Police Hunter

Police Hunter
Niat keadilan David



Terlihat sekali dari pancaran matanya, David ingin sekali memberi pelajaran pada si mafia itu.


David pun seperti ikut membenci dan mengutuk si pembunuh suami Wanda.


Melihat David tersulut amarah, Wanda coba menenangkan hati David dan menyembunyikan semua kebenaran tentang si mafia tersebut, meskipun David sangat penasaran.


"sudahlah nak semua sudah menjadi masa lalu yang terpenting sekarang Wanda harus memastikan sendiri dulu apa benar Fero adalah anaknya Wanda"


David pun tidak memaksakan diri jika memang keputusan Wanda seperti itu. Dia pun memberi nomor pak Adrian pada Wanda.


...


Saat David hendak kembali ke kamarnya, Wanda menghentikan langkah David tiba-tiba,


"Nak, Wanda mohon jangan sampai ayahmu tau tentang hal ini ya"


Pinta yang sama padanya tentang rencana ini.


David pun mengangguk tersenyum membuat hati Wanda merasa tenang dan percaya pada anak asuhnya itu.


Meski hati David memang sebenarnya heran dan penasaran kenapa Wanda tidak ingin ayah nya mengetahui tentang ini, tapi dia juga tidak ingin mengecewakan dan membuat hati Wanda sedih, dia pun menuruti permintaannya untuk tidak membicarakan tentang hal ini pada Mr Rudolf.


David pun berlalu menuju kamarnya untuk istirahat.


...


Di tempat lain Mr Rudolf masih berada di Belanda bersama Mr Jefri dia baru mengetahui tentang Alfaro yang pindah tugas ke Surabaya dari salah satu anak buahnya Jefri.


"Tuan, ada kabar gembira ternyata polisi yang selalu mengincar kita sekarang sudah tidak ada, haha"


Lapor Kevin salah satu anak buah Jefri.


"Apa maksud kamu?"


Tanya Mr Jefri.


"Ya tuan, mereka sudah di pindah tugas kan ke Indonesia "


Kevin.


"Apa itu berita benar?"


Mr Jefri menanyakan kebenaran informasinya,


Dia coba menghubungi dan meminta anak buah yang lain untuk mencari tahu kebenarannya.


Dan ternyata memang benar semua anak buah yang Mr Jefri tugaskan untuk mencari informasi tentang agen polisi yang mengincarnya pindah tugas ke Surabaya.


Mr Jefri pun tertawa bahagia,


"Hahaha tanpa kita usir ternyata mereka mengundurkan diri juga"


Timpal Mr Jefri kegirangan.


"Apa memang benar agen polisi itu pindah?"


Tanya Mr Rudolf pemasaran karena pindah tugas Alfaro terlihat sangat tiba tiba.


"Ya si bajingan Adrian dan anaknya kini sudah pergi kawan"


Mr Rudolf yang kala itu sedang meminum air di gelasnya langsung tersedak mendengar nama Adrian,


"Apa Adrian?"


Nama itu terlontar dari bibir Mr Rudolf yang terkejut.


"Ya Adrian ketua polisi yang selalu berhasil menangkap anak buahku, dia bersama anaknya kemarin sangat lihai sekali menipu dan mengintai anak buah ku, siapa tuh nama anaknya dia baru saja keluar dari kemiliteran nya dan sekarang bergabung bersama ayahnya memberantas gembong bisnis kita"


Jelas Mr Jefri menceritakan tentang Adrian dan Alfaro.


"Tidak mungkin jika Adrian yang mereka maksud adalah Adrian polisi yang mengincarnya dulu. Dia sudah mati, tidak mungkin. Ah mungkin hanya kebetulan nama nya sama saja, karena Adrian dulu sudah terbakar mati dengan istri dan anaknya Wanda"


Ucap hati Mr Rudolf sembari teringat kejadian yang menewaskan Mira, Adrian dan bayi yang Wanda yang dia titipkan pada Mira saat mereka melarikan diri,


(Ah mungkin hanya namanya saja yang sama)


Gumamnya lagi meyakinkan diri.


Dia pun bercerita pada Mr Jefri bahwa dirinya harus kembali ke Jerman, karena ada hal yang harus dia selesaikan,


Mr Jefri pun tidak keberatan, tanpa berpikir panjang Rudolf pun kembali ke Jerman bersama Denis dan anak buahnya yang lain.


