
Pagi yang cerah ini dengan mentari menyinari seluruh penjuru negeri. Seseorang pasutri tidur dengan selimut tebal mengulang diri mereka dengan posisi mesra, dimana Kari memeluk tubuh Kana dan menenggelamkan wajah Kana dalam dada bidangnya.
"Engghh...,"
"Selamat pagi... " Ujar kari semberi memegang dahi Kana, "Akhirnya turun juga panasnya. Tapi, suhu badan kamu masih teras hangat."
Kana tak menjawab, dia mengusap wajah dengan gerakan tangan memutar dan berakhir mengelus perutnya yang nampak sedikit menonjol sebelum menekuk kedua kaki kedalam dengan posisi menghadap kesamping kanan.
"Hai kamu kenapa?" Dengan sigap Kari menelentangkan posisi tidur Kana dan memegang kedua lutut kaki Kana agar tidak Ia tekuk kembali yang berakibat menekan perutnya yang sedikit menonjol.
"Perutnya nggak enak,"
"Kram?"
"Iyah."
Kari memanggukaan kepala setelah mendengar jawaban dari Kana dengan diikuti tangan merangkak masuk kedalam baju Kana lalu mengusap sang buah hati yang sedang tumbuh didalamnya.
"Ohh iya saya lupa kamu terakhir haid tanggal berapa?"
"Hmm lupa. Sebentar saya cek dulu,"
Dengan perlahan Kana meraba nakas yang ada di samping tempat tidur, walaupun terasa sedikit susah. Semula tangannya meraih stetoskop yang ada disana karena menghalangi tangan Kana dan setelah itu ia baru bisa mengambil handphone yang tertindih stetoskop tadi.
Iphone boba tiga langsung terbuka setelah Kana memasukan sandi pada layar kunci, "5 Januari hari pertama haid terakhir." lanjut Kana dengan melihat sirkus menstruasi yang ada diaplikasi MeetYou
Kari memanggukaan kepala dengan mata terpejam fokus mendengarkan detak jantung janin yang ada didalam perut Kana dengan stetoskop yang Kari ambil setelah Kana meletakan stetoskop itu di samping tempat tidurnya. "Ini satu minggu lagi masuk tiga bulan, jadi sekarang bukan dua bulan hitungannya."
"Kok cepat banget?"
"7+5 berapa?"
"12."
"Jadi nanti perkiraan lahir 12 November. Sekarang maret tanggal 24 jadi jalan ke tiga bulan. Detak jantung baby juga sudah terdengar jelas. Kamu kenapa nangis?"
Bibir kelu untuk menjawab pertanyaan yang Kari lontarkan dengan hati bergemuruh dan pikiran kosong. Satu keinginannya Kana hanya ingin menangis walaupun tak tau penyebab dari mengalirnya air mata.
Kari menutup baju Kana kembali dan menidurkan diri di samping Kana dengan tangan terulur menghapus jejak air mata yang Kana keluarkan.
"Ada apa?"
"N-nggak,"
"Kenapa?"
"Ini adalah tangga terakhir hidup saya, saya takut kamu bukanlah seseorang yang tepat untuk saya. Jujur saya menginginkan seorang suami yang bisa mengerti perasaan anaknya nanti, yang pulang setiap hari untuk bermain bersama sang buah hati. Bukan mereka yang pulang berminggu-minggu dan berbulan-bulan sekali."
"Kana... Kamu tau saya menginginkan seseorang anak dari dulu semenjak bertahun-tahun yang lalu, sejak pertama kali saya menjadi coas dan melihat sekaligus membantu seorang ibu melahirkan dengan penuh perjuangan. Saya berjanji akan ada di setiap pertumbuhan anak kita. Saya juga menginginkan anak saya deket dengan saya, bukan hanya dengan ibunya saja. Saya juga ingin menjadi tempat pulang bagi mereka, tempat mereka bertukar cerita dan bukan menjadi sosok asing yang tak mereka kenali bahkan sampai mereka takuti. Saya tidak menginginkan hal itu terjadi karena saya juga dulu merasakan hal yang sama, menatap ayah dengan tatapan asing seperti orang yang tidak saya kenal."
