
Rudolf batuk tersedak saat mendengar David ingin ke Indonesia, dia buru-buru mengambil air minum untuk menghentikan batuknya.
"Kau tidak apa-apa ayah?"
"Mmh maaf ayah hanya sedikit terkejut saja mendengar kamu ingin pergi ke Indonesia"
"Mengapa ayah sangat terkejut?"
Wanda memberi kode pada David untuk tidak banyak bertanya saat makan pada ayahnya itu.
David pun paham lantas dia meminta maaf pada ayahnya dan melanjutkan makannya kembali.
...
Hari sudah mulai malam seperti biasa Mr Rudolf di sibukkan dengan pekerjaan bisnisnya, David menemui sang ayah di ruang kerja.
Terlihat Rudolf sedang membuka beberapa berkas yang harus dia tanda tangani.
"Bagaimana dengan bisnis ayah?"
David datang dan memijat pundak ayahnya.
"David kamu kemari?"
Tanya Rudolf.
"Semua baik-baik saja hanya saja mungkin karena ayah sekarang sudah semakin tua tenaga dan pikiran ayah mulai mudah lelah "
Timpal Rudolf, meraih kedua tangan David yang sedang memijat pundaknya.
"Ayah ingin bicara sesuatu padamu nak?"
Mr Rudolf memulai pembicaraan yang serius dengan David.
"Ada apa ayah?"
"Apa kamu mau meneruskan bisnis ayah?"
David terdiam seakan sedang berpikir panjang, dia menghela napasnya dalam-dalam.
Sebenarnya dia ingin meneruskan bisnis ayahnya karena bagaimanapun dia tumbuh besar oleh kerja keras rudolf meski hanya seorang anak angkat. Rudolf sudah sangat banyak membantunya tumbuh sampai saat ini.
Tapi David juga mempunyai misi sendiri, dia ingin menuntaskan dulu kasus kematian keluarga nya di Jakarta yang sudah di tutup kepolisian.
Dengan terpaksa David pun tersenyum dan menganggukkan menganggukkan kepalanya pertanda dia menyetujui permintaan sang ayah untuk meneruskan bisnisnya.
"Terimakasih nak, ayah sangat percaya padamu"
Rudolf pun memeluk David dengan bahagia.
...
Alfaro yang saat itu sedang berdiri menatap langit malam di teras balkon kamar David Melihat ada yang aneh di satu ruangan terpencil. Dia melihat bayangan seorang pria yang sedang menyiksa pria lain di kursi tanpa ampun.
Dia terus memfokuskan penglihatannya.
"Apa aku tidak salah lihat?"
Pandangannya tetap menuju ruangan kecil itu,
Dia coba mencari David untuk memberitahu tentang apa yang dia lihat, namun Alfaro tidak menemukan David.
Akhirnya dia berjalan sendiri mendekati ruang yang dia curigai.
Alfaro pun tiba di depan pintu ruang tersebut, namun tak terdengar suara yang mencurigakan samasekali seperti apa yang dia lihat sebelumnya.
"Ini aneh sekali padahal aku mendengar dan melihat jelas jika ada seseorang di ruangan ini?"
Pikirnya.
Alfaro mulai membuka pintu ruang itu dan ternyata Pintu itupun tak terkunci, dengan mudah Alfaro masuk ke dalamnya.
Terlihat tak ada bekas apapun disana hanya kursi yang tertata di tiap sisi tembok, sepertinya itu ruangan penjaga Mr Rudolf.
"Mmh..."
Suara batuk kecil Denis memecah keheningan isi ruangan dan membuat Alfaro terkejut hingga menoleh ke arah belakang.
"Kau sedang apa disini?"
"Maafkan aku, tadi saat aku sedang berdiri di luar kamar David, aku melihat ada bayangan seorang pria yang sedang menyiksa pria lain disini itu sebabnya aku kemari, maaf aku sudah lancang masuk?"
Jawab Alfaro meminta maaf.
"Mungkin kamu salah lihat atau berhalusinasi atau mungkin itu khayalan kamu saja"
Denis coba menutupi kebenaran.
Alfaro menerima jika mungkin dia salah lihat atau berkhayal, namun hatinya masih meyakini dengan apa yang dia lihat itu benar.
Dia pun kembali dan tidak memperpanjang tentang masalah ini karena dia menyadari dia sedang bertamu di rumah sahabatnya, tidak baik jika dia bersikap lancang seperti ini.
