
Dalam hubungan mengalah itu bukan suatu hal yang susah, namun banyak dari mereka yang tidak ingin mengalah. Mengalah untuk sang kekasih bukan suatu hal yang rumit, tapi sebaliknya memudahkan masalah yang ada dengan memberi perhatian padanya. Dengan mengalah kita jadi paham ego yang terpendam dalam diri dia dan dengan mengalah kita jadi paham dan mengerti jika dalam hubungan membutuhkan sebuah perhatian dengan melalui saling menghargai keputusan satu sama lain. Perlu diketahui ada sebab dibalik sebuah alasan.
penyakit fisik itu singgah hanya sementara untuk kita bisa menyadari lalu menata diri untuk memperbaiki kesalahan pada diri dan jika sudah sadar dengan kesalahan yang sering kita lakukan pada diri sendiri dia akan pergi. Tapi, penyakit mental itu singgah karena penyakit fisik yang sering kita abaikan.
Sehat fisik dan sehat jiwa adalah dua hal yang berbeda namun saling berkaitan satu sama lain dalam diri manusia. Jika sakit fisik itu nampak wujudnya nampak lukanya namun sakit jiwa hanya bisa kita rasakan dalam diri yang terdalam dengan penuh perhatian dan pengertian pada diri sendiri. Love your self.
Dengan keadaan lelah Kari berjalan mengambil segala peralatan yang sekiranya dia butuhkan untuk memeriksa Kana.
"Saya periksa dulu yaa!" Ucap Kari dengan menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh Kana sepenuhnya. Namun dengan sigap Kana tarik kembali selimut itu.
"Termometer ini letakan di celah ketiak kamu," Kana mengambil termometer tersebut lalu meletakkannya pada belahan ketiak kirinya.
"Lepas dulu ya selimutnya, saya nggak bisa periksa kalau seperti ini."
Gelengan kepala Kana cukup membuat Kari paham hingga dia harus meletakkan stetoskop itu diatas nakas.
"39.5°C, apa yang kamu rasakan saat ini?" Tanya Kari setelah mihat angka yang tertera pada termometer.
"Kepalanya sakit," Bibir kering, mata sendu, dan nafas tersumbat. Kana berucap dengan lirih nan serak.
Kari menempelkan plester demam pada dahi Kana dengan harapan besar demam yang Kana derita segera mereda. "Saya takut kamu tipes dengan kondisi kamu saat ini yang berbadan dua karena hal itu akan sangat berbahaya."
Kian kari berjalan mengitari tempat tidur dan kembali merebahkan diri di samping kanan tubuh Kana dengan tangan terulur memijat kepala Kana dengan perlahan, "Kepala cepat sembuh ya jagan lama-lama sakitnya. Kasihan istri saya," Dengan lembut Kari berucap dan diikuti kecupan singkat mendarat pada puncak kepala Kana.
"Sayang... Jujur saya tidak suka dengan keegoisan diri kamu saat ini." Dengan tangan mengelus rambut Kana, Kari mengungkapkan kegundahan hatinya.
Wajah Kana yang sudah memerah karena demam, kian bertambah memerah karena perkataan yang Kari ucapkan. "Saya nggak egois, saya hanya lelah dan ingin istirahat. Tadi dihotel banyak kegiatan yang memakan begitu banyak waktu, tenaga, dan pikiran. Ini hanya gejala demam biasa,"
"Dokternya siapa sih ini, kamu apa saya?" Dengan gemas Kari mengecup pipi Kana. "Pagi tadi saya sudah mengatakan bukan untuk jagan berangkat kerja dan telinga ini mendengarkan tapi ego dari dalam diri kamu memaksa untuk berangkat, padahal uang yang sudah saya kumpulan sudah lebih dari cukup untuk kita hidup menua."
"Kana ndak bermaksud gitu. Kana sudah membuat janji dengan client jadi Kana harus bisa menempatinya dok,"
"Saya paham tapi kalau keadaan diri kamu tidak memungkinkan bisa kamu batalkan bukan, Kana Feo Indahlia?" Jawab Kari dengan sedikit penekanan di setiap kalimatnya.
Kari tak menyangka atas respon yang Kana tunjukan padanya dengan menangis secara tiba-tiba, cukup membuat kari kaget dengan diri Kana.
Perempuan itu penuh dengan keunikan dan harus diperlakukan dengan penuh kelembutan. Jadi saya tidak boleh berucap dengan menekankan kalimat pada Kana. Batin kari setelah melihat respon diri Kana.
"Hai, kenapa menangis hmm?"
"Tidak, saya hanya sedikit kecewa dengan kamu yang tidak memprioritaskan kesehatan diri sendiri."
"Tapi kamu juga dokter jadi nggak perlu kerumah sakit juga,"
"Hufh... Kana sayang kalau di rumah sakit itu perawatannya lebih intensif dan lengkap. Saya dokter tapi saya tidak bisa menanggani kamu."
"Kenapa tidak bisa?"
"Karena saya suami kamu, bahkan saya mengalihkan kamu pada Zino karena saya rasa akan beresiko jika saya yang bertanggung jawab dengan kandungan kamu." Kari menjelaskan dengan seksama den sesekali menyeka air mata Kana yang keluar.
"Sudah makan dan minum susu malam ini?" Tanya Kari yang dijawab gelengan kepala oleh Kana. "Makan dulu ya?"
"Nggak mau makan minum susu aja,"
"Hufh... Baiklah, sebentar saya buatkan."
Kari berjalan menuju dapur meninggalkan Kana seorang diri, dengan ekspresi lelah dan sedikit marah Kari membuatkan susu untuk Kana. Inilah Kari yang pandai mengatur ekspresi agar tidak menyakiti orang yang dicintai. Setelah semua selesai dengan satu piring buah yang telah Kari kupas, apel dan melon yang kari letakan di atas piring. Kian Kari melangkah berjalan kembali menuju kamar dengan ekspresi wajah setenang mungkin.
"Minum dulu susunya ya,"Dengan hati-hati Kari membantu Kana bersandar dan dengan telaten membantu Kana minum susu bumilnya.
" Udah... nggak mau." Tolak Kana dengan tangan menutup mulut dan mengelegkan kepala.
Kari tersenyum dengan meletakan gelas yang masih berisikan setengah air susu itu diatas nakas, "Kamu tau tidak?"
"A-apa?"
"Tidak ada seseorang di dunia ini yang suka jika sakit menimpanya. Namun orang yang egois tidak akan istirahat jika sang pencipta tidak memberikan sakit padanya. Begitu juga degan makan, banyak orang yang mengabaikan makan dan menganggap tidaklah penting, sehingga sang pencipta memberikan sebuah rasa sakit agar dia sadar bahwa makan tepat waktu itu wajib diantara kegiatannya yang lain. Dia memberikan hambanya sebuah penyakit agar dia bisa mengistirahatkan tubuh dan merenung atas kesalahan yang dia perbuat bahwa tubuh itu penting untuk diperhatikan dan diberikan kasih sayang lebih." Jelas Kari degan tangan terus menyuapi Kana dengan beberapa potong buah yang telah dia bawa, hingga buah itu telah habis.
"K-kamu... Menyindir saya?"
"Tidak, saya hanya bicara. Tapi kalau kamu kerasa yaa... " Kari tak meneruskan ucapannya dia kembali kedapur untuk menyuci piring buah dan garpu yang telah Kari gunakan untuk menyuapi Kana.
Setelah beberapa menit Kari kembali dan langsung merebahkan diri di samping tubuh Kana "Sekarang tidur kasian baby udah ngantuk didalam," Ujar Kari dengan posisi memeluk Kana dan menempelkan dahinya pada dahi Kana, merasakan betapa panasnya tubuh Kana.
"Nanti kamu ikut sakit juga,"
"Jika saya bisa memilih saya ingin saya saja yang sakit dibanding kalian berdua. Biarkan seperti ini kita tidur sekarang, sudah malam nggak baik bergadang bagi kesehatan ibu hamil."