
Drama antar kedua pasangan yang bertolak belaka ini tidak akan ada habisnya jika salah satu diantara mereka tidak ingin mengalah. Halnya Kari yang ingin pergi untuk melakukan check up pasien, sedangkan Kana terus mencegah Kari untuk menjenguk anak Nata terlebih dahulu.
"Check up kan hanya periksa, jadi nanti aja di tunda dulu check up pasiennya, sekarang jenguk anak Nata dulu."
Kari memijat pangkal hidungnya, "Sayang, dengerin saya. Check up pasien itu harus sesuai waktunya, saya tidak ingin menunda-nunda waktu. Karena hal ini sudah menjadi tanggung jawab saya, paham?"
Kana menggelengkan kepala dengan tangan menutup lubang telinganya, "Pokoknya sekarang,"
Udara yang bebas Kari hirup dalam-dalam sebelum mengeluarkannya dengan perlahan. "Sayang coba kamu bayangkan, saat kamu ada keluhan terus kamu menanti dokternya yang tidak kunjung datang, bagaimana rasanya, kesal bukan? Halnya dengan kamu dulu saat mengantar Vina check kandangan pada saya tapi saya tinggal makan dulu dll. Kamu marah bukan?" Jelas Kari dengan mengelus kepala Kana dan dapat Kari rasakan anggukan kepala dari Kana. "Jadi sekarang izinkan saya untuk pergi sebentar nggak sampai satu jam untuk melakukan pemeriksaan, boleh?"
"Boleh,"
"Good, terimakasih. Saya pergi dulu, kanu ganti baju." Kari mencium puncak kepala Kana, sebelum melenggang pergi dengan buru-buru.
Di lain sisi, Kana kini merasa seorang diri dengan rasa lelah yang tiba-tiba melanda dan rasa bersalah menyelimuti dirinya. "Salah adek nih ya bukan bunda, karena adek ayah jadi terburu-buru, karena adek juga orang jadi menunggu. Besok lagi nggak boleh gitu ya adek, nggak baik tau." Inilah Kana dengan segala tingkahnya, dia yang tak ingin Kari pergi darinya, namun Kana mengalahkan sang buah hati sebagai penyebabnya.
Tangan kanan Kana yang bebas kini dengan lihai menyisir rambut panjangnya dan sedikit polosan make-up menyatu dengan wajah Kana. "Kamu memang cantik Kana, makannya dokter kandungan itu tergila-gila dengan kamu." Ucap Kana dengan mengedipkan satu matanya.
Setelah selesai Kana berjalan menuju almari, mencari baju yang cocok dengannya. Infus yang terpasang pada tangan Kana telah di lepas atas permintaan Kana yang merengek pada Kari.
Setelah Kana selesai dengan penampilannya kian kana mendudukkan diri di atas sofa dengan perasaan bahagia. "Sekarang kita tunggu ayah kamu, dulu." monolog Kana dengan melihat jam dinding, namun hingga satu jam lebih Kari tak kunjung datang. Dengan kesal Kana membawa semua barang pada kedua tangannya menuju ruang inap sebelah.
Baru saja Kana memutar kenop pintu, seorang laki-laki tampan sudah berdiri di depan dirinya yang juga akan membuka pintu. "Maaf lama, ada sedikit problem tadi."
"Hmm," Jawab Kana datar, dengan berjalan melewati Kari begitu saja. Sedangkan Kari yang sadar akan kesalahannya ia langsung mengambil semua barang yang ada di tangan Kana dengan tangan kanannya, dan tangan kiri Kari letakan pada pundak Kana.
"Kita harus terlihat mesra di depan mereka," Ujar Kari dengan mencium pipi kanan Kana.
"Selamat malam." Ucap mereka secara serentak yang bersautan dengan jawaban dari dalam ruangan.
Kana berjalan lebih dulu menuju brankar pasien dengan menjabat tangan sang ibu dari bayi tersebut, karena yang ada dalam ruang ini hanya dia dan Nata yang duduk di atas sofa. "Congratulations, ya."
"Terimakasih, kak."
"Ganteng banget masyaallah adek. Imut, lucu mengemaskan, seperti bayi."
"Bukan seperti bayi, tapi dia memang masih bayi kak." Jawabnya dengan cengengesan.
Kari berjalan mendekat pada Kana dan menyerahkan paper bag yang dia bawa. "Ohh iya ini buat kamu dan ini buat adek,"
"Kak nggak perlu, repot-repot."
"Nggak apa-apa, semoga cocok buat kamu dan dedek bayi." Dengan antusias yang luar biasa, Kana tersenyum sadari tadi.
"Emm... Apa kakak ingin mengendong dia?" Tanya Emi ragu pada Kana yang terus menatap anak yang ada di tangannya sejak tadi.
