Police Hunter

Police Hunter
Flashback



Wanda pun mulai membuka rahasianya,


"Sebelum kami tinggal di negri ini, Wanda juga tinggal di Surabaya bersama ayahmu nak,


Aku mempunyai seorang suami yang sangat baik dan jujur, dia juga cukup sukses namanya Ryan, aku juga melahirkan seorang anak laki-laki yang lucu dan tampan sepertimu nak, namun insiden tak terduga terjadi menimpa kami.


Suamiku, dia menjadi korban keserakahan seorang mafia kejam. Mas Ryan meninggal karena kecelakaan,


Bayiku di ambil paksa oleh keluarga Ryan, karena mereka tidak mempercayaiku jika aku bisa membesarkan bayiku dengan segala keterbatasan ini. Saat itu bayiku msih berumur 2 Minggu kami masih belum memberinya nama tapi mas Ryan memang ingin bayi kita di beri nama Alfaro, sampai pada akhirnya Wanda mendengar kabar bahwa bayiku dan keluarga mas Ryan pun ikut menjadi korban dari mafia itu.


Sejak itu Wanda pasrah akan kabar meninggalnya bayi Alfaro.


Tapi saat Wanda melihat tatapan mata Fero sahabatmu Wanda seolah melihat ada mas Ryan di matanya, dan saat Wanda melihat isi foto di kalungnya Wanda pun semakin yakin jika dia adalah anak Wanda yang hilang nak"


Tangis air mata Wanda semakin tak terhenti di pelukan David.


Tubuh dan bibirnya gemetar membuka sebuah rahasia yang selama ini dia tutupinya dalam selama bertahun tahun.


David begitu merasakan kesedihan ibu asuhnya itu yang teramat dalam, tidak mudah baginya membuka sebuah rahasia yang telah dia kubur setelah sekian lama bahkan puluhan tahun.


"Aku sangat bersyukur jika memang Fero adalah bayiku yang telah lama hilang itu masih hidup, Wanda akan selalu berdoa untuk hidupnya, tapi aku tidak akan pernah bisa bersamanya selamanya"


Lanjut Wanda masih dalam pelukan David.


"Kenapa itu bisa terjadi? memang siapa mafia kejam yang telah membunuh suamimu?"


Wanda terdiam seolah menutup rapat mulutnya saat David bertanya siapa yang telah membunuh suami dan anaknya.


"Nak, jika sesuatu terjadi padaku, berjanjilah kamu akan selalu menjaga Alfaro untukku, sayangi dia sebagai adikmu, buatlah dia tetap hidup. Berjanjilah nak?"


Pinta Wanda memohon memegang kedua tangan David untuk berjanji akan melindungi hidup Fero dari apapun dan tidak akan memberitahu kebenaran ini kepada siapapun termasuk pada Fero sendiri.


Wanda meminta hanya dia dan David yang tahu tentang rahasia ini.


"Nak, kasih sayangku kepadamu tidak akan pernah berkurang, meski kini aku tahu jika anakku masih hidup. Wanda akan tetap menyayangimu seperti anak Wanda sendiri,


Kehadiranmu dulu begitu sangat berarti untuk hidup Wanda, David kecil yang hadir dalam hidupku seolah menggantikan bayi Alfaro ku yang ku rasa telah tiada dulu.


Nak apa kamu percaya padaku?"


David meneteskan air matanya mengingat semua kasih sayang yang telah Wanda berikan padanya dari sejak kecil, kasih sayang yang begitu tulus selayaknya seorang ibu kandung pada anaknya.


David sangat mempercayai pada Wanda.


"Aku percaya Wanda, aku berjanji akan membalaskan kematian ayah Alfaro untukmu kepada mafia laknat itu, ingatlah janji itu Wanda"


Seketika Wanda menutup mulut David dengan jari jemarinya saat Zack berucap janji serapah nya itu.


"Shut...


Jangan katakan itu nak, kamu tidak akan pernah bisa membalasnya, cukuplah kamu jamin keselamatan dan kebahagiaan hidup Fero untukku"


David pun menganggukkan kepalanya dan menyeka air mata Mada yang sedari tadi tak terhenti.


"Sudah Wanda, kau jangan bersedih lagi?"


Wanda pun menyeka air mata David yang menetes di sudut matanya.


Kenyataan hidup Wanda memang tidak seindah yang terlihat,


Dia mampu bertahan menanggung beban rahasia dan beban sakit kehilangan orang yang di cintai nya selama bertahun-tahun tanpa seorangpun tahu termasuk adiknya sendiri yaitu Mr Rudolf.


Rasanya David tidak akan mampu sekuat Wanda jika ada di posisinya pikir David.


"Kau wanita tangguh Wanda aku sangat menyayangimu"


Ucap David menenangkan Wanda.


Wanda pun mulai tersenyum kembali meski hatinya masih terasa sesak akan dendam pada mafia jahat si pembunuh orang-orang tercintanya yang tak lain adalah adiknya sendiri Rudolf.Tak mudah bagi Wanda untuk hidup berdamai dengan hatinya yang dendam akan kematian suami dan bayinya, terlebih hidup damai berdampingan dengan pembunuh suaminya.