Sepanjang perjalanan dia memikirkan agen polisi yang bernama Adrian, polisi yang selalu Mr Jefri bicarakan padanya,


Dia merasa khawatir jika memang itu Adrian yang sama dengan yang dia maksud berarti selama ini Adrian belum mati dan kemungkinan bayi Wanda pun juga belum mati.


Setelah sampai bandara Jerman Rudolf pun coba menghubungi anak buah nya yang ada di Indonesia untuk menyelidiki keberadaan Adrian dan Alfaro.


"Kau selidiki agen polisi yang baru pindah tugas ke Surabaya dari Belanda, jika ada informasi segera kamu hubungi aku"


Tegas Mr Rudolf pada Brian, sindikat pengedar yang ada di Indonesia.


"Baik tuan, saya akan cari tahu mengenai polisi Adrian"


Telpon pun di tutup Mr Rudolf kini sampai di rumahnya.


Di dalam rumah terlihat nampak sepi tidak terlihat Wanda ataupun David.


"Kemana mereka?"


Tanya Mr Rudolf pada asisten rumah tangganya.


"Maaf tuan tadi nak David bawa Wanda pergi keluar, tapi mereka tidak memberitahu hendak kemana?"


Jawabnya terlihat takut dengan Mr Rudolf.


Dan ternyata memang benar, Mr Rudolf nampak seperti akan marah namun dia berhasil meredam amarahnya.


"Kemana mereka pergi?"


Pikir Mr Rudolf.


Dia pun menelpon ponsel David namun tidak ada jawaban. Kemudian dia coba menghubungi Wanda tetap sama juga tidak ada jawaban.


"Argh..."


Mr Rudolf pun kesal.


...


Di tempat lain, David membawa Wanda ke sebuah danau untuk melihat pemandangan alam yang indah untuk membuat hati dan pikirannya tenang.


"Apa kau suka dengan tempat ini Wanda?"


Tanya David.


Jawab Wanda menghirup udara alam dengan sangat dia nikmati seolah dia ingin sekali terbang bersama angin yang menyejukkan jiwanya.


Mereka duduk berdua di kursi yang sudah tersedia disana,


David mengamati sekitar danau semua terlihat sangat indah, angin yang bertiup sejuk, suara daun yang rindang membuat suasana semakin asri, dengan pemandangan air danau yang terlihat tenang.


"Wanda aku ingin sedikit bercerita denganmu?"


Ucap David memecah kesejukan yang sedang di rasakan Wanda.


"Bicaralah nak"


Dengan menutup mata sambil menikmati angin Wanda menjawab.


"Jika menurutmu ini baik untukku apa boleh aku pergi ke Surabaya?"


Ucap David membuat lamunan Wanda akan alam yang indah seketika pudar.


"Aku sangat rindu sekali dengan papa dan mama rindu juga dengan adikku, rasanya ingin sekali aku melihat tempat terakhir mereka semenjak aku di bawa ayah Rudolf kemari, aku tidak tau lagi kabar mereka? apa benar mereka sudah tiada atau masih hidup dan entah dimana mereka di kebumikan?


Lanjut David dengan memainkan jari jemarinya.


Wanda merasa sedih dengan curahan David tentang papa dan mamanya, karena bagaimana pun dia mengetahui jika kedua orangtua David memang sudah tiada.


"Rasanya aku ingin sekali tahu siapa mereka yang telah membunuh papa dan mama? aku ingin sekali membalas kematian mereka? aku ingin mereka tenang disana entah kenapa polisi tidak bisa menyelesaikan kasus kematian mereka,aku merasa ada yang aneh dengan semua ini"


David masih terus melanjutkan curahannya, Wanda pun coba menenangkan David dengan mengelus dadanya.


"Dari dulu aku ingin sekali kembali ke Surabaya namun ayah sepertinya tidak menyukai itu,"


Tak terasa kini air mata David mulai menetes.


"Jika memang kamu ingin sekali mengungkapkan dan membalaskan kematian orangtua mu maka pergilah nak carilah keadilan bagi mereka, aku tidak akan menghalangi jalanmu tapi kamu harus ingat, kamu harus berhasil memberikan keadilan bagi mereka bukan menghabisi mereka kau paham kan dengan maksud Wanda?"