Kana yang di tatap seperti itu, hanya bisa mengalihkan pandangan mata menatap Kari yang ada di sebelahnya. "Biar saya aja yang gendong dia," Jawab Kari dengan mengambil alih anak Nata dari tangan sang ibu.
"Sayang pelan-pelan gendongnya." Sungguh Kana sangat khawatir dengan cara Kari mengambil alih sang bayi, terlebih dia baru saja lahir kemarin.
"Kira-kira dia mau di kasi nama siapa?"
"Untuk itu belum kami pikirkan kak,"
"It's okay nama itu mudah cari,"
Kana memandang ekspresi Emi saat membuka hadiah pemberiannya. Hingga tiba pada sebuah kotak yang di buka oleh Emi dengan memekikkan kedua bola matanya yang di iringi senyum lebar. "Kak, ini beneran buat saya?"
"Iya, itu buat kamu. Seorang ibu yang sudah berjuang demi lahirnya dia ke dunia. Terimakasih ya, sudah melahirkan seorang generasi penerus bangsa," Jelas Kana dengan senyum tulus. Sedangkan Emi meneteskan air mata haru atas kalung berlian yang Kana berikan pada dirinya.
"Terimakasih banyak kak, saya nggak tau lagi harus berucap atau berekspresi bagaimana. Saya sangat bahagia, makasih banyak kak." Dengan antusias Emi menempelkan kalung tersebut pada leher putihnya, hingga tanpa sadar legan baju yang Emi kenakan tersingkap ke bawah saat Emi mengangkat kedua tangannya.
"Sayang bawa dedeknya ke sofa bersama Nata dulu ya, saya mau bicara empat mata dengan Emi." Bisik Kana tepat pada telinga Kari yang duduk di sebelahnya,
"Baik, sayang." Kari berjalan menjauh menuju sofa, memberi sekat pada Kana dan Emi untuk bicara.
Kana menatap Emi iba dengan kondisi fisik luar terlihat bahagia, namun dalamnya penuh dengan luka. "Emi sharing masa kehamilan kamu dong, apa aja si yang di rasakan dan apa kesulitan yang di hadapi saat hamil?"
Emi memandang Kana dengan ekspresi netral namun memancarkan kesedihan dari kedua bola matanya, "Masa kehamilan itu rasanya luar biasa kak, tapi intinya harus di jalani secara bersama dari kedua belah pihak agar bahagia jiwa dan raga kita."
Emi menatap Kana dengan menahan air mata, "Saya menjalaninya seorang diri kak,"
"Lalu?" Kena mengerutkan dahi.
"Saya tidak bahagia."
"Dan kamu stres, lalu bercode?"
"kurang lebihnya seperti itu kak, saya tidak bisa menahan diri untuk tidak barcode."
Kana memangukan kepala, "Saya paham perasaan kamu,"
"Saya dari kecil nggak pernah bahagia kak. Selalu menerima tekanan batin dan tekanan mental. Lalu saat beranjak remaja di usia belasan, saya di paksa dewasa oleh keadaan yang kejam. Di usir oleh keluarga, penghinaan, dan tidak di anggap keberadaannya oleh lingkungan sekitar. Itu menyakitkan,"
Kana mendudukkan diri di atas brankar pasien, merengkuh tubuh Emi sangat dalam, begitu dalam masuk kedalam hangatnya pelukan tulus penuh kasih sayang. "Emi terimakasih. Terimakasih sudah berjuang dan bertahan hingga detik ini, kamu hebat sekali."
"Kak, terimakasih. Selama ini saya selalu memendam rasa sakit yang saya rasakan seorang diri dan saya hanya ingin sebuah rumah, saya hanya ingin seorang teman bercerita yang menyediakan rumah penuh ketenangan bagi saya, intinya itu kak..."
"Emi saya menyarankan kamu untuk konsultasi dengan psikiater, bukan bermaksud bagaimana. Hanya saja ini penting dan di rumah sakit ini ada seorang psikiater namanya Mufi kamu bisa membuat janji dengan beliau demi kebaikan anak kamu. Karena walupun dia masih kecil tapi jika tatapan kamu tajam terhadap dia tanpa adanya rasa tulus, seperti tadi saat kamu menatapnya, maka nanti akan berdampak bagi pertumbuhannya. Terlebih kebutuhan dasar anak setelah lahir hingga berumur satu tahun itu adalah kebutuhan yang bersifat biologis dan psikologis. Kebutuhan biologis itu seperti pakaian, makanan, dan minuman bagi anak dan kebutuhan psikologis itu seperti kebutuhan rasa aman bagi anak, diperhatikan, di cintai oleh kedua orang tuanya, dan kebutuhan untuk di lindungi dari segala ancaman luar. Mungkin kamu bisa memenuhi kebutuhan biologis, namun tidak dengan kebutuhan psikologisnya. Nanti anak kamu akan tumbuh seiring bertambahnya hari dan bulan, lalu dalam keadaan diri kamu yang sedang terluka batin seperti ini akan sulit bagi kamu menghadapi dan menangani pertumbuhannya, terlebih saat anak sedang tantrum atau emosi dan marah."