"Maafkan aku mungkin kamu benar semua hanya khayalanku saja, kalau begitu saya kembali ke kamar David, selamat malam"
Alfaro pun kembali menuju kamar David, saat hendak masuk ke dalam rumah dia melihat Wanda yang sedang memasak di dapur sendirian dia berniat untuk membantunya,
"Selamat malam Wanda, apa ada yang bisa aku bantu?"
Alfaro coba menawarkan bantuannya pada Wanda dengan penuh ketulusan,
Wanda melihat tatapan mata Alfaro dengan dalam
Wanda merasa tidak asing dengan tatapan Alfaro padanya.
Wanda tidak mampu menjawab semua yang dikatakan Alfaro padanya karena dia begitu serius melihat tatapan matanya.
"Wanda, are you oke?"
Alfaro melambaikan tangannya ke depan wajah Wanda.
"Eh...maaf nak, Mada hanya teringat akan seseorang setelah melihat matamu"
Seketika pandangan Wanda tersadar saat Alfaro coba menyadarkannya
Alfaro tersenyum dengan tingkah Wanda yang terkejut saat dirinya melambaikan tangan di depan wajahnya,
Keduanya pun tertawa menyadari kekonyolan mereka.
Akhirnya Alfaro membantu Wanda memasak.
"Sudah biar aku saja Wanda, duduklah,"
Pinta Alfaro coba menggantikan perannya untuk menggoreng beberapa makanan untuk di hidangkan nanti malam.
...
Sementara di ruang kerja, David bertanya tentang anak buah ayahnya yang terlibat pengedaran narkoba tadi siang,
"Sebenarnya kenapa anak buah ayah sampai menjadi pengedar narkoba? Aku sangat kecewa sekali"
Tangan David mulai mengepal karena kebencian dengan ulah anak buah ayahnya.
Dengan Rudolf pun mencoba menjawab pertanyaan David dan menyembunyikan kebenaran tentang semua itu.
"Interogasi Denis mengatakan, dia bilang ada seseorang yang mengancam keselamatan keluarganya jika dia tidak mengedarkan obat haram itu, begitulah sebabnya dia menjadi pengedar untuk melindungi keluarganya,"
Alasan itu memang masuk di akal David tapi dia tidak menemukan keadaan yang mengancam pria itu saat tadi dia tertangkap.
Tapi David tidak memperpanjang masalah ini dia cukup tahu dan meminta pria itu tetap harus di jebloskan ke dalam penjara.
"Kamu tenang saja nak, pria itu sudah Denis serahkan pada polisi"
David mengangguk dan tersenyum,
Dia pun pamit dari ruang kerja ayahnya.
"Besok atau lusa kamu bisa mulai kerja di kantor ayah nak"
"Baik ayah, aku turun ke kamar dulu kasihan faro dia sendirian"
Mr Rudolf tersenyum melihat kepolosan anak angkatnya itu yang dengan mudah percaya pada semua yang dikatakannya.
Sebenarnya dia tidak ingin menyembunyikan jati dirinya sebagai mafia kepada David karena dia tidak ingin membuat hatinya kecewa jika dia sampai mengetahui yang sebenarnya.
...
"Sepertinya kalian akrab sekali ya?"
David memeluk Wanda yang sedang asik bercanda duduk melihat Alfaro memasak.
David sangat senang melihat Wanda tersenyum lebar bercanda dengan sahabatnya itu.
Rasanya baru kali ini dia melihat senyum lepas Wanda setel Kiah sekian purnama.
Terlihat sangat lepas senyum tawa Wanda saat bercanda bersama Alfaro, David pun seakan melihat seorang ibu yang sedang bercanda dengan anaknya.
"David kau duduklah nal Wanda sangat senang kamu mempunyai kawan seperti Alfaro, lihatlah dia berlaga ingin membantuku memasak padahal dia sendiri tidak bisa, akhirnya lihatlah wajahnya nak? Hihi"
Tawa Wanda tersenyum kembali melihat wajah Alfaro yang penuh dengan tepung.
David pun ikut tersenyum,
Suasana pun begitu hangat dengan penuh canda tawa oleh tingkah Alfaro yang sok berlaga bisa memasak padahal tidak bisa.
"Mada, aku sangat senang sekali bisa melihatmu kembali tersenyum lepas seperti ini"
Ucap David memeluknya yang sudah renta.
Wanda pun baru menyadari jika ini kali pertamanya dia bisa tersenyum lepas setelah beberapa tahun lamanya,
David masih ingat terakhir kali ibu angkatnya tertawa lepas mungkin pada saat dia masih kecil, setelah beranjak dewasa Wanda hanya bisa tersenyum seadanya.
Entah apa yang membuatnya seperti itu, David pun tidak mengetahuinya.
****