian memanglah pamannya karena ayahnya sudah tiada oleh si mafia kejam itu"
Mata Wanda pun memerah dengan tangannya yang mengepal karena amarah dalam hatinya jika mengingat semua yang telah terjadi, namun dia tidak bisa melakukan apapun pada si mafia itu karena kasih sayangnya pada sang adik pun juga sama besarnya meskipun adiknya mafia besar dan kejam.
"Maaf Wanda jika boleh tau, siapa mafia brengsek itu? Apa perlu aku beri dia pelajaran"
David ingin sekali membalaskan sakit hati Wanda pada si mafia yang telah menyebabkan kematian suaminya hingga terpisahkan dia dengan anaknya.
Terlihat sekali dari pancaran matanya, David ingin sekali memberi pelajaran pada si mafia itu