Flashback


Mr Rudolf membunuh Ryan suami Wanda saat itu karena Ryan mengetahui sindikat pengedaran obat terlarang dirinya di Surabaya.


Saat itu Ryan yang sedang meeting dengan klien nya di sebuah cafe, dia tidak sengaja melihat Rudolf sedang bertransaksi obat terlarang bersama anak buahnya yang lain di tempat yang sama dengan Ryan meeting.


Ryan begitu sangat terkejut dengan usaha haram adik iparnya itu, dia memutuskan merekam transaksi yang dilakukan Rudolf di ponselnya dan akan melaporkannya pada polisi, tapi sebelum itu terjadi Ryan sempat mengirim Vidio itu pada Wanda yang masih dalam keadaan lemah pasca melahirkan Alfaro.


Ulah Ryan yang merekam transaksi Rudolf di sadari oleh salah satu anak buahnya dia melaporkan semua itu pada Rudolf sehingga dia marah besar dan tak akan melepaskan Ryan meskipun dia adalah kakak iparnya sendiri.


Ryan berencana langsung menuju polres untuk melapor namun di perjalanan mobil Ryan di hadang beberapa anak buah Rudolf, meski hidup nya sudah di ujung tanduk Ryan tidak putus asa dia terus melajukan mobilnya dan menelpon salah satu kerabatnya yang seorang polisi dana memang sedang mencari keberadaan si pengedar obat terlarang.


Dia bicara dengan sangat terburu-buru.


"Hello kak, ini aku Ryan tolong aku, aku sedang di kejar beberapa anak buah Rudolf, dialah sebenarnya mafia narkoba yang selama ini kamu cari tolong selamatkan aku istri dan bayi ku kak tolong aku..."


Tut..Tut..Tut..


Telpon terputus...


Pembicaraan Ryan terputus karena dia mengalami kecelakaan, laju mobil Ryan yang terlalu kencang membuat mobilnya tidak bisa terkendali dan menyebabkan mobil menabrak pembatas jalan sehingga jatuh ke jurang.


Polisi Adrian, kerabat yang di telepon Ryan saat itu pun bergerak langsung ke lapangan dan mendapati Ryan sudah di temukan tidak bernyawa.


Polisi Adrian coba menangkap Rudolf dan sindikatnya, namun dia tidak cukup bukti untuk menangkap dan menahannya sehingga teror demi teror Adrian dapat dari Rudolf dan anak buahnya.


Puncaknya


Teror semakin kejam saat isti Adrian di culik oleh Rudolf dan anak buahnya,


5 hari istri Adrian di culik dan di sekap oleh si mafia jahat itu.


Kejadian naas di alami istri Adrian (Mira), dia mendapatkan perlakuan tidak senonoh dari Rudolf, Mira di lecehkan olehnya sesuka hati, Mira di jadikan budak hawa nafsunya, bahkan tak segan dia mengirim foto-foto istrinya telanjang bulat sedang melayani dirinya pada Adrian.


Adrian tidak mampu melawan karena nyawa Mira di pertaruhkan,


Pernah suatu hari Adrian coba menyelamatkan Mira dari tangan Rudolf di bantu oleh tim polisi gabungan nya,


Namun usaha nya gagal, Adrian justru mendapat Videocall Mira sedang di gantung di sebuah ruangan yang jika dalam hitungan 60 detik Adrian dan tim polisinya tidak bubar,


Maka nyawa Mira akan melayang tergantung.


Wanda yang mengetahui semuanya coba menyelamatkan Mira, dia mencari waktu yang tepat dengan mencari celah kesibukan Rudolf untuk membebaskan istri Adrian saat itu.


Hingga di suatu hari saat Rudolf sibuk bertransaksi keluar selama 2 hari, Wanda mulai melancarkan aksinya untuk membebaskan Mira.


"Astaga, kamu tidak apa-apa?"


Wanda coba memapah tubuh Mira yang lemas.


Karena suasana rumah sepi, Wanda pun membawa Mira ke kamarnya untuk memulihkan kesehatannya terlebih dahulu,


Dia mengurus Mira dengan baik,


Luka Mira mulai berangsur pulih, Mira pun mulai bertenaga, Wanda meminta Mira untuk menelpon Adrian menjemputnya di sebuah jalan dengan sembunyi-sembunyi.


"Kau hubungi Adrian, aku akan mengantarmu sampai kau bertemu dengannya, selamatkan lah dirimu dan suamimu,dari adikku


Ucap Wanda sambil menimbang Fero yang masih bayi polos dan merah.


Mira pun setuju dengan saran Wanda.


"Maaf sebelumnya Wanda, mas Adrian sudah menceritakan semua tentang suami dan adikmu, lantas kenapa kamu tidak pergi dari sini dan melaporkan adikmu ke polisi?"


Mira mulai berbicara pada Wanda.


