
Tak terasa waktu pun berlalu begitu cepat,
David yang pada saat itu sedang mencoba menghubungi Alfaro tidak kunjung menemukan jawaban, nomer handphonenya masih tetap tidak bisa dihubungi.
"Kamu dimana Fero? di saat seperti ini kamu sangat sulit untuk di hubungi"
Pikir David sambil menggerutu di depan layar hp nya.
Dering ponsel pun berbunyi, dia mengira itu panggilan dari Fero namun ternyata Mr nicolas menelponnya,
"Hello tuan David, apakah anda sudah sampai hotel?"
Tanya Mr Nicolas di sebrang telpon.
"Ya Mr saya sudah sampai"
Mr Nicolas memberitahu David jika meeting akan di adakan sore ini di cafe GREEN,
David pun menyetujuinya karena memang jarak cafe dari hotel nya tidak terlalu jauh.
David pun segera memberitahu Mischa dan kedua karyawannya,
Namun pada saat menghubungi Mischa, dia tidak bisa dihubungi hingga membuatnya merasa cemas.
...
Di tempat yang lain Mischa yang masih terlelap dalam dekapan Rudolf mulai tersadar karena beberapa dering masuk di handphone nya,
Dengan mata yang masih agak redup dan kepala yang masih agak pusing efek obat perangsang yang Rudolf berikan padanya Mischa pun melihat siapa yang coba menghubunginya beberapa kali.
"Astaga ada apa pak David coba menghubungiku beberapa kali?"
Pikir Mischa.
Diapun terkejut ketika menyadari keadaannya sudah berantakan bersama Mr Rudolf, dia berpikir apa yang sudah dilakukannya?
Tanpa berpikir panjang akhirnya Mischa memutuskan untuk pergi ke kamarnya dan segera membersihkan dirinya,
Saat Mischa hendak berdiri, tiba-tiba saja tangan Mr Rudolf meraih tangannya,
"Nanti malam, temani aku lagi"
Ucapnya yang masih bergairah pada Mischa.
Tak ada jawaban yang keluar dari bibir Mischa, dia hanya menganggukkan kepalanya dan berlalu meninggalkan nya,
Mischa pun mandi dan bersiap dia segera menelpon David dan menemuinya.
Merekapun berangkat menuju cafe GREEN tempat dimana mereka akan meeting,
Suasana cafe tidak terlalu ramai pengunjung hanya beberapa meja yang terisi, David bersama Mischa pun duduk di meja tengah.
David menunggu Mr Nicolas dan akhirnya yang di tunggu pun datang,
"Maafkan aku Mr David karena sudah membuatmu menunggu lama?"
David pun menghargai dan memaafkan Mr Nicolas untuk keterlambatannya. Karena bagaimanapun dia termasuk orang besar yang sangat sibuk.
"Tidak apa-apa Mr Nicolas, saya pun baru sampai,"
Timpal David.
"Sebenarnya sebelum saya hendak kemari saya menghadiri dulu acara perpisahan kawan saya pindah ke Indonesia," ucap Mr Nicolas menjelaskan.
"Ya tidak apa-apa Mr, its oke"
David merasa tidak keberatan dengan keterlambatan Mr Nicolas.
Dia tidak menyadari jika kawan Mr Nicolas yang dia maksud adalah pak Adrian dan Alfaro.
Merekapun memulai pembicaraan bisnis mereka yang akan menambah barang dan model baru dalam berliannya, Mischa pun mengeluarkan berkas yang sudah di siapkan untuk presentasinya. Percakapan mereka sangat seru dan asyik sampai Mr Nicolas pun memuji kemampuan David dalam berdiskusi dan berkomunikasi dengan nya.
Diskusi dengan David berasa bicara dengan saudara sendiri tidak ada rasa canggung sedikitpun dirasa Mr Nicolas.
Semua seakan terbuka dan tulus dalam setiap ucapan yang David katakan.
Meeting pun selesai dengan hasil yang cukup memuaskan.
Dengan santai David dan Mr Nicolas bicara satu sama lain di luar tema tentang bisnis nya.
***
Kini Alfaro pun tiba di apartment pamannya, sejenak dia istirahat dan terlintas teringat akan sahabatnya David.
