
Dalam keadaan kacau, bibir kering dan mata sembab. Kari tak nampak seperti seorang dokter, terlebih posisinya saat ini yang sedang menunggu Zino, Reza, ataupun Mufi yang tak kunjung keluar membuat pikiran Karo tersabotase dengan hal negatif.
Suara teriakan dari kamar sebelah Kana mengalihkan lamunan pandangan kosong mata Kari, tampak seorang ibu tua tergesa-gesa keluar dari kamar rawat itu dan berlari ke depan menuju bagian ruang jaga yang ada di samping pintu masuk ruang Vip.
Kari memberanikan diri masuk kedalam ruangan itu dan nampaklah seorang remaja kisaran usia 19tahun dengan perut besar menahan dirinya sendiri dengan bertumpu pada tembok yang ada di samping kamar mandi.
Kari mengingatnya, dia adalah perempuan yang dulu memeriksakan diri tanpa ada yang menemani, saat melangsungkan pemeriksaan padanya dengan pakaian sma untuk pertama kali saat dia ingin mengetahui jika dia hamil atau tidak, dia adalah remaja sma itu.
"Hai, are you okay?" Tanya kari pada remaja yang terlihat kacau dengan pandangan mata kebawah.
"Dokter..."
"Iyaa, apa ada yang sakit?"
"Perut saya sakit sekali,"
"Kamu jatuh didalam kamar mandi?" Tanya Kari dengan tangan memapah dia menuju ranjang pasien dan Kari merasakan jika baju yang gadis ini kenakan terasa basah ditangannya.
"Iya, tadi tergelincir saat ingin buang air kecil."
"Baik, kalau begitu pelan-pelan aja oke." Dengan perlahan Kari membantu gadis ini naik keatas ranjang, dengan tangan Kari juga terulur untuk membenarkan bantal yang akan dia tiduri.
"Aw shh... Dokter tolong, perut saya terasa sakit sekali."
"Saya paham, maaf ya... " Kari menghela nafas pelan sebelum menyentuh perut gadis ini dengan menekan beberapa sisi atas bagian kanan dan kiri, lalu samping dan juga bawah. Gadis ini sedikit mengeram dan meringis kala Kari menekan perut bagian bawahnya dan nampak jika bayi yang ada didalam perut itu merespon apa yang Kari lakukan dengan sedikit tendangan dan gerakan dari dalam yang Kari rasakan dari pergerakan perut gadis ini yang masih terbalut baju.
"Aww shh... Dok,"
"Sakit?"
"Iya rasanya ngilu tapi juga sakit,"
"Maaf ya, tadi saya cek posisi dan pergerakan bayinya. Ini kepala dedek udah turun dibawah banget. Kamu bisa rasain?"
"Iya dok, dia menekan kebawah terus dari tadi."
"Hmm, tadi siapa yang periksa?"
"Bidan gina dok,"
"Dia periksa kamu terakhir udah pembukaan berapa?"
"Kata bu gina tadi pembukaan 7,"
"Sampai sekarang belum dicek lagi?"
"Belum,"
"Yasudah biar saya yang cek, maaf ya."
"Nggak boleh dok. Periksa pembukaan itu sakit,"
Kari tersenyum kecut dihadapan sang pasien, "Saya tau itu akan terasa sakit dan tidak nyaman bagi kamu saat dua jari saya masuk kedalam, tapi hal itu penting untuk memantau dedek bayi sudah siap keluar atau belum." Kari mendudukkan diri di samping bed yang gadis ini tiduri dengan tangan mengelus perut besar yang terasa keras dan menegang. "Kalau saya yang periksa nggak sakit kok, hanya sedikit ngilu."
"Bener dok?"
"Iya benar, saya cek pembukaannya yaa?"
"Iya dok,"
Setelah mendapat persetujuan dari sang pasien kari bergegas turun dari bed lalu memakai sarung tangan medis yang ada diatas nakas samping tempat tidur pasien dan tak lupa juga jika Kari mengoleskan gel pada jari telunjuk dan tengahnya.
Dari luar pintu datang seorang bidan dan satu perawat memasuki ruangan. Kari memandang mereka berdua dengan tatapan tajam bak elang. "Bawakan alat deteksi detak jantung janin kemari,"
"Baik dok," Jawab mereka dan langsung bergegas pergi baik sang perawat ataupun bidan gina. "Ck... Benar-benar, apakah untuk mengambil alat itu tidak cukup satu orang saja." Cibir kari pelan, bahkan hanya Kari sendirilah yang bisa mendengar.
"Ibu bisa minta tolong untuk selimutnya bisa digelar menutup bagian bawah anaknya, lalu adek bisa ditekuk lututnya dengan dibuka lebar dan ibu untuk bagian bawah selimutnya bisa digulung keatas agar memudahkan saya untuk mengecek pembukaan." Jelas Kari dengan mendudukkan diri kembali di samping bed pasien dengan tangan kanan mengarah kebawah dan tangan kiri dia arahkan keatas.
"Kalau sakit, boleh cakar tangan saya. Maaf ya,"
"Hmm iya dok," Jawabnya dengan kedua tangan meraih tangan kiri Kari lalu memegang dan menekannya sedikit kuat.
"Sakit nggak dok,"
"Nggak, pecahin ketuban itu nggak sakit. Cuma di toel dikit langsung pecah iya nggak bu?" Canda Kari dengan mengedipkan mata pada sang ibu dari anak ini.
"Iya, dok."