"Lalu bagaimana dengan saya, saya tidak bisa menjadi seorang ibu, saya tidak paham apa yang harus saya lakukan untuk anak kita nantinya dan saya juga tidak bisa menggendong seorang bayi,"
Kari tersenyum sekaligus lega kala Kana menyebut anak kita, bukan anak kamu, ataupun anak saya. Akhirnya Kana telah mengakui keberadaan bayi itu yang telah menyatukan mereka. "Saya siap menjadi kepala keluarga dan saya juga sudah siap menjadi seorang ayah, jadi sudah menjadi kewajiban sekaligus tanggung jawab saya membantu kamu mengurus dia. Kita besarkan mereka bersama Kana bukan seorang diri. Tolong ekspresi wajah kamu dirubah jagan sering memperlihatkan ekspresi marah karena bagaimanapun seorang bayi akan mengetahui jika kamu sedang marah hanya dari melihat ekspresi wajah kamu Kana. Bayi tidak bisa bicara tapi dia bisa melihat, sehingga tolong jangan merah didepan anak secara langsung, jika ada masalah kita diskusikan berdua dengan saya tanpa melibatkan seorang anak, yaa."
Kana diam sejenak menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan secara perlahan dengan diikut telapak tangan memegang perut Kana, "Jika nanti anak kita marah apa kamu akan membentak dia, akan mengabaikan dia, ataupun meninggalkan dia dengan emosi marahnya?"
Kari tersenyum tulus pada Kana dengan pandangan mata penuh keberanian dan ketegasan dan juga tangan yang ia letakan pada perut Kana ia gerakan perlahan mengelus dengan penuh kasih sayang. "Saya tidak akan membentak, mengabaikan, dan meninggalkan dia saat sedang marah. Karena emosi marah seorang anak harus segera ditangani dengan diberi perhatian lebih, karena mereka para anak kecil yang tantrum itu hanya ingin menunjukan jika saya bisa marah loh ayah-bunda. Anak itu penuh keunikan dan kita sebagai orang tua harus memahami sikap mereka, sebisa mungkin saya akan berempati pada emosi yang anak kita nanti rasakan, dengan mengajarkan pada dia respon-respon yang lebih efektif dalam menangani sikap marahnya. Saya akan memberi pengertian pada mereka kenapa emosi itu ada dalam diri manusia, mengapa emosi itu bisa muncul saat baby merasa kesal dengan suatu hal dan bagaimana cara mengatasi emosi nyang baby rasakan. Saya menginginkan anak kita sehat secara fisik dan mental, saya juga ingin anak kita dikenal oleh lingkungan karena perilaku baiknya pada lingkungan."
"Terimakasih," Kana tersenyum lebar kala mendengar jawaban yang telah kari jelaskan.
"Untuk?"
"Segalanya termasuk atas perhatian kamu semalam pada saya yang demam,"
"Sama-sama, terimakasih juga kamu mau menerima saya dan menjadi istri saya. Maaf jika kamu merasa tidak bahagia, tapi perlu kamu ketahui jika saya selalu berusaha membuat kamu bahagia."
"Saya bahagia, i love you."
Kari memekikkan kedua bola matanya mendengar apa yang baru saja Kana katakan, "Really?"
"Sungguh saya bahagia dan saya telah mencintai anda Kari Arkara, terimakasih telah membagi warna baru dalam hidup saya."
Kari melingkarkan tangan pada tubuh Kana, sungguh dia bahagia sekali pagi ini. Sebuah rasa bahagia yang akan terkenang sepanjang masa, pertama kalinya Kana mengatakan jika dia mencintai Kari. Bahkan hati kari telah menjadi taman bunga dan kupu-kupu berterbangan didalam perutnya.
"Hari ini kita kerumah sakit untuk cek kandungan, sekaligus memeriksakan kondisi kamu saat ini. Sedikit apapun demam yang kamu derita, tetap harus segera ditangani oleh tenaga medis karena hal itu menyangkut kesehatan kalian berdua. Kamu mau kan?" Pinta Kari dengan menjelaskan alasan terkuat yang dia pikirkan dan tidaklah sia-sia ajakan Kari itu, karena Kana menyetujui untuk ikut bersama dirinya ke RS.