
Sering sekali emosi menjalar dalam diri manusia, hingga membuat mata ini buta dalam melihat penderitaan yang orang lain rasakan.
Konon para orang tua yang sudah berpengalaman, kerap sekali mengatakan jika permasalahan yang timbul dalam rumah tangga adalah bumbu dari sebuah cobaan keharmonisan. Namun sayang, tidak sedikit penceraian terjadi karena percikan bumbu tersebut, entah takarannya yang kebanyakan ataupun kekurangan.
Halnya setelah Kari meninggalkan Kana seorang diri dan melupakan tutur kata yang sudah dia lontarkan pagi tadi. Bahkan, hingga detik ini Kari tak kunjung kembali. Padahal jam dinding sudah menunjukkan pukul 09.30 dan Kari tak kunjung datang menemui semenjak insiden pagi tadi.
"Hai, maaf menunggu lama. Saya kembali sesuai perkataan saya tadi." Musnah sudah keinginan Kana berharap Kari datang menemui dirinya.
"Apa tangannya masih terasa sakit?" Tanya Nata Cakrawala, yang tak lain seorang adik kelas Kana semasa putih abu-abu, yang kini telah menjadi seorang dokter spesialis THT (telinga, hidung dan tenggorokan).
Dilain sisi Kari berhasil menyelamatkan seseorang ibu sekaligus anak yang terkandung didalamnya, walau belum memasuki hari perkiraan lahir namun karena insiden kecelakaan dini hari membawa sang baby kedunia sebelum waktunya tiba.
Yaa, pagi tadi setelah Kari mendapat telfon dari rekan sejawatnya, Kari langsung berusaha sekuat tenaga untuk segera sampai rumah sakit sebelum nyawa salah satu dari mereka menjadi taruhannya.
"Selamat bro lo berhasil lagi," Puji Devin selaku dokter bedah yang ikut serta menangani pasien itu.
"Thanks, itu juga berkat usaha lo bro."
"Gue cuma bantu sayat doang, selebihnya lo yang pimpin."
Canda gurau antara Kari dan Devin terhenti kala melihat Mufi duduk tenang tanpa ekspresi menatap mereka berdua yang baru saja memasuki ruang santai dan istirahat para dokter.
Tujuan Kari memasuki ruang ini untuk mengambil tas kerja yang berisi berkas pasien sekaligus barang berharga Kari.
"Lo nggak praktik bro?"
"Nggak, gue shift siang."
"Tumben lo udah sampai rs, jam segini. Biasannya lo sampai rs jam dua belas lebih. Bahkan jam satu kurang lima puluh, sepuluh menit sebelum lo praktik." Jawab Devin sambari mendudukkan diri pada sofa tepat di samping Mufi.
Mufi hanya menatap Devin sekilas dengan ekor matanya. "Mau kemana kamu?"
"Ruang praktik, untuk istirahat sebentar sebelum pergantian shift siang." Jawab Kari sembari melangkah menuju pintu keluar.
"Akhir-akhir ini kita sudah lama tidak saling berbincang, yaa."
Kari mengurungkan tangannya saat akan membuka kenop pintu, lalu melangkah menghampiri Mufi dan ia mendudukkan diri pada Sofa didepan Mufi dan Devin.
"Tau kesalahannya, dimana?"
Kari mengerutkan dahi, kebingungan dengan kalimat yang Mufi katakan karena dia tidak paham maksud dari ucapan Mufi. "Kesalahan?"
"Ck... Pagi tadi kamu berangkat satu mobil dengan siapa?"
Kari berfikir sejenak untuk mengingat kembali memori pagi tadi, "Kana... astaga, gue bawa Kana yang sedang sakit tadi pagi."
"Sekarang dimana dia?"
"Kana dimana? Saya lupa kak, akan saya tanyakan pada bagian resepsionis. Maaf kak, saya melakukan kesalahan dengan meninggalkan Kana sendirian." Kari berdiri dan bergegas melangkah pergi dari ruang ini untuk mencari keberadaan Kana.
Tanpa menjawab perkataan Mufi, Kari langsung bergegas pergi menuju ruang yang Mufi lontarkan.
"Gue ikut bro... " Davin dan Muri bergegas pergi menuju ruang Vip hingga ditengah jalan ruang vip mereka bertemu dengan Zino.
"Apa ada suatu hal yang membawa kalian terburu-buru keruang vip ini?" Tanya Zino yang diikuti oleh tiga perawat jaga ruang VIP dibelakang dirinya, karena Zino sedang melakukan pemeriksaan pasien diseluruh ruang ini, tak banyak hanya 6 ruang yang terisi pasien saat ini dan keberadaan mereka semua tepat didepan pintu ruang nomer 6 pasien terakhir Zino.
Huek... Huek... Huek... Suara muntahan dari dalam mendorong diri Kari untuk menerobos masuk dengan mengalihkan Zino yang berdiri tepat didepan pintu hingga menutup akses Kari masuk kedalam.
Diam membeku mematung, itulah keadaan Kari saat ini, kala melihat Kana dibantu oleh seorang dokter muda dengan sneli masih terbalut ditubuhnya.
"Selamat siang dok dan selamat siang kak Mufi." Dengan senyum manis terukir bak lukisan mahal pada wajah putih nan bersih itu, Nata menyapa mereka semua yang baru saja masuk dalam ruang Kana, dengan tangan kiri Nata memegang ember dan tangan kanan memegang rambut Kana.
Huek... Huek.. Huek... Kana terus memuntahkan seluruh isi yang ada didalam perutnya, namun hanya cairan bening dan sedikit nasi yang keluar. Karena kana belum memakan apapun sejak pagi tadi dan hanya memakan beberapa suap nasi rumah sakit yang Nata sodorkan pada dirinya tadi.
"Sudah?" Tanya Nata yang dijawab anggukan kepala oleh Kana. Nata meletakan ember tersebut pada jubin lalu mendorongnya masuk dalam kolong tidur Kana, untuk nanti Nata buang dan Nata bersihkan dalam kamar mandi setelah mereka semua pergi. Nata membantu Kana untuk berbaring kembali dengan nyaman.
"Sejauh ini sejak pagi tadi dia sudah muntah tiga kali, dengan panas yang tinggi, kepala pusing, mual dan mengeluh jika perutnya tidak nyaman sejak tadi." Jelas Nata dengan pandangan mata menatap Zino yang ada diantara jajaran dokter hebat yang berdiri di hadapan brankar Kana.
"Kenapa dokter Nata yang menjaga dia disini?"
"Karena sampai sekarang keluarga dari Kana tak kunjung datang dan juga suami Kana yang sedang bekerja keluar kota, jadi saya memutuskan untuk disini menemani dan membantu Kana. Terlebih dalam kondisi Kana yang sedang hamil saat ini." Jawab Nata atas pertanyaan yang Devin lontarkan.
"Apa maksud dari suami Kana bekerja diluar kota?" Devin menahan tawa kala melihat Kari yang terkejut bukan main di samping dirinya.
"Iya dok, kata Kana suaminya langsung pergi pagi tadi setelah menurunkan dirinya pada tempat parkir umum, sampai Kana kebingungan berjalan hingga tempat parkir khusus dokter."
"Jahat ya suaminya?" Lanjut Devin.
"Iya dok, meninggalkan istrinya yang sedang mengandung anak dia dalam keadaan tubuh tidak fit lalu ditinggalkan begitu saja setelah sampai rumah sakit dan untung saja ada saya yang baru sampai pagi tadi."
"Terus kamu yang membantu Kana tadi pagi, padahal saya tau kamu ada pertemuan Nata dengan seseorang dan sekarang harusnya kamu ada diruang operasi, tapi kenapa kamu disini dan maaf tadi saya juga melihat waktu meletakan data rujukan pasien saya di ruang kamu, diatas meja ruang kerja banyak berkas yang belum kamu pelajari."
Nata menarik kedua sudut bibirnya, "Saya membantu Kana pagi tadi karena rasa sayang ini mendorong saya kak. Pertemuan saya dengan keluarga pasien bisa saya undur sampai siang nanti. Sedangkan penanganan untuk tubuh Kana yang sedang demam tinggi dalam keadaan hamil tidak bisa saya tunda, lagi. Kana masih sama ya kak mufi, sampai sekarang dia masih takut jarum suntik. Sehingga saya tidak tega melihat dia menangis pagi tadi setelah dua tusukan tangan kiri tidak bisa memasukan jarum infus pada tangan Kana, hingga saya sendiri yang mencoba secara perlahan pada tangan Kanan Kana dan untungnya bisa masuk dengan tepat jarum infus tersebut."
"Kamu masih cinta dengan Kana, Nata?" Tanya Mufi dengan senyum remeh merekalah.
"Kalau boleh jujur, perasaan saya pada Kana masih sama kak." Tangan Nata terulur mengusap perbatasan rambut dan dahi Kana. Sedangkan Kana memilih memejamkan mata, dengan wajah memerah menahan tawa.
"Dia sudah bersuami kamu masih mau sama dia Nata?"
"Kalau kananya mau sama saya dan dia tidak bahagia dalam pernikahannya. Saya mau kak,"
Gelak tawa menggelegar dari Zino, Mufi dan Devin langsung memenuhi ruang rawat Kana. Namun tidak dangan Kari dengan wajah masam dan sebal miliknya.
"Definisi kutunggu jandamu ya dok?" Goda Devin memecah kembali gelak tawa diantara mereka.
"Ck... Pergi kalian semua!!!" Dengan sebal Kari melangkah menghampiri Kana dan menyisihkan telapak tangan Nata yang tergeletak pada dahi Kana, lalu setelahnya Kari mendaratkan kecupan hangat pada dahi itu yang sudah tidak terhalang oleh tangan Nata dan dengan sigap Kari mengantikan telapak tangan Nata tadi agar tidak Nata sentuh kembali, kini tangan Karilah yang ada disana merasakan betapa panasnya tubuh Kana.