Dia hanya tertunduk, sebenarnya Wanda juga kecewa dan sakit hati pada adiknya karena dia telah membuat suaminya meninggal dunia, tapi apalah daya dia tetap adiknya tugas Wanda untuk menyadarkan Rudolf.


"Apa kamu tidak khawatir dengan pertumbuhan anakmu nanti, bagaimana dia menjalani hidupnya bersama Rudolf disini?"


Mada pun termenung dengan semua ucapan Mira padanya, dia juga mengingat masa depan anaknya dia tidak ingin anaknya tumbuh di sekeliling orang-orang pendosa seperti Rudolf.


Tibalah hari dimana Wanda dan Mira coba melarikan diri, Wanda berhasil keluar dari rumah Rudolf menuju Adrian berada, namun ternyata jejak Wanda di ketahui oleh anak buahnya.


Mobil yang dia bawa di kejar beberapa anak buah Rudolf,


Wanda berhasil lolos dan menyuruh istri Adrian cepat keluar dari mobilnya dan segera masuk mobil Adrian.


Dan sebelum itu terjadi Wanda sempat berpesan kepada istri Adrian untuk menitipkan bayinya pada Mira untuk dia jaga dan dia besarkan.


"Mira sebelumnya aku mau minta maaf padamu atas nama adikku atas semua perlakuannya padamu? dan jika Sudi aku ingin menitipkan bayiku bersamamu, aku tidak ingin bayiku tumbuh di sekeliling orang berdosa seperti Rudolf, aku sudah tahu kamu dan mas Adrian adalah orang yang baik dari almarhum suamiku,"


Mira pun menerima permintaan Wanda untuk mengurus bayinya agar jauh dari orang-orang pendosa seperti pamannya,


"Apa kau memang mempercayai kami untuk membesarkan bayimu Wanda?"


Tanya Mira.


"Aku sangat mempercayai kalian, cepatlah pergi"


Saat mobil Adrian tiba, Mira langsung bergegas membawa bayi Wanda bersamanya masuk ke dalam mobil Adrian.


Sedangkan Wanda coba mengalihkan anak buah Rudolf untuk mengejarnya dan tidak mengejar mobil Adrian.


Awalnya mobil Wanda memang menjadi sasaran, namun karena anak buah Rudolf terlalu banyak Wanda pun lengah dan kalah.


Dan akhirnya mereka kembali mengejar mobil Adrian.


Anak buah Rudolf terus menghadang mobil Adrian, bayi Wanda nampak terlelap meski situasi sedang genting dalam pengejarannya bersama Mira dan Adrian.


Salah satu anak buah Rudolf berhasil menembak satu ban belakang mobil Adrian, sehingga mobil terguling dan terpental beberapa kali,


"Ah..."


Teriak Mira dan Adrian terdengar keras.


Saat beberapa menit sebelum mobil meledak dan terbakar, mereka sempat sadar namun kondisi Mira yang terjepit tidak memungkinkan untuk bisa menyelamatkan diri.


Kaki Mira terjepit bahu mobil depan namun dia masih memeluk erat bayi kecil Wanda.


,


"Mas tolong jaga bayi Wanda untukku, jagalah dia dan sayangi dia selamatkan dirimu dan bayi ini, cepat selamatkan dirimu, kau harus hidup demi Alfaro"


Alfaro.


Ya Alfaro adalah nama bayi Wanda.


Mira mendorong tubuh Adrian keluar dari mobil sebelum mobilnya meledak.


Adrian pun tidak mempunyai pilihan lain dia harus menyelamatkan bayi dan dirinya hingga beberapa detik kemudian mobil itu pun meledak dan terbakar.


Wanda yang mengetahui semuanya berteriak histeris melihat mobil yang di tumpangi bayinya meledak.


"Tidak...


Bayiku...


Alfaro..."


Tangis dan teriakan Wanda pecah saat itu juga, dia tidak percaya jika bayinya ikut menjadi korban dalam mobil yang terbakar itu.


Tubuhnya lemas, Wanda seakan tak percaya kalau bayinya sudah tiada,


"Tidak...tidak...tidak..."


Wanda coba berlari mendekati mobil yang membakar bayinya itu, namun anak buah adiknya menghadang Wanda.


Wanda yang saat itu masih belum percaya dengan takdir bayinya,


Terkulai sujud lemah melihat api yang sedang berkobar di hadapan matanya,


Air matanya tak henti mengalir.


Terdengar suara langkah kaki mendekati Wanda yang sedang menyaksikan api pembakaran bayi di mobil Adrian.


"Sudahlah kak, ikhlaskan anakmu"


Tangan itu mengelus bahu Wanda coba menenangkan.


"Semua ini gara-gara kamu"


Tangan Wanda menunjuk tajam dan menolak keras belaian tangan adiknya itu.


"Tapi hari ini aku lebih bersyukur karena bayiku tidak sempat hidup dan tumbuh bersama dirimu di sampingnya"


Kebencian di mata Wanda nampak terlihat jelas pada adiknya.