
Setelah kepergian Kari dan tinggallah Kana seorang diri, yang di selimuti rasa sepi, dan kegelisahan merasuki diri. Kana duduk di depan jendela yang menghadap langsung dengan riuh panasnya ibu kota.
"Dek... Ayah itu sibuk bantu nyawa baru lahir ke dunia. Adek harus bisa ngertiin ayah ya, maafin ayah kalau nggak bisa bersama adek secara full dan begitu juga dengan bunda, maafin bunda juga ya dek kalau nanti nggak bisa bersama adek selama 24 jam penuh. Maafin kita ya dek, maaf atas kesalahan kita yang membawa adek kedunia ada di antara labilnya bunda dan sikap keras kepalanya ayah. Mungkin bunda belum siap atas kehadiran adek secara tiba-tiba di dalam perut bunda, tapi kalau adek nggak ada di dalam perut bunda maka ayah dan bunda tidak akan bersama, bunda nggak marah sama adek dan adek harus percaya jika ayah dan bunda akan berusaha memberikan yang terbaik untuk adek. Bunda sayang adek... " Monolog Kana dengan gerakan tangan memutar, mengusap perut buncitnya.
"Enghh... " Rintih Kana saat merasa perutnya terasa tak nyaman dan begah secara tiba-tiba. "Sshhh..."
"Hai, ada apa. Apa ada yang terasa sakit?"
"Kenapa kamu ada disini?"
"Jagan mengalihkan pembicaraan Kana," Seru Kari dengan mata menyipit, sungguh Kari tak ingin mengulangi kebodohannya itu untuk ke dua kalinya setelah Kana mengalami pendarahan.
"Maaf,"
"Hmm, kamu kenapa, apa ada yang sakit?" Kari mengerutkan dahi memandang Kana yang duduk d iatas kursi, "Handphone saya tadi tertinggal, makannya saya kembali kesini." Lama tak ada jawaban dari Kana, sedangkan Kari sangat khawatir dengan keadaannya. Dengan perasaan gundah Kari mendudukkan diri bersimpah menghadap kursi yang Kana duduki. "Adek kenapa hmm?"
sebenarnya Kari sudah masuk ke dalam kamar ini sejak tadi, sejak Kana berbicara dengan sang buah hati, hingga kedatangan Kari tidak Kana sadari.
"Sepertinya adek sadar ya kalau ada ayah di dalam ruangan. Pintarnya anak ayah, maafin ayah ya, tadi ayah lupa dengerin detak jantung adek. Sekarang coba ayah mau dengar suara merdu detak jantung adek." Kari memasang stetoskop pada kedua telinga, lalu mengarahkan stetoskop tersebut pada permukaan perut Kana.
Tidak ada momen yang lebih singkat dan indah dari menantikan, menyaksikan, dan memantau pertumbuhan seorang anak yang akan lahir kedua sebagai pelengkap rumah tangga kedua orangtuanya. Pertumbuhan seorang bayi yang ada di dalam kandungan Kana adalah hal yang sangat Kari syukuri, dengan perlahan Kari memejamkan mata menikmati bunyi yang timbul dari dalam perut Kana. Detak demi detak bunyi yang amat Kari sukai.
"Dek... Ayah juga sayang sama adek. Maafin ayah ya dek, kalau ayah sibuk terus, tapi adek harus tau kalau ayah nggak pernah lupa sama adek. Adek itu semangat ayah dalam menyelesaikan pekerjaan dan tugas ayah, adek itu tempat pulang ayah, ayah sayang sama adek." Kari mendongakkan kepala keatas melihat ekspresi Kana yang biasa saya.
"Kamu marah sama saya, karena saya nggak ada waktu penuh buat kamu?" Tanya Kari berdiri dari duduknya, memandang Kana begitu dalam dengan rasa bersalah merengkuh diri.
Tangan lembut nan halus Kari terulur mengusap pipi kiri, Kana. "Kenapa, hmm?"
Suara lembut dan halus, penuh kasih sayang dan kelembutan itu cukup membuat jantung Kana berpacu begitu cepat. Hinga tanpa sadar tangan Kana terulur menyentuh dada kirinya secara singkat dan sekilas, namun gerakan tangan Kana tadi terpantau dengan jelas oleh Kari.
"Apa saya perlu memanggil dokter Aris kemari?" Goda Kari setelah mendengar detak jantung Kana dengan seksama yang berpacu begitu cepatnya.
"Apaan sih, orang saya nggak apa-apa."
"Iyakah, tapi saya rasa ada yang salah dengan jantung kamu."
"Masalahnya itu ada di kamu,"
"Jadi saya nih, penyebab jantung kamu berdetak dengan cepat?" Tawa Kari hingga memperlihatkan deretan gigi rapi nan putih miliknya.
"Minggir sana, keluar. Pergi... Pergi... "
"Apaan si," Usir Kana beranjak dari tempat duduk untuk mendorong Kari keluar.
"Sebentar sayang, saya mau cium dedek dulu." Ucap Kari memegang kedua tangan Kana yang mendorong punggung belakangnya. Lalu setelah Kana berhenti dan menatap kontak matanya, Kari langsung melepas masker yang menutup hidung dan mulutnya saat ini. "Adek, ayah kerja dulu ya. Jagan rewel dan nakal, nanti ayah belikan es krim strawberry sama coklat. Oke." Kari memajukan bibir mencium kulit permukaan perut Kana begitu lama dan dalam, sebelum ia lepaskan. "Saya kerja dulu ya, maaf."
"Hmm, semangat kerjanya."
"Iya, makasih sayang. Saya pasti semangat hari ini kerjanya, cium dulu dong sini." Pinta Kari dengan menunjuk pipi Kanannya.
"Nggak mau."
"Yaudah saya nggak akan pergi,"
"Mana bisa gitu?"
"Bisalah kan terserah saya," Jawab Kari santai, bahkan saat ini Kari sudah merebahkan setengah dirinya kembali ke atas kasur dengan kaki dia biarkan tetap dibawah.
"Kasihan pasien kamu,"
"Kamu kasihan sama pasien, tapi nggak kasihan sama dokternya yang sangat-sangat kelelahan ini? ."
Bunyi suara dering menghentikan perdebatan diantara mereka dengan Kana menatap Kari begitu tajam.
"Hmm, kenapa?"
"Jadi itu kerena benturan kecelakaan?"
"Hmm,oke."
Pandangan mata yang sama-sama memancarkan aura kesedihan saling beradu diantara Kari dan Kana. "Seorang ibu hamil mengalami tabrak lari dan harus segera di operasi untuk menyelematkan nyawa keduanya," Jelas Kari.
"Yaudah kamu cepat kesana, kasihan dia."
"Cium dulu sini,"
Kana berdetak kesel dengan memutar kedua bola matanya, sebelum satu kecupan mendarat pada pipi Kari.
"Terimakasih, sayang." Ujar Kari melangkah keluar dengan meninggalkan Kana yang mematung di tempat, setelah Kari juga mendaratkan satu kecupan pada dahi Kana.