"Kak..."
Kana tersenyum manis pada Emi, "Kamu tau, sekarang anak bisa memahami apa yang terjadi dengan sang ibu meski dia belum lahir dan masih ada di dalam kandungan. Anak bayi itu membaca kedua orang tuanya dari pandangan mata, dia bisa merasakan perhatian, kasih sayang, cinta, kemarahan, kebencian, dan kesedihan orang tuanya, hanya dari melihat kontak mata kamu. Hubungan kamu dengan anak harus terjalin dengan baik dan erat di usianya yang masih balita, kalau anak kamu takut dengan kamu sedangkan di masa balita peran kamu harusnya lebih kuat dibandingkan ayah dan kamu jauh lebih dibutuhkan dibanding ayahnya, maka saat dia lebih takut dengan kamu di bandingkan ayahnya yang akan terjadi anak kamu akan merasakan kehilangan sesuatu dalam perkembangan kejiwaannya. Seperti dia cenderung kurang berani, takut, dan sulit bersosialisasi." Jelas Kana dengan tangan mengelus rambut Emi.
"Peran ayah itu sangat dibutuhkan sekali jadi tolong kontribusinya ayah mohon di bantu istrinya." Lontar Kana dengan sedikit berteriak untuk menyadarkan dua pria yang sedang bercanda ria dengan tertawa.
"Kenapa sayang?" Kari berjalan mendekat masih dengan sang bayi yang ada di tangannya.
"Kamu kenapa nangis?" Tanya Nata dengan mengusap air mata Emi. "Kana kamu apakan calon istri saya?"
"Heh bocah, harusnya saya yang tanya kamu apakan dia sampai penuh luka gini tangannya?"
Nata mematung seketika saat Kana memperlihatkan goresan luka yang ada di tangan Emi. "Kamu kenapa, kenapa nggak bilang sama saya, kenapa kamu nggak cerita? Maaf Emi." Nata memeluk Emi dalam dada bidangnya, dengan tangan mengelus surai demi surai rambut coklat Emi.
"Sepertinya kita harus pergi," Ujar Kari dengan meletakan anak Nata yang sudah tertidur dalam box bayi yang ada di samping brankar Emi. "Ayo sayang kita masih ada urusan lain."
"Iya, kita pamit dulu ya Emi dan untuk kamu Nata kamu harus menjadwalkan Emi untuk konsultasi dengan psikolog dan psikiater. Saya pamit undur diri,"
Kari memukul legen Nata pelan, "Suami itu harus mengerti dan memahami istri bukan sibuk sendiri." Ucap Kari tepat di samping telinga Nata.
"Terimakasih Kana dan dokter Kari sudah menyempatkan diri untuk berkunjung kemari,"
"Iya," kini Kana dan Kari sudah keluar dari dalam ruang inap Emi dan sekarang mereka berjalan menuju ruang inap Kana dengan tangan Kari merangkul pundak Kana dengan sesekali membenarkan rambut Kana yang berantakan.
"Dok... " Kana mendongakkan kepala untuk menatap wajah Kari.
"Hmm."
"Perut saya rasanya nggak nyaman, bisa minta tolong untuk di usap pakai minyak kayu putih."
Kari menurunkan pandangan matanya untuk menatap bola mata hitam nan bening Kana. "Mohon maaf ibu tugas saya tidak seperti itu, saya ini dokter yang hanya melayani permasalahan dalam kandungan. Jadi kalau ibu ingin di usap perutnya itu bisa minta tolong pada ayah dari anak yang ibu kandung bukan pada saya."
"Jadi gitu, yaudah musuhan kita. Jagan dekat-dekat." Dengan kesal Kana berjalan mendahului Kari.
"Kan saya benar, orang kamu tadi manggilnya dok."
" Au ah, bodo amat."
"Bicaranya nggak boleh gitu, harus yang baik-baik. Sayang." Kari
mengalungkan lengan tangan Kari pada leher Kana, dengan tangan kanan mengacak rambut Kana. Memang Kari ini tadi di benerin sekarang di acak-acak.
Fyi, gambar dari pinterest. Inilah Penampilan Kana saat menjenguk Emi dan Nata.
Ada aja tingkah bumil satu itu, memang bener jika menghadapi seorang bumil itu harus dengan kelembutan walaupun dia yang salah kita harus menjelaskannya dengan perlahan agar tidak menyakiti batin dari sang ibu yang berdampak juga pada anak di dalam kandungan yang akan merasakannya juga.