David sangat paham sekali maksud Wanda padanya,


Meskipun David selalu di doktrin tentang pembalasan dengan menghabisi oleh Mr Rudolf.


Namun dia sudah memegang teguh pendirian nya dengan kebencian pada pembunuhan, itu sebabnya sampai saat ini David tidak tertarik berprilaku seperti ayahnya yang selalu mengambil jalan pintas untuk membunuh seseorang yang di anggap menghalangi jalannya.


Meski David tumbuh di pangkuan Mr Rudolf namun dia juga tumbuh bersama rangkulan Wanda yang selalu meluruskan perilaku nya pada hal yang benar.


Wanda selalu menasihatinya dengan nasihat yang baik dan masuk di akal menurut David.


Sementara Mr Antonio selalu menuntut David agar menjadi pribadi yang kuat dan tak terkalahkan, agar bisa melindungi dirinya dan menggantikannya kelak.


"Tapi bagaimana dengan ayah? apa yang harus aku katakan agar dia mau mengijinkan aku kembali ke Surabaya?"


Ucap David pada Wanda.


Mereka pun sedikit termenung memikirkan rencana agar David bisa pergi ke Surabaya tanpa Mr Rudolf bisa menghalanginya.


"David, bukankah kamu seorang militer? coba kamu bertanya pada mereka barangkali ada tugas menanti kamu disana?"


Saran Wanda pada David.


David samasekali tidak terpikirkan dengan hal itu, ya bisa saja dia mencari tugas di Indonesia, karena dengan kemampuan dan nilainya yang sangat bagus, agen lain pasti membutuhkannya.


Walaupun memang tidak ada panggilan tugas untuknya di tanah air dia bisa saja berbohong pada Mr Rudolf dengan alasan itu.


"Kau benar Wanda aku bisa pergi kesana dengan alasan itu, terimakasih Wanda"


David memeluk erat Wanda di sampingnya.


David merasa lega dan tenang dengan saran yang Wanda berikan padanya dan semoga saja Mr Rudolf bisa mengijinkannya untuk pergi ke Surabaya.


Merekapun kembali menikmati suasana udara di danau yang indah.


...


Wanda pun mulai bertanya kembali pada David tentang Fero dan pak Adrian,


"Nak kenapa kita tidak mencoba lagi menghubungi ponsel ayahnya Fero?"


Pinta Wanda.


David pun setuju dan mengeluarkan ponsel dari sakunya untuk menghubungi ponsel pak Adrian.


Namun sayang, saat David mencoba menghubungi pak Adrian panggilannya tidak tersambung sepertinya nomor David di blokir tapi mengapa? David pun merasa bingung.


"Mada entahlah ini perasaanku atau apa, tapi sepertinya nomor ku di blokir oleh pak Adrian"


Ucapnya.


Saat David berbicara seperti itu, Wanda justru semakin yakin jika pak Adrian yang David maksud sebagai ayah Fero adalah mas Adrian suami dari Mira.


Mas Adrian sahabat suaminya yaitu Ryan.


Air mata Wanda pun mulai menetes perlahan karena dia yakin bahwa Alfaro yang bersama pak Adrian adalah Fero bayinya,


Mungkin pak Adrian sengaja memblokir ponsel David karena dia merasa terancam jika sampai David atau Mr Rudolf mengetahui keberadaannya bersama Alfaro.


Wanda pun mencoba menghubungi ponsel pak Adrian dari nomor nya,


"Nak, bolehkah Wanda menghubungi ponsel pak adrian dengan nomorku?"


Wanda mencoba menghubungi pak Adrian.


"Cobalah "


David menyebutkan nomor ponsel pak adrian pada Wanda.


Dengan kekuatan hati yang hanya tersisa sedikit, Wanda menguatkan dirinya untuk mendengar suara pak Adrian,


Tut.....


Tut....


Panggilan berdering namun masih belum ada jawaban dari sebrang sana.


Kemudian Wanda pun terus mencoba kembali sampai


panggilannya bisa di terima oleh pak Adrian.


Dua panggilan tak terjawab,


Wanda mencoba untuk yang ketiga kalinya dan ternyata pak Adrian pun mengangkat panggilannya.


"Halo dengan Adrian yang bicara?"


Ucap seseorang di sebrang telpon,


"Wanda "