Dia berencana akan menghubunginya,
Namun pada saat dia akan menelpon David, pak Adrian memanggil agar menemuinya sekarang juga,
"Ya paman"
Fero pun turun ke bawah menuju pamannya dia penasaran dengan apa yang akan pamannya bicarakan.
Saat Fero menuruni anak tangga dia melihat sosok perempuan berseragam polwan sedang berbincang dengan pamannya.
(Siapa dia?) pikir Alfaro.
"Kenalkan ini agen Laura kepercayaan paman selama ada disini"
Pak Adrian memperkenalkan Laura pada Fero,
Laura sendiri nampak menyambut hangat perkenalan pak Adrian padanya, dia tersenyum dan bersalaman dengannya.
"Laura"
Ucapnya memperkenalkan diri.
Alfaro terkesima melihat kecantikan Laura yang menarik dandanannya yang tipis namun merona dan menggoda membuatnya tak kuasa menahan kekagumannya pada Laura, hingga dia pun ter patung melihat kecantikannya.
"Alfaro "
Seketika panggilan pak Adrian membangunkannya dari lamunan.
"Eh, maaf Alfaro, namaku Alfaro kamu bisa panggil aku Fero"
Fero menerima jabat tangan dari Laura dengan penuh senyum gembira, pak Adrian pun mengerti dengan salah tingkah anak asuhnya itu.
Sepertinya Fero menyukai Laura, pikir pak Adrian tersenyum.
"Laura disini akan menemanimu bertugas besok adalah hari pertamamu di kepolisian Surbaya"
Ucap pak Adrian memberi tugas pada Fero.
"Baiklah paman dengan senang hati saya tidak akan sampai mengecewakan paman"
Jawab Fero meyakinkan pamannya.
Laura pun hanya tersenyum simpul melihat tingkah Fero padanya.
Laura adalah salah seorang agen rahasia kepolisian wanita Surabaya yang menangani beberapa kasus kematian dan pengedaran narkoba.
Prestasinya cukup baik hampir setiap kasus yang di berikan padanya selalu berhasil dia ungkap, dengan keahlian bela diri dan lihai dalam memainkan senjata api Laura berhasil menangkap segerombolan mafia di Surabaya, itu yang membuat prestasinya naik hingga Laura bisa di katakan polisi wanita yang bisa di andalkan dan di perhitungkan.
Selain wajahnya yang cantik dan manis, tubuhnya yang lumayan tinggi langsing namun berisi membuat aura nya terpancar dia memang sedikit tomboi namun dia juga bisa menjadi feminim di waktu yang tepat.
"Baiklah pak kalau begitu saya pamit kembali bertugas,"
Laura mengucap salam dan berpamitan pada pak Adrian selaku atasan di agennya sekarang.
"Baiklah Laura terimakasih kamu sudah menyempatkan waktumu untuk datang kemari"
Jawab pak Adrian.
"Sama-sama pak"
Laura pun pergi dari apartemen pak Adrian dan melanjutkan tugasnya kembali.
Setelah Laura benar-benar pergi Fero pun mendekati pamannya,
"Paman apa benar nanti Laura yang akan menjadi rekanku?" Fero tersenyum kecil menggoda pamannya.
"Kamu ini, baru pertama kali melihat wanita cantik? Fokus saja dengan tugasmu"
Perintah pak Adrian dengan menggodanya.
"Ah paman"
Fero pun kembali ke kamarnya dengan membayangkan dirinya bersama Laura untuk selamanya.
"Oh ya tuhan mengapa aku terus membayangkannya"
Ucap Fero yang terus teringat akan kecantikan Laura dan senyum manisnya.
***
David yang saat itu hendak pamit pada Mr Nicolas, melihat pria mencurigakan di depan mejanya, gerak gerik pria itu membuatnya waspada dan berhati-hati, David juga mengingatkan Mischa dan Mr Nicolas untuk berhati-hati
Dan ternyata,
Pria itu kedapatan sedang bertransaksi obat haram dan pekerja seksual,
David terus mengamati gerak gerik pria itu hingga saat yang tepat, David mengeluarkan senjata api kecil yang selalu dia bawa guna menjaga diri.