OHH, No!!!

OHH, No!!!
dr. Kari Arkara, Sp.OG



Kana memarkirkan mobilnya pada tempat khusus pengunjung dan pasien, disiang hari yang cerah ini dengan terik panasnya matahari Kana dan Vina memasuki gedung yang menjulang tinggi. Rasendra hospital, salah satu rumah sakit terbaik yang ada di kota ini.


"Panas banget ya, Na." Keluh Vina pada Kana yang ada dikursi kemudi.


"Iyaa, mau pakai payung Vin?" Tawar Kana dengan pandangan mata terpejam merasakan betapa panasnya jalanan siang ini.


Vina menggelengkan kepala, "Tidak, mari kita masuk kedalam Vin. Tapi tolong ambilkan saya kursi roda, saya mager jalan soalnya." Perintah Vina dengan memperlihatkan deretan gigi putihnya. Jarak perkiraan menuju lobi tidaklah jauh namun panasnya matahari cukup membuat bumil satu ini merasa malas untuk berjalan.


Dengan berat hati Kana berjalan menuju lobi rumah sakit, mengambil satu kursi roda yang ada didepan sana. Mendorong kursi roda tersebut menuju tempat parkir mobilnya. "Udah ayok Vin, kasihan dokternya udah lama nunggu kamu."


Dengan perlahan Kana mendorong kursi roda tersebut, memasuki rumah sakit lalu menuju poli kandungan. Karena sebelumnya Vina sudah menjelaskan jika Mufi telah menelfon rumah sakit tempatnya bekerja untuk jadwal istrinya yang mundur sehingga Vina dialihkan pada dokter Kari tidak pada dokter penanggung jawabnya dr. Zino Edi Embrata Sp.OG karena dokter Zino ada operasi caesar siang ini.


"Siang bu Vina, harap tunggu sebentar ya bu karena dokter Kari sedang makan siang. Ibu adalah pasien terakhir beliau dan akan saya beri tahukah pada dokter Kari jika ibu sudah datang." Dengan sopan seorang perawat keluar dari ruang dokter lalu melihat Vina dan Kana dilorong rumah sakit yang sedang menuju kearahnya. Lalu dengan buru-buru perawat tersebut masuk kembali pada ruangan sang dokter.


Kana berjalan mendudukkan diri pada kursi yang ada didepan poli dan tak lama perawat dengan nama Hasta itu keluar dari ruang pintu sang dokter.


"Harap tunggu sebentar bu Vina, nanti dokter Kari akan memanggil anda masuk kedalam ruangan untuk pemeriksaan kandungan setelah beliau selesai makan."


"Terimakasih Hasta,"


"Sama-sama Bu, kalau begitu saja pamit dulu."


Kini tinggallah Kana dan Vina pada tempat tunggu poli kandungan. Jujur jika Kana tak menyukai rumah sakit terlebih bau rumah sakit, karena rumah sakit adalah tempat yang paling kana benci.


"dr. Kari Arkara, Sp.OG," Gumam Kana membaca nama yang tergantung didepan pintu ruang pemeriksaan. "Ini dokter lama banget si gilak."


"Sabar Kana,"


"Sabar-sabar ini sudah lima belas menit, Vina. Itu dokter makan dengan bungkusnya apa gimana, kalau dengan bungkusnya saya maklumi soalnya susah nelannya. Tapi hal itu tidak mungkin terjadi, pasti ada yang nggak beres ini. Awas aja tu dokter nanti kalau keluar saya jambak rambutnya sampai botak. Ohh, apa mungkin dia sudah tua dan botak tidak ada rambut jelek dan tua sehingga makannya lama karena susah menelannya." Dengan amarah mengebu-ngebu Kana menyuarakan isi hatinya di hadapan Vina dengan membelakangi ruang dokter tersebut.


"Saya mohon maaf atas ketidak nyamanan anda dalam menunggu saya,"


Dari yang awalnya amarah kana mengebu-ngebu dengan perasaan marah, kini berbalik jantungnya berdetak begitu cepat tanpa aturan, bahkan Kana tidak mampu menetralkan nya.


Pandangan mata saling beradu satu sama lain antara Kana dan Kari, menambah tingkat keterkejutan Kana saat melihat dokter tersebut. Dia terlihat muda dan tampan, tidak bisa Kana pungkiri bahwa dia terpesona pada dokter Kari saat pandangan pertama. Hingga daheman Vina memutus kontak mata mereka, menyadarkan Kari dan Kana.


"Maaf, mari bu Vina." Kari mendorong kursi roda Vina kedalam ruangannya, meninggalkan Kana yang masih terkejut dengan apa yang baru saja dia lihat.


Dengan perasaan kesal Kana mengusap wajahnya dengan kasar, bisa-bisanya dia terpesona pada dokter itu padahal sebelumnya Kana mencaci dokter Kari. Bodoamat dengan apa yang barusan terjadi Kana langsung masuk kedalam ruangan menyusul Vina yang sudah ada didalam.


"Perasaan saya baik dok, hanya sedikit lelah saat perjalanan kesini."


"Baik, mari kita mulai pemeriksaan rutin ibu hari ini. Mohon maaf sebelumnya saya yang akan menangani ibu secara langsung karena asisten saya baru saja pergi menemui anaknya yang sedang dirawat dirumah sakit ini. Sebelumnya, bisa saya lihat buku KIA ibu?"


Jelas sang dokter dengan suara merdu menenangkan hati siapapun yang mendengarnya. Vina menyerahkan buku pemeriksaan kehamilannya pada Kari, yang langsung Kari baca dan pahami dalamnya.


"Hmm, saat ini kandungan ibu mencapai 5 bulan." Ujar dokter kari dengan pandangan mata fokus membaca buku kehamilan Vina.


From Pinterest...



"Jujur saya merasa sedikit cemas mengenai perkembangan janin saya dok, jika dulu yang saya kandung laki-laki tapi sekarang dia perempuan jadi saya sedikit khawatir dengan perkembangannya."


"Tidak perlu khawatir, biasanya usia kehamilan 5 bulan adalah momen yang menarik dimana anda merasakan beberapa hal dan perubahan. Akan saya periksa untuk lebih lanjutnya mengenai kandungan janin anda, timbang berat badan dan tinggi badan dulu ya!"


Vina berdiri dari kursi rodanya dibantu oleh Kana, menuju timbangan yang ada disamping meja dokter kari. Setelahnya Vina berjalan menuju tembok degan dokter Kari di depannya menarik alat ukur tinggi badan dari atas hingga mengenai kepala Vina dan setelahnya mereka semua duduk kembali dengan dokter Kari didepan Vina dan Kana.


"Berat badan ibu stabil dan tinggi badan ibu normal. Mari berbaring pada bed pasien untuk pemeriksaan selanjutnya,"


Vina berjalan menuju bed pasien, berbaring diatasnya dengan dibantu Vina. Setelahnya Kari datang untuk memeriksa tekanan darah Vina, dengan melilitkan tensimeter pada lengan atas Vina. Lalu tangan Kiri mengukur tensi dan tangan kanan memegang pergelangan tangan Vina tepat pada nadi untuk memastikan akurasi dan stabilitas pengukuran tekanan darah.


"Tekanan ibu 120/80 mmHg. ini masih termasuk kedalam rentang tekanan darah normal pada ibu hamil." Kari memasang stetoskop yang ada di lehernya, "Maaf ya, bu."


Kara kagum dengan dokter Kari yang memeriksa pasiennya. Dia memperhatikan kenyamanan Vina saat melangsungkan pemeriksaan.


"Detak jantung anda stabil dan normal," Dengan menjelaskan tangan Kari meraih kain yang ada diujung bawah bed. "Maaf ya bu, saya sigap bajunya untuk memeriksa tumbuh kembang baby."


"Iya, dok. Tidak apa-apa,"


"Sekali lagi maaf ya bu," Kari meletakkan selimut itu pada kaki Vina dan menyikap daster yang Vina kenakan hingga sebatas dada. Lalu setelahnya Kari memeriksa Vina dengan menempelkan stetoskopnya diberbagai sisi.


"Detak jantung janin ibu terdengar dengan baik dan frekuensinya normal. Semua terlihat baik. Maaf ya bu izin raba perutnya untuk mengetahui posisi baby."


"Alhamdulillah. Saya senang dan lega mendengarnya. Silahkan dok, selama itu masih dalam tahap pemeriksaan baby saya tidak masalah."


Dokter kari berjalan kesamping untuk memakai saring tangan lateks, lalu menghampiri Vina kembali. Namun sebelumnya ia sempat menutup perut Vina dengan menarik daster tersebut kebawah saat dia akan menggunakan sarung tangan lateks nya.