
Seperti biasa mereka sarapan pagi bersama hanya saja wajah Wanda masih nampak sedih, David pun coba memberi kode pada Fero untuk menghiburnya agar bisa kembali tersenyum.
Fero yang mengerti dengan kode dari David coba memulai pembicaraan untuk menghibur ibu angkatnya itu.
"Wanda tidak usah khawatir nanti setelah Sampai Belanda aku pasti akan selalu hubungi Wanda kesini"
Ucap Fero terasa nyata hingga membuat senyum kecil mada merekah kembali.
"Atau apa Wanda mau ikut aku ke Belanda? David kita main saja ke rumahku ajak Wanda sekalian, hihi"
Seketika mereka tertawa dengan ajakan Fero yang tidak masuk akal, meski sebenarnya Wanda memang ingin ikut bersama Fero tapi dia menyadari bahwa itu hanyalah sebuah ajakan untuk menghiburnya.
Wanda pun tersenyum melihat kedua jagoannya tertawa dan menghiburnya.
Sementara Mr Rudolf yang tidak menyadari kesedihan sang kakak terlihat acuh, selesai makan pun dia segera bergegas menuju kantornya.
"David, ayah berangkat ya nak, Alvaro kamu juga hati-hati di jalan ya"
Pesan Rudolf pada Fero sebelum berangkat,
Akhirnya dia pun masuk mobil dan berangkat menuju kantornya.
Fero juga segera bersiap untuk pamit kembali melanjutkan perjalanan pulang ke Belanda.
"David aku juga pamit ya? Terimakasih untuk hari-hari yang telah kita lewati bersama selama 6 tahun ini, aku tak akan bisa melupakan semua itu kamu sahabat terbaikku"
Ucap Fero memeluk David sebagai tanda persahabatan mereka.
"Kamu juga sama semoga kita bisa bertemu lagi Fero"
Mereka saling berpelukan sebagai tanda perpisahan, air mata Mada pun tak terbendung melihat Alfaro yang hendak pergi dari dirinya.
"Wanda"
Tak lupa Fero juga memeluk Wanda yang seakan tidak ingin dia lepaskan.
"Wanda terimakasih untuk semuanya, aku merasakan sosok seorangr ibu yang selalu aku rindukan ada padamu, terimaksih Wanda"
Timpal Fero menggoda Wanda membuatnya semakin tidak bisa menahan diri.
Saat Fero hendak melepaskan pelukannya, Wanda seakan tidak ingin melepaskan pelukan Fero padanya, dia sangat memeluk erat Fero dengan tangannya.
David yang melihat pun coba melepaskan dan menyadarkan Wanda bahwa sikapnya itu berlebihan, akhirnya Wanda pun melepaskan pelukannya dan meminta maaf.
"Maafkan aku nak, aku terbawa suasana, tapi kamu janji padaku ya untuk selalu mengabari kami disini"
Ucapnya kembali meneteskan air matanya,
Tangan Wanda seolah menahan kepergian Alfaro.
Alfaro pun merasa berat meninggalkan Wanda namun dia memang harus kembali ke negaranya.
Akhirnya dia pun masuk ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalanannya menuju bandara,
David dan Wanda berdiri di pintu depan melepas kepergian Alfaro dengan air mata yang terus menetes tak terhenti.
"Thit..thit..."
Bunyi klakson mobilnya menandakan salam perpisahan kepada David dan Wanda.
Mereka membalas suara klakson mobil Markus dengan senyum dan lambaian tangan perpisahan.
...
Mereka akhirnya kembali masuk ke dalam rumah,
David merasa ada yang di sembunyikan Wanda darinya,
"Wanda apa kau mempercayaiku?"
Tanya David serius.
Wanda sangat paham dengan ucapan David padanya.
"Antar aku ke kamar David"
Jawab Wanda memintanya untuk mengantar ke kamar.
Dengan langkahnya yang semakin lemah karena faktor usia Wanda memang terlihat lemah, David pun mengantar Wanda ke kamarnya.
David coba membaringkan Wanda di tempat tidur namun dia menolak, Wanda membawa sebuah kotak kecil berisikan sebuah foto dirinya saat masih muda sedang menimbang seorang bayi.
Wanda memperlihatkan foto itu pada David.
"Astaga..."
Begitu terkejutnya David melihat foto Wanda saat masih muda.
"Wanda apa ini artinya?"
Tanya David terhenti karena teringat akan foto wanita pada kalung sahabatnya, foto wanita itu sama dengan foto yang di sebut Fero sebagai ibunya yang sudah tiada.
Dengan lemah dan air mata penuh kesedihan Wanda pun menganggukkan kepalanya.
David memeluk Wanda dengan erat, dia begitu merasakan kesedihan di hatinya kala melihat pengakuan dimatanya jika Alfaro adalah anaknya.
Meski dalam benaknya banyak sekali pertanyaan?
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Ceritakan lah semuanya padaku Wanda?"
Tatapan David mulai berkaca-kaca dengan kenyataan hidup yang terjadi pada ibu asuhnya itu.
"Wanda tidak tau harus mulai bicara darimana nak, aku terlalu takut untuk menceritakan semua ini"
Mulut Wanda gemetar coba menceritakan semuanya dari awal.
"Percayalah padaku Wanda, tidak akan terjadi apapun selama ada aku bersamamu"
Jawab David coba menenangkan Wanda yang sedari tadi gemetar.
"Kamu harus janji tidak akan membicarakan semua ini pada siapapun nak?"
Pinta Wanda.
Wanda ingin david berjanji untuk merahasiakan kebenaran kisahnya di masa lalu.
"Percayalah, aku tidak akan membuatmu kecewa"
Janji David pada Wanda.
Wanda pun mulai membuka rahasianya,