OHH, No!!!

OHH, No!!!
34. Mode Ngambek



Jam makan sore telah berakhir dan Kari hingga detik sore ini belum mengabari ataupun menjenguk Kana sama sekali.


"Huek... Jagan berulah kamu ya. Ayah itu sibuk, jadi nggak ada waktu untuk menyuapi kamu, paham? Bunda lapar kalau kamu nggak selera dengan menu ini terserah, bunda lapar intinya." Hardik Kana saat merasakan perutnya yang bergejolak mual secara tiba-tiba saat dia akan memasukan makanan rumah sakit pada mulutnya.


Suap demi suap dengan rasa berat paksaan dan tekanan masuk pada perut Kana, hingga suapan ke sepuluh Kana tak sanggup lagi untuk melanjutkannya. "Huek... Huek... udah adek, tolong jagan bertingkah ya nak udah ketelan makanannya ini." Namun selanjutnya, dengan terburu-buru Kana masuk ke dalam kamar mandi untuk memuntahkan isi perut yang baru saja dia telan.


"Jagan gini bisa nggak si adek, bunda itu capek, lelah, dan lemas kalau adek gini terus. Bunda capek adek, hihh..." Ujar Kana dengan air mata kian mengalir. "Bunda nggak sanggup kalau adek seperti ini, bunda capek adek."


Suara tangis yang amat menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Tangisan sebagai pengungkapan perasaan dan keadaan yang tak mampu Kana jelaskan, tentang dia yang belum siap membentuk bahtera rumah tangga, tentang dia yang belum siap mengandung ataupun membesarkan sang buah hati yang hadir dalam kandungannya, dan tentang dia seorang anak pertama dalam keluarga. Beban pikiran yang menumpuk tentang keadaan yang tidak bisa Kana ucapkan dan tentang dirinya sendiri yang tidak bisa Kana jelaskan.


"Hufh... Adek maafin bunda. Tolong, bantu bunda ya jagan seperti ini, tolong kerja samanya. Disini bunda juga berjuang, kita sama-sama berjuang, jadi tolong kerja samanya demi kebaikan kita berdua ya adek. Bunda sebenernya belum siap mengandung, tapi adek keburu datang tanpa salam ataupun permisi, jadi mau nggak mau bunda harus bisa menerima adek. Jadi tolong ya adek, bunda sangat-sangat berharap adek ngertiin bunda juga. Jadi Adek, saat ini bunda itu capek..." Wajah yang menunduk dengan isak tangis itu sebagai tanda menyerahnya Kana dengan keadaan dirinya, sungguh dia butuh Mufi saat ini sebagai penenang dan penyembuh dirinya.


"Aaa," Kana terperanjat kaget dengan berusaha menepis tangan yang melingkar di atas perutnya secara tiba-tiba.


"Shutt diam, biarkan seperti ini sebentar saja." Potong orang tersebut saat merasakan berontakan diri Kana, sebelum dia mengucapkan sebuah kata. "Saya minta maaf untuk segalanya.... Maaf kalau kamu merasa kurang bahagia dengan saya, maaf karena telah menghancurkan hidup kamu, maaf telah mendatangkan dia dalam perut kamu dan saya minta maa-"


"Kamu apa-apaan si. Saya nggak marah dengan adanya dia dalam perut saya, cuma saya belum siap hanya itu saja, bukan berarti saya nggak menerima kehadiran dia." Potong Kana kesal dengan Kari yang seakan menyudutkan dirinya yang tidak bisa menerima kehadiran sang anak yang sedang tumbuh di dalam perutnya. "Saya menerima dia, saya bersyukur dengan hadirnya dia dalam perut saya dan mengubah segalanya dalam diri saya, baik sudut pandang pikiran dan pemahaman saya tentang dunia pernikahan yang harus saling memahami dan mengerti."


"Sayang maaf,"


"Lupakan."


"Saya akan berusaha sebisa mungkin untuk ada di saat jam-jam makan kamu, maaf tadi banyak pasien."


"Nggak apa-apa. Kamu nggak datang juga nggak apa-apa, saya bisa mengatasinya, kalau dia nggak mau makan maka saya akan paksa dia untuk makan, mau nggak mau dia harus bisa makan tanpa kamu, agar dia terbiasa nantinya."


Kari meringis mendengar jawaban Kana. Sungguh hatinya benar-benar teriris dengan kata-kata yang Kana lontarkan pada dirinya, seakan dia tidaklah berguna dalam hidup Kana.


"Sayang kamu nggak boleh gitu sama adek,"


"Orang kamu nya aja sibuk, saya harus gimana. Sedangkan dia lagi ada di fase anak ayah banget, nggak mau makan nasi atau minum susu kalau nggak dari tangan kamu." Kana kesal, sungguh sangat-sangat kesal dengan Kari yang tidak bisa mengerti dirinya. "Shh... Ini lihat nih, anak ayah banget, dikit-dikit perut saya nyeri kalau saya marahin kamu, dikit-dikit mual kalau nggak kamu suapin. Udahlah dek pindah ke perut ayah aja sana, jagan di perut bunda." Ujar Kana kesal dengan mengelus perutnya yang terasa nyeri.


"Aaa gemasnya istri saya, sini saya peluk dulu." Dua badan yang saling bersentuhan antar keduanya, sebuah pelukan yang begitu dalam hingga mendatangkan kedamaian, kekuatan dan ketenangan untuk kedua insan yang berbeda. "Maafin saya ya, tadi banyak pasien. Jadi nggak sempat waktu siang tadi untuk jenguk dan memastikan keadaan kamu. Dari tadi belum makan ya, terus ini makanan yang sudah ditelan keluar semua?"


"Iyah," Kana menjawab dengan menyembunyikan ekspresi wajah pada dada bidang Kari hingga isak tangis membasahi pakaian yang Kari kenakan.


"Saya bawa brownis yang sudah saya pesan dengan beberapa perlengkapan bayi, itu saya letakan di meja dan adek sekarang sudah ada ayah di sini jadi adek harus makan yang banyak ya," Kari mengelus perut permukaan Kana yang masih terbalut baju. Lalu setelahnya Kari menarik tangan kanan Kana untuk keluar, "Kenapa?"


Pandangan mata sendu nan lelah itu menatap Kari dengan tenang, "Gendong,"


Dahi kari mengkerut bingung dengan apa yang Mana maksudkan, "Gendong?"


"Yaudah kalau nggak mau, saya bisa jalan sendiri..." Potong Kana karena tak kunjung Kari jawab, memang perempuan itu sulit sekali di tebak. Halnya dengan Kari yang belum paham apa maksud Kana sedangkan Kana sudah melenggang pergi melewati Kari yang ada di depannya begitu saja.


"Hai tunggu," Sebelum Kana sampai pada brankar pasien, Kari lebih dulu mengangkat tubuh Kana di depan dirinya dengan kedua tangan, lalu membaringkan tubuh Kana dengan perlahan.


"Kamu jagan bersandar dulu, posisi tidur lagi."


"Kenapa sih?" Protes Kana kesal, namun tetap menjalankan apa yang Kari perintahkan.



"Nyaman nggak perutnya?" Tanya Kari dengan menepuk pelan perut Kana, yang di jawab gelengan kepala oleh Kana. "Ini perutnya kembung kan?"


"Ya nggak tau, orang kamu yang periksa kenapa tanya saya?"


"Ck... Kan kamu yang merasakan,"


"Iya tapi saya nggak paham dengan apa yang saya rasakan, hanya saja rasanya kurang nyaman dan sedikit gerah."


"Iya, satu kaleng doang tadi." Jawab Kana dengan senyum tanpa dosa di hadapan sang suami tercinta, sedangkan Kari langsung memekikkan kedua bola mata.


"Tapi kamu belum makan dan saya sudah belikan kamu es krim, kenapa minum-minuman bersoda?"


"Kenapa si memangnya, apa itu berbahaya?" Decak Kana kesal dengan Kari yang memarahi dirinya.


"Ya berbahaya, perut kamu jadi kembung gini efeknya." Kari sangat-sangat menyayangkan tindakan Kana kali ini.


"Kamu nggak bisa dong nyalahin saya sepenuhnya, itu juga salah kamu. Udah tau istrinya nggak boleh minum kenapa di beli?"


"Kan itu buat saya, bukan buat kamu."


"Tapi kulkas itu milik bersama, begitu juga dengan isi yang ada di dalamnya. Kalau saya nggak boleh minum maka kamu jagan beli atau kalau kamu mau beli minumnya di luar jagan sampai saya lihat. Kamu kira saya nggak ingin apa?"


"Ingin apa?"


"Ya ingin minuman bersoda juga, kamu pikir saya nggak tergoda dengan minuman bersoda kamu."


Kari tercengang dia sadar akan kesalahannya sekarang. Kana tak sepenuhnya salah, namun dirinyalah yang salah dengan meletakan minuman bersoda di sana, terlebih bumil satu ini kalau di suruh minum susu dan air putih susah, tapi kalau minuman bersoda habis langsung satu botol. Makan nasi yang rasanya manis nggak mau, tapi kalau makan-makanan pedas bisa habis tanpa ada drama mual-mual segala. Bisa stres Kari kalau seperti Ini, "Maaf ya atas kecerobohan saya."


"Nggak saya maafin kamu jahat udah marah-marah,"


Kalau sudah mulai mode ngambeknya, Kari tak sanggup lagi untuk menyanggah. Jadi lebih baik untuk mengalah.


"Kamu mau apa, biar saya di maafin."


Kana berfikir keras apa yang dia inginkan saat ini, sedangkan Kari nampak memandang Kana sedikit ngeri karena ekspresi wajah Kana memperlihatkan senyum lebar, sangat lebar hingga deretan gigi putih Kana kelihatan semuanya.


"Jagan aneh-aneh Kana,"


Kana hanya mampu nyengir kuda dengan gigi ratanya, "Nggak aneh kok, cuma itu mangga depan RS enak ya?"


"Mangga depan RS?" Kari mengingat-ingat apakah ada pohon mangga di depan rumah sakit. "Ohh, mangga itu. Kenapa?"


"Kayaknya enak ya, kalau di makan sore ini." Kode Kana dengan menarik turunkan alisnya di iringi dengan bola mata yang berbinar.


"Kamu mau?"


"Iya," Jawab Kana sangat antusias, karena Kari peka dengan apa yang dia inginkan.


"Yaudah nanti saya belikan."


Bubar sudah ekspresi Kana dari yang awalnya sangat senang kini berubah datar, "Saya maunya mangga itu, di petik langsung dari pohonnya."


Sedangkan Kari sadari tadi menahan ekspresi untuk tidak tersenyum ataupun tertawa dengan ekspresi wajah Kana yang mengemaskan di matanya, stay cool. "Kamu mau mangga itu, yasudah nanti saya minta satpam depan untuk mengambilkan manga itu buat kamu."


"Ck... Saya maunya kamu yang ambil,"


"Saya nggak bisa panjat pohon Kana. Pak satpam aja ya, yang mengambilkan."


"Yaudahsih wir, saya mau selingkuh sama pak satpamnya aja kalau gitu." Kana membalikan tubuh kesal, karena Kari tak kunjung peka dengan apa yang Kana inginkan.


"Astaga mulutnya nakal banget, ck.. Iya nanti saya ambilkan sekarang makan dulu."


Senyum merekah tercetak jelas pada wajah Kana dan dengan antusias yang luar biasa Kana memakan suap demi suap brownis coklat yang Kari sodorkan pada dirinya.