Tak lama dari itu datanglah perawat tadi dengan bidan gina menghampiri Kari yang ada diantara mereka. "Ini dok alatnya,"
"Kenapa kamu serahkan pada saya?" Tatapan teduh Kari langsung berubah dalam sekejap mata, kala melihat sang perawat menyerahkan alat itu padanya. "Kamu cek itu detak jantung bayinya," Perintah Kari dengan tangan melepas sarung tangan medis yang tecetak sedikit darah disana.
"Dia pembukaannya sudah lengkap, tinggal pecahin ketubannya."
"Baik dok, terimakasih."
"Hmm," Jawab kari dengan berjalan kedalam kamar mandi yang ada didalam ruang ini untuk menyuci pergelangan tangannya.
Kari tidak akan sanggup untuk menangani persalinan dalam keadaan pikiran yang kacau saat ini. Banyak hal yang dia sesali hari ini. Kari bisa membantu orang lain dengan tenang dan profesional tapi jika Kana dia tidaklah sanggup. Segala pengetahuan, pemahaman dan kemahirannya seakan sirna kala melihat Kana terluka.
"Hufh... Saya harap anak kita juga baik-baik saja," Monolog Kari didepan cermin kamar mandi.
"IBU JANGAN TERIAK-TERIAK NANTI TENAGANYA CEPAT HABIS!" Bentak seorang perawat yang Kari lihat bahwa dia adalah anak magang.
"Kamu kenapa juga ikut teriak?" Kari memandang calon perawat itu dengan tatapan mata tajam dengan postur tubuh tegap. Dan apa-apaan ini dimana bidan gina tadi kenapa hanya ada perawat magang ini dan satu perawat yang Kari suruh untuk memeriksa detak jantung tadi.
"Dia sedang kesakitan, kenapa kamu bentak?"
"Apa yang terjadi?" Tanya Kari namun tak ada satupun dari mereka yang menjawab pertanyaannya. Mereka hanya diam membisu tanpa suara,
"Tolong sakit dok... " Air mata mengalir dengan wajah memerah itu cukup membuat Kari iba hingga menggoyahkan hati mungilnya, sehingga mau tak mau kari harus memasang sarung tangan kembali, bukan satu tangan seperti tadi, namun dua tangan Kari telah terpasang sarung tangan kali ini.
"Ibu tenang ya... saya yang akan turun tangan langsung untuk membantu ibu sampai akhir."
Tak lama datanglah bidan Gina dengan membawa stik untuk memecahkan ketuban dan di ikuti dengan satu perawat lagi dibelakangnya dengan membawa peralatan yang didorong olehnya.
"Tenang ya bu, nggak usah tegang, nggak usah takut. Ada saya yang membantu ibu." Ucap Kari menenangkan sang ibu dengan tangan berusaha memecahkan ketuban dengan amnihook yang sudah bidan gina buka dan berikan pada Kari. "Air ketubannya bagus ini, jernih nggak keruh. Gimana mulesnya semakin intens? Mau mengejan? Yaudah silahkan tapi pantatnya jagan diangkat, pelan-pelan aja santai oke..."
"Bagus... Tenang aja nggak udah terburu-buru oke. Ohh iya namanya siapa?"
"Aahh shhh, Emi dok. Hufh..." Dengan nafas tersengkal Emi menjawab dengan susah payah.
"Semangat Emi, kamu bisa oke."
Detik ke menit kian berlalu, hampir satu jam Emi mengejan namun sang bayi tidak kunjung menunjukan kemajuan. Helaan nafas berat dengan butiran keringat juga tercetak jelas pada dahi Kari, bukan hanya Emi saja, namun Kari juga merasakan ketakutan.
"Ahhh sakittt ughhhh, saya nggak kuat dok."
"Tidak, kamu kuat oke. Apakah ayah dari bayi ini ada disini?"
"Ada dok," Jawab ibu Emi yang juga merasakan ketakutan serupa.
"Segera panggil dia kemari," Pinta Kari yang langsung dilaksanakan oleh sang ibu dengan keluar rumahan dan sedikit berlari.
"Capek?"
Sungguh Emi tak sanggup lagi untuk menjawabnya, ia hanya bisa memanggukan kepala sebagai jawaban. "Istirahat dulu, kalau dia mendorong kamu tiup nafas kamu pelan-pelan melalui mulut, oke."
Telfon Kari berdering memecah keheningan dan keterangan diantara mereka, "Sus boleh minta tolong," Pinta kari pada sang suter untuk melihatkan layar handphone yang kari letakan di atas nakas.
"Dokter Reza dok,"
"Angkat, suruh dia datang keruang sebelah Kana."
Tak lama dari itu datanglah seorang lelaki dengan sneli dokter dan stetoskop masih terkalung di lehernya. Kedatangannya cukup membuat Kari terkejut, terlebih dia langsung menghamburkan diri dengan memeluk Emi dan menciumnya.
"Maaf. Tolong berjuang untuk anak kita, saya akan menikahi kamu setelah bayi ini lahir. Dedek cepat keluar bantu bunda ya. Ayah udah disini, anak baik keluar yuk." Ucap orang tersebut dengan tangan mengusap perut Emi.
"Nata, kamu?" Tanya Kari kebingungan dengan apa yang terjadi. Dia adalah dokter Nata yang beberapa jam lalu ingin membuat pertemuan untuk pembahasan, tapi Kari tolak dan konon katanya Nata pernah berkeinginan untuk menikahi Kana dan katanya juga Nata mencintai Kana sejak masa SMA, dan sekarang, apa hubungan Nata dengan